Kamis, 04 Februari 2010

Me in Your Mind


Aku akan menjadi apa yang kalian pikirkan. Lihatlah aku secara negative thinking, kau akan mendapatiku seperti itu saja. Aku wanita keras yang hanya punya mimpi, itulah aku. Aku jelek? Hehe..ya begitulah Allah menciptakanku.. aku hanya seorang yang beruntung? Amin.. aku tukang berkata-kata…Ahay!! Aku harap ada yang berguna buatmu. Aku sahabatmu?? Maka kaulah sahabatku. Aku cintamu? Sungguh…kau telah menyanjungku.. dan mungkin akan ada yang beruntung kubalas setulus hatiku. (PeDe Amattt Fa…: :D). Aku musuhmu? Kau hanya tak mengenalku.

Kau kenallah aku…akan aku jadikan aku lebih baik dari yang kau pikirkan. Tak akan mudah, tapi aku akan berusaha terus. Aku bukanlah malaikat. Aku mungkin akan marah saat aku terusik. Aku akan diam kalau kau terlalu banyak bicara. Aku akan bicara kalau kau perlu mendengarnya. Lalu..aku sadar.. aku ingin menjadi apa yang aku inginkan. Dan apa yang aku inginkan adalah apa yang kalian terbaik harapkan dariku. Aku bagian dari alam. Kalianlah alam sekitarku.

Pahami aku saat aku kesal. Hapus air mataku saat aku menangis. Acuhkan aku kalau aku terlalu bising. Beri aku penjelasan saat aku bingung. Lari bersamaku saat aku menemukan kebahagiaan. Enyahkan aku saat aku membuatmu menderita. Tapi jangan diamkan aku. Karena aku..juga sepertimu.


So… Who is me in your mind???

NB: Aku yang lagi narcis..ini... hahaha..

ditulis kapan ini yach?? lupa aku...lumayan...bisa buat isi blog saat ide macet. Semoga lelahku segera berkhir..

Minggu, 24 Januari 2010

Sang Ayah

Di tengah kota..disebuah rumah sederhana dan bercat pucat. Disaksikan sebuah photo yang tergantung di dinding lambang sebuah kebanggaan. Seorang yang tinggi besar dengan kewibawaan yang sempurna yang dimiliki seorang prajurit serta seorang bapak setengah baya yang kurus kering dengan kerut di kening. Sebuah wajah yang syarat kekhawatiran yang berbicara dengan mata menerawang. Kontras sekali dengan sang prajurit yang semangatnya mengalahkan usia yang disandangnya.


“Kita susul ke tempat itu hari ini juga! Apa kau sudah tau alamatnya?”, “Sudah Pak..tapi apa jam segini tidak tutup?”. “Kalau perlu kita dobrak saja pintunya, sebelum semua terlambat!”. “Baik Pak!” jawab Karjo gugup.. “Gusti.. semoga ndak telat.” Batin Karjo. Pak Akbar segera memerintahkan supir pribadinya untuk bersiap-siap. Lalu keduanya bersama pak supir meluncur ke suatu alamat : PJTKI M. Sepanjang perjalanan Karjo seakan menerawang dengan tangan yang terlihat gemetar menggenggam alamat PJTKI itu. Sesekali dalam mata itu terlihat kilat kemarahan. Sedangkan Pak Akbar,dia hanya diam. Tak tahu apa yang ada dipikirkannya, atau mungkin dia memberikan waktu untuk Pak Karjo menyendiri.


Dua kali supir turun untuk menanyakan alamat yang dituju, akhirnya sampailah mereka. Matahari sudah malu-malu di sebelah barat, dan keadaan sudah menunjukkan bahwa kantor itu sudah tutup dari mungkin sekitar satu atau dua jam yang lalu. Pak Karjo hanya memandang pasrah pintu PJTKI itu, serta beralih menatap Pak Akbar yang tampak sedang membaca keadaan. Menit kemudian Pak Akbar dengan isyarat mengajak, menuju tetangga-tetangga sebelah kantor dan menanyakan tentang keberadaan yang empunya kantor. Mendengar jawaban-jawaban yang klasik, pak Akbar hanya tersenyum, berterima Kasih yang juga klasik kepada beberapa orang yang mereka tanyai, kemudian bergegas kembali ke kantor tersebut. Tanpa basa-basi dan tanpa peringatan dengan satu kaki didobraknya pintu kantor itu. Seperti tak punya kekuatan apapun, pintu itu langsung jebol dengan sekali tendang menimbulkan suara yang mengagetkan tetangga-tetangga sekitar. Segera beberapa warga mendatangi dan mulai timbul keributan kecil. Adu mulut dan emosi. Tapi Pak Akbar dengan kewibawaan yang menguasai, seakan sudah membaca situasi. Dengan tenang dan seakan balik mengintimidasi dia berkata “ Saya ingin bertemu dengan pemimpin kantor ini. Ada yang tahu dimana orangnya?”


Seorang ibu-ibu yang menggendong seorang balita mengatakan bahwa dia tahu dimana istri pemimpin kantor. Sang istri muncul ditemani seorang warga. Tampak gemetar karena takut, dan juga air mata yang tak dibendung.karena marah, “Bapak bisa saya tuntut karena telah membuat kerusuhan di kantor saya!” kata wanita itu marah tapi juga takut. Rupanya dia juga yang merangkap menjadi sekretaris pribadi suaminya di kantor itu. “Mana suamimu?!” kata pak Akbar tak gentar. “Iya! Kembalikan istri dan anak saya!” sahut pak Karjo kali ini tak kuat memendam amarah. Mukanya merah dan giginya gemeretak menahan emosi. Wanita paruh baya itu semakin nyiut nyali.. “Kami ini salah apa Pak? Bapak-bapak ini benar-benar bisa kami tuntut.” Wanita itu masih mencoba mempertahankan diri. “Silahkan! Tapi saya juga bisa menutup kantor itu! Kalian sudah memberangkatkan TKI illegal!!” gertak pak Akbar. “Bapak jangan menuduh macam-macam tanpa bukti! Kami selalu memberangkatkan TKI dengan resmi!” kali ini wanita ini penuh keyakinan. “Hallah..!! buktinya Istri dan anak saya berangkat juga tanpa ada tanda tangan saya! Pokoknya kembalikan mereka.” Sahut pak Karjo muntab. “Semua sudah sesuai Pak! Kami ndak mungkin memberangkatkan calon TKI tanpa ada ijin keluarga!” wanita itu tak kalah ngotot. “Buktinya! Saya ndak pernah tanda tangan apapun! Tapi istri dan anak saya tetap diberangkatkan!” Pak karjo semakin merah mukanya dan tangannya mengepal. “Sudah saya bilang..kami tidak akan memberangkatkan calon TKI kalau ada berkas yang kurang Pak!” jawab wanita itu mulai merasa menang. “ Anda ini bagaimana?! Kalian ini sangat ceroboh hingga tidak melakukan kroscek ke pihak keluarga. Kesalahan kalian ini sudah bisa diperkarakan ke hukum. Dan kemungkinan untuk saya untuk menutup usaha kalian ini sangat mudah. Mengingat kecerobohan yang kalian lakukan!” Pak Akbar kembali menggertak. Kali ini si wanita istri kantor PJTKI itu tampak kebingungan. “Kembalikan Istri dan Anak saya!” Pak Karjo mengintimidasi. “Gini aja buk..! kami kasih waktu 2 hari untuk mengembalikan istri dan anak Pak Karjo ini..laen itu kita tak bisa kompromi!”. “Kita bicarakan ini baik-baik Pak..Suami saya baru akan datang dari Jakarta besok siang. Setelah itu marilah kita diskusikan bagaimana baiknya” jawab wanita itu. “Baiklah! Ayo Karjo, kita kembali lagi besok.” Pak Akbar memberi komando. Karjo tampak belum puas dengan hasil yang didapat. Tapi dia sangat percaya atas pak Akbar. Lalu pulanglah mereka..dengan sedikit harapan…


Keesokan harinya.. dikantor PJTKI M yang masih rusak pintunya, empat orang tampak berbicara serius. Lama..sedikit argumen dan bumbu emosi mewarnai. Tapi kali ini keadaan lebih terkontrol.. hampir 2 Jam hingga akhinya yang terlihat adalah Pak Karjo tertunduk lesu.. Sudut-sudut matanya yang nanar mengeluarkan airmata. Kepedihan..gambaran kegagalan seorang suami dan ayah ada disana. Harus menerima kenyataan bahwa istri dan anaknya sudah berangkat 2 minggu yang lalu ke Malaysia. Pihak PJTKI minta maaf karena keteledoran mereka tidak melakukan kroscek ke pihak keluarga langsung karena waktu itu permintaan pengiriman calon TKI sungguh mendesak. Tapi dengan diyakinkan bahwa di Malaysia istri dan anaknya mendapat majikan yang baik, maka urusan dengan PJTKI berakhir dengan damai.



Suatu saat sebelum keberangkatan ke Malaysia


“Min..bagaimanapun aku harus berangkat. Aku sudah ndak betah hidup miskin begini” kata Narsiah kepada keponakannya yang pulang kampung dari merantau ke Malaysia. “ Baiklah..nanti saya Bantu keberangkatannya Mbak..yang pasti resmi” Kata Minarsih. “ Yuli juga ikut ya Buk? Yuli pengen Bantu-bantu Bapak sama Ibuk nyari uang..” kata anak Narsiah. “Hallah…ngapain pake bantu Bapakmu itu. Orang dia suka kok hidup miskin!” jawab Narsiah sekenanya. Yuli yang sudah tau tabiat Ibunya hanya diam saja..



2 tahun kemudian..


Terlihat seorang lelaki tua yang duduk di taman kota. Tampak menerawang dan sedang memikirkan sesuatu. Tampak sekilas dia memang stress memikirkan hidupnya. Dari awal aku datang ke taman ini, hingga sudah 2 jam..aku hanya mengamati dia duduk diam. Dialah pak Karjo..lelaki itu semakin kurus ceking. Matanya seakan menanggung beban hidup yang amat berat. Istri yang dulu dicintainya kini pergi meninggalkannya. Bahkan setelah pulang dari Malaysia, si istri Narsiah tak mau lagi kenal sama Karjo yang menjadi petugas keamanan di pasar burung. Sejenak setelah dua jam seakan dia hanya berbicara pada udara, tampak sedikit raut senyum diwajahnya. Ahh.. rupanya…dengan hati sedikit lapang dia bercerita padaku. “Aku boleh gagal sebagai lelaki yang dicintai nak. Tapi aku tak pernah gagal menjadi seorang Ayah. 2 bulan lagi anakku pulang dari Malaysia. Dan dia pulang untuk Bapak..untuk Bapaknya ini” katanya tersenyum padaku. Aku hanya bisa ikut tersenyum bersamanya, dan berkata “Iya Pak Karjo..Yuli tetap anakmu”.


The end..


Based on true story…




NB:

  • Akhrinya setelah pusing mencari nama tokoh, nama Akbar-lah yang terpilih sebagai pemran pembantu disini. Hahaha..ini nama belakan dosen pembimbing TA-ku dulu. Waks!waks! (maaf Pak..belum ada rejeki waktu main ke Ampel..InsyaAllah..sangat amat diusahakan).

  • Nama Karjo awalnya Karmin..tapi kok bisa berganti sendiri menjadi Karjo..aku tak mengerti kenapa.

  • Nama tempat, tokoh, hanya samaran..

  • Foto keponakanku Tuh!! Huhuy... Ada yang Mau? mau? mau?

  • Aku gak suka cerpen ini. Hmmm...apa karena aku gak bisa nulis gaya percakapan gini yach? Kayaknya mesti cari literatur yang laen selain komik. Hohoho... Herlequen boleh tuh....wkwkwkwk...



Sabtu, 16 Januari 2010

– A lonely Roads (2) – Liburan Part III

Hari kedua…

Acara penyambutan tahun baru yang selalu berlangsung lewat tengah malam (ya…pastinya), membuat kami (bohong..keknya aku doank! :D) bangun kesiangan. Rencana awal untuk meneruskan jadwal perjalanan selanjutnya jam setengah 6 malah molor.. akhirnya angka 6 kbalik jadi 9. ha..ha..ha… dan Aku bersama mbak Siwi juga dua teman yang lain..langsung bergegas menuju Pantai!!! Cihuyyy!!! ( I LOVE IT)


Waktu tempuh perjalanan kurang lebih 2.5 jam dari kota, dimana setengah jam diantaranya adalah waktu untuk sarapan..nasi jagung, ikan asin, urap-urap, telor ceplok..plus teh anget. Hhh..selera lidah gak bisa dibohongi biar tiap hari udah berganti sarapannya roti diolesi margarine doank. Tapi kalo ada makanan beginian, laksana pulang ke kampung halaman. Hehehe… perjalanan berangkat berlangsung lancar.. dengan pemandangan yang luar biasa. Tapi begitu sampai di tempat pembelian tiket.. Wuihh!!! Antri bukan main!!! Untung inisiatif turun dari motor dan nyungsep di kerumunan orang untuk beli tiket duluan dan nunggu di pintu portal. Jalannya juga nanjak banget…mesti pake gigi satu baik kendaraan roda dua maupun roda empat..meski gitu…tetep nasib naas…gara-gara ada mobil yang eror pas di depan motor kita (motor temen aku aja ding), kita jadi mundurr…hampir jatuh karena jalan bisa dibilang kemiringan sekitar 75 derajat (maaf..alat ukurnya lebay). Lalu…sampai lah kami di… Pasir putih…yang hangat.. Debur ombak..dan angina lautan..(hehe..Opie Andaresta).



SubhanAllah.. Engkaulah yang menciptakan langit dan bumi. Engkaulah yang Maha mengetahui rahasia Hati. Dan karena Engkaulah aku ada disini..ditempat yang dulu hanya sebuah mimpi ingin kukunjungi. Dan kini kupeluk ..kucium..kurasa…semua nyata. AKU DATAAAAAaaannngg!!!!


Hal pertama yang aku lakukan adalah :” Takjub luar biasa!!” bengong..dan tak henti dalam hati mengucap “Subhanallah WAllahu Akbar!” benar-benar ngerasa semua yang ada terasa kecil.. semua masalah gak ada artinya. Betapa rumit dan luar biasa indah ciptaan Allah.. benar-benar mata terbuka.. “semua sudah direncanakan “ kita tinggal mengikuti jalan Tuhan. Hi..hi..hi… lamaaaaa…sekali hanya duduk dan duduk.. ini kalau mau terus-terusan disini paling aku juga gak ada bosennya.



Terekam sebuah sudut di tempat itu, tak asing meski aku nggak pernah kesini sebelumnya. Pemandangan yang sama kayaknya. Ahh,…aku kesini buat seneng-seneng kok. Yang lalu..monggo..silahkan lewat..abis..sudah bosen bahasnya. Kalau aku masih melukis, kepengennya nglukis disini ya?? Mm…tapi karena sekarang senengnya nulis..jadi pengen diceritakan semua.

Pindah dari pantai yang ini, nyari tempat yang lebih sepi.. dan sampailah aku disini… Huhuhu…langsung pasang head set dan nyanyi sepuasnya. Biar jadi tontonan juga emang aku pikirin. Dari berbulan-bulan lalu emang pengen gila gak jelas gini kok.



Lama mengagumi sambil nungkring diatas pohon…akhirnya aku meluncur untuk mencelupkan kakiku ke air jernih..laut…mulai menyapa binatang-binatang yang luar biasa cuek berlalu lalang di depanku. Satu hal yang membuat mereka ketawa (mungkin ) adalah pertanyaan konyolku “Kenapa kalian bisa berenang, sedangkan aku tidak?” ha..ha..ha… Temen-temen Garry (Almarhum keongku yang kukubur cangkangnya di pantai ini),



Ada si landak laut (itu bukan teripang!!!),



Ada gurita.. (mmm..bener gak?),


ada banyak ikan badut yang tercebak di kubangan batu-batu karang (sayang gak bisa difoto karena gesit banget). Dan ada nama FP terukir di pantai itu… huhuhuhu…


Satu obsesi!! Bener-bener aku laksanakan. Teriak! Menyanyikan lantang sebuah lagu..disini! dan aku harap disetiap tempat yang aku kunjungi nanti. Lagunya apa fa?( rahasia donk. Haha..Cuma lagu favorit untuk teriak aja. Soalnya lagunya pas banget buat teriak-teriak! ). Hhh…pengennya ngasih rekaman videonya.. Cuma kok ternyata gak terdengar suaranya. Tapi keren untuk dinikmati sendiri.. jadi fotonya aja.




Sempet terpeleset dan terantuk karang juga lho..(aduh!), sampe kaki biru dan lecet-lecet. Untung…cuman kaki..



Habis itu… narcis mode on!!!


Sempet tiduran di karang-karang. Item urusan nanti..apalah guna salon kecantikan. Huhuhu….



Jalan-jalan selesai…, aku balik ke kota. Esok paginya mesti balik ke Malang. Sudah selesai aku disini. Jember.. lihatlah langkahku. Tak ada rasa benci. Tak ada rasa dendam. Aku datang dengan damai. Tak ada yang salah. Semua sudah semestinya. Manusia bisa gagal, tapi Tuhan tak pernah gagal. Manusia bisa tak adil, Tapi Tuhan selalu adil.


Ingatkah hari itu?

Sebuah puisi untukku ?

Kau benar sun shine..

Aku hanyalah rintik hujan

Tapi tak apa

Karena setelah aku pergi

Kau bahkan takkan menyadari

Telah kutinggalkan sebuah pelangi

Bukan hanya untukmu,

Tapi juga untuk semua


Seenggaknya, aku bisa mengenang sesuatu yang indah saja. Dan memandang segi positifnya. “Terima kasih.., melepasku dari belenggu itu” cukup kuhargai keberanianmu saat itu, mengingat aku mungkin takkan pernah mampu memintanya. You’re rock man!!!


Believe me, it's alright

It's so easy after all

(Sum 41)




The End...

Dedicate to all.. “Para Laskar Cinta!!”

Jumat, 08 Januari 2010

– A Lonely Roads (1) – Liburan Part II


Keesokan harinya setelah Kopdar bareng BSE…

Hari ini seharusnya aku bergegas pergi. Tapi aku malas sekali…pagi ini sedingin air es yang didiamkan lama. Serasa masih mencengkeram tajam saat disentuh. Fiuhh.. Sedangkan aku harus mandi??! Oh..my God..aku benar-benar butuh air hangat. Kadang aku bertanya pada diriku sendiri. Bagaimana bisa aku mandi rata-rata antara jam setengah 5 ato jam setengah 6 pagi setiap hari?? Itu..sulit dijelaskan lagi,tapi tuntutan perut penyebab utamanya. Ha..ha..


Sudah siang ini, aku belum beranjak..kudengar para tukang bangunan yang dari sekitar 1 bulan lalu bekerja membangun kamar baru di kos sudah mulai berdatangan. Akulah yang pemalas hari ini. Kuseret juga tubuhku untuk segera berbenah dan menuju ke tempat yang sangat aku kenal: “Rumah”. Mesti pulang dulu sebelum berangkat ke suatu tempat. Apalagi kakak pulang dari Mekkah..(jangan sampe kehabisan oleh-oleh lah aku..hohoho…). Tapi alasannya yang memang harus pulang..ini kan liburan mana boleh tidak pulang dengan jarakku yang bisa ditempuh hanya 3 jam saja dari kota aku bekerja. Kalau ingat kata guru kimia SMA ku dulu..ini dinamakan “kebolehjadian”. Kau masih ingat pelajaran itu kawan? Sehari semalam aku berada di rumah..lalu balik lagi ke Malang, menyelesaikan misi!! ato obsesi ya?! Whatever-lah.. aku lebih suka menyebutnya bagian dari sebuah mimpi..

30 September 2009 jam 14:10 waktu Stasiun Kota Baru Malang (mungkin..). Padahal jam tangan sudah di setting lebih cepat daripada jam kantor yang juga lebih cepat dari jam-jam yang ada. Agak nggondok karena harus lari-lari karena kereta sudah mau berangkat. Memang setelah membeli tiket aku tak menunggu di Stasiun, tapi aku ke Warna-Warni untuk buka internet. Selain ketemu lagi dengan BSE yang kali ini di dunia maya, juga sempat ngobrol dengan teman dekat di YM. Basa-basi…begitulah adanya. Maklum,waktu pernikahan teman aku satu ini aku tak bisa datang. Ternyata kereta hanya ganti lokomotif di Stasiun Kota Lama (hallah..udah capek lari juga).
Aku cukup beruntung mendapat tempat duduk di dekat jendela, berhadapan dengan sepasang muda-mudi. Sudah 30 menit berlalu, pemandangan rumah-rumah yang lebih terkesan kumuh daripada sederhana sudah mulai berganti dengan hamparan sawah yang hijau muda warnanya karena bibit-bibit yang baru ditanam musim ini. Hujan pun kian kerap menetes, suara bayi menangis dari gerbong yang sama, pedagang asongan juga tak henti berlalu lalang. Dan aku mulai tenggelam..mencari dan bertanya pada diriku sendiri.


Langit seakan mengerti
Coba hentikanku kali ini
Mendatangkan hujan
Berdalih alirkan mimpi
Tapi ini aku disini
Sudah sejauh ini
Aku tak akan kembali
Terus mencari
Untuk yang lalu… dan yang Kini



5 Jam perjalanan aku habiskan untuk beberapa hal..: menulis, melamun, mengobrol, tidur (thx God) dan mengemil. Lima kegiatan untuk waktu 5 jam dan akhirnya aku sampai di tempat tujuan. Dikota itu, tempat bertahun-tahun yang lalu aku lintasi ruangku..hanya untuk melihatmu. Sudah hampir jam setengah 8 malam.., aku bergegas mencari angkot menuju tempat seorang kawan untuk menginap. Tentu saja kami sudah janjian dulu sebelumnya. Setelah melewati barisan tukang ojek yang super duper ngeyel bin ngotot. Aku mencoba mengorek memoriku untuk mengingat jalan mana yang aku lewati agar bisa memperoleh angkot. Sepertinya aku harus percaya kali ini pada seorang temanku yang mengatakan bahwa “Kau tahu? Ada dua sifat yang biasanya dimiliki lelaki yang kau punyai dan membuatmu selalu beruntung tidak hilang saat kau ngeluyur gak jelas. Pertama, kau tidak gampang panik saat tersesat, dan kau punya peta dikepalamu”, (aku tersenyum sendiri mengingat kata-kata itu).


Setelah sampai ditempat yang telah dijanjikan, disebuah perempatan yang ditengahnya ada sebuah tugu. Aku menunggu di sebuah pangkalan becak dan ikutan seru melihat bapak-bapak becak main catur. Hujan masih rintik..ini berarti hujan menemaniku dari Malang sampai ketempat ini. Kudongakkan kepalaku keatas, aku tersenyum pada langit yang tak berbintang. Kuucapkan satu kata “Tuhan..aku disini” lirih..sekali, hanya pada diriku sendiri. Beberapa lama kemudian kawanku datang menjemput. Sungguh pertemuan yang menyenangkan setelah hampir sekitar satu tahun lebih aku tak bertemu dengan kawan baikku ini, my ex roommate saat masih berjuang di Surabaya..: “Eka Siwi Alantari”. Setelah melepas rasa rindu yang luar biasa, acara selanjutnya adalah makan malam, minum kopi, dan mengobrol di kamar. Senang sekali kembali mempunyai roommate lagi meski sementara. Yang empunya kamar sudah mengantuk..sedangkan aku?! Tuhan..mata ini tak rela terpejam mesti tubuh rasa lelah. Terpikir saran –seseorang- untuk matiin lampu kalau gak bisa tidur, dan klo keadaannya ini bukan kamarku sendiri..maka dia harus bertanggung jawab atas sarannya. Dan ku-smslah dia. Ha..ha..ha.. (:p)

Hari pertama…


Untuk hari pertama, aku meng-cancel rencanaku ke Taman Botani. Cuaca dan rute penyebab utamanya. Aku memutuskan menyusuri kota ini. Sendirian-lah tentunya, karena kawanku Siwi masih harus kerja (mbak – biar enak di cerita aku panggil Siwi aja, maap ya..-). Dengan sedikit petunjuk dan arahan yang sebenarnya tidak benar-benar aku perhatikan berangkatlah aku menyusuri kota.. “Kotaku” begitu dulu “kau” bilang. Ada satu tempat yang aku ingin kunjungi..lebih tepatnya aku buktikan. Hmm.., alih-alih aku mengerti, yang ada aku kesasar..muter..muter…muter…(muter lagi…) aku ngikut aja angkot pergi. Sampai melewati sebuah tempat yang pasti ada di setiap kota: “Alun-alun”. Turun salah satu pojok deket RuTan (rumah tahanan-red-), aku berdiri sejenak untuk memutuskan jalan kemana dari tiga arah jalan yang ada didepanku. Btw, sebenarnya aku gak tau kalo itu Rutan kalau tidak ada seorang petugas yang menanyaiku..”Mau kemana dik?” (thx pak..jadi selalu ngerasa muda), aku senyum aja membalas pertanyaannya. Lalu dia meneruskan pertanyaannya “ Hari ini gak ada jam besuk dik..,jadi besok senin aja datang kembali kesini” (kali ini aku melongo..). Aku baca tulisan yang ada di depan kantor.. “Rumah Tahanan bla..bla..bla..” (ha..ha..ha…mungkin aku dikira saudara jauh yang mau jenguk pesakitan didalam). Atau mungkin aku seperti seorang preman ya??? (Ahh…!!)


Aku jalan saja menuruti kakiku, sambil sms mbak Siwi (gak enag panggil nama aja –kebiasaan-) bertanya tentang sebuah tempat. Belum sampai aku menerima balasannya, sampailah aku di Kantor Pos.., kulihat ada orang mengerumuni sebuah papan. Tertarik aku ikut mendekat, ternyata mereka mengerumuni info Lowongan Kerja. Wajah serius..,catatan kecil, bolpoint..,cerminan para pejuang intelek muda (begitu kiranya aku menggambarkan diriku disaat dulu aku berada diposisi mereka) Ha..ha..ha.. (lari biar gak ada yang nimpuk!!). Aku masuk kedalam dan duduk di bangku kosong. Aku diam..lalu diam..terus diam..(hallah..), sampai akhirnya aku mati gaya, aku nanya iseng tentang kartu pos. dan ajaibnya benda ini masih dijual. “5 biji 1000 rupiah” jawab langsung petugas yang kutanya. Sepertinya dia gak rela kalau aku hanya bertanya ato iseng saja dia terus melihatku dan bertanya lagi “Beli berapa?” . Ahh...dari pada aku menerima pandangan maut si petugas, kukeluarkan 1000 rupiah lalu dapatlah aku 5 Kartu pos..(sebagian kukirimkan..,tapi ada yang kusimpan). Ok!! Aku memang iseng..aku kira kalian sudah tahu itu.. kalau belum tau..ya biar taulah.. (keks! Keks! Keks!).


Didepan Kantor Pos itu, terhampar sebuah tempat : Alun-alun. Aku duduk-duduk di taman alun-alun itu, lamaaaaaaaa….sekali! (beneran lama). Ok, aku foto-foto..aku mengabadikan yang ingin kuabadikan. Lalu aku berkenalan dengan seorang Bapak yang juga sepertinya senasib denganku (menikmati kesendirian –red-). Mulailah kami bercerita (sebenarnya si Bapak yang banyak cerita), dan dari hal-hal yang tidak terduga seperti inilah aku mendapatkan ide ceritaku. Iya!!sebuah cerita! Bisa jadi ini akan jadi cerpen ato mmm… apalah nanti. Kami hanyut dalam sebuah sandiwara dunia dengan lakon si Bapak, sampai sebuah sms aku terima. Dari Adekku (aku sudah menganggapnya adikku sendiri), bahwa dia akan menemuiku segera di tempat ini.


Begitu Adikku datang bersama his “beibz..” hahaha… secara otomatis aku punya tukang foto dan juga tour guide. Kami meninggalkan Alun-alun untuk Sholat dan makan siang. Lalu aku menuju ke tempat yang tak asing sama sekali buatku, ..sebuah.. “Kampus”. Banyak sekali kenangan disini (untukku mungkin karena “dia”, tapi untuk-“nya” yang aku sadari.. hanya sebagian kecil saja mungkin karena “aku” –aku bahkan sangsi-). Kuabadikan semua sisi yang dulu tak pernah aku bisa abadikan dengan sebuah gambar. Kudatangi tempat yang dulu aku datangi. Tak ada rasa getar apa-apa lagi..,tinggal perih. Lalu kuputuskan untuk pulang ke kost Mbak Siwi..


Hari ini aku menjelajah
Mencari sesuatu yang hilang
Berharap aku masih punya arah
Namun semua tak sama
Tidak tempat ini
Tidak hati ini..
Tidak aku..
Bukan lagi kamu


Sisa hari itu kami habiskan untuk menyambut pergantian tahun baru.. Do’a.., harapan, mimpi.., cita.., cinta.. semua yang terbaik yang kita harapkan semoga tercapai.



Happy NeW YeAr..!!!!


To be continued...

Sabtu, 02 Januari 2010

Liburan Part I *** KopDar bareng BSE***



Assalamu'alaikum... Apa kabar kawan??! (ha..ha..ha..kata pembuka awal yang khas dari BSE aku comot disini). Soalnya ini cerita tentang KopDar antara Flypuccino penguasa aathena dengan pendiri BSE yakni Erikson bin Asli Aziz alias EWbAA (AD tak mau ah..panggil kau EWBAAZ..,kan tak khas bin spesial versi AD k'lo niru-niru..:p). mesti dari mana yach ceritanya???? hmmm....ehm...ehm...

Akhirnya...Alhamdulillah terjadi juga kopdar bareng BSE. Meski rencana ketemu mundur (banget!) dari rencana awalnya jam sepuluh pagi jadi jam 1 siang. hohoho...bisa dimengerti juga.. namanya juga naek gunung. Tapi rasa-rasa sudah cukup berkesan untuk sebuah syarat kopdar. HHhhh...padahal sudah dicariin tempat kopdar yang ok! udah dicariin menu yang mak nyus! eealahh....akhirnyapendiri BSE harus puas dengan makan ayam goreng versi depot warna-warni (ha..ha..ha...). Agak lucu karena ayam goreng yang dibayangkan EW tak sama dengan kenyataan. Disini memang gak ada bedanya antara ayam goreng lalapan yang bisa dialiaskan lagi ayam goreng penyet. Yang Fa suka, tuh orang makannya Lahaaaap bener!!! (dua jempol buat nafsu makan lo EW!). FP sendiri..ditraktir Hot Cappucino..hu..hu..hu...(and u now understand why i use name flypuccino). Sangking lahapnya...ayam goreng ludes duluan..dan EW pesen lagi dua tempe goreng. Niat hati satu tempe buat AD nich kalee ya...tapi AD liat tuh orang pelan-pelan abisin tempenya..ha..ha...ha...(ikhlas deh..)hallah...

Lumayan banyak yang kita obrolkan. Tak jauh-jauh dari blogging, buku yang dibaca, rencana nulis, terus kegiatan, cerita pendakian EW ke Semeru,mmm...ga lupa pastilah yang empunya berkejaran tersangkut-sangkut dalam obrolan kita (sumpah! dia ngomong baik-baiknya lo burr..klo gw gak jamin ngomong baiknya lo doank..kiaks!).

Kesan Fp waktu ketemu EW ...serasa sudah kenal lama (emang lumayan cukup lama kali yach...meski lewat Blog dan Fb). EW..tak jauh dari gambaran di otakku kok. (Mesti digambarkan gak ya???hmm....), nich orang yang paling Fp sukai adalah Positive Thinking-nya..(Nich..yang paling AD suka dari lo EW...), baik (kita semua sepakat kali ya kawan semua tentang ini), pinter..(hohoho...keliatan banget), friendly... (udah...jangan banyak-banyak..)

Dalam kopdar ini, tak ada foto yang mengabadikan...(fotonya kabur semua tuh..). Setengah hati emang sengaja sih...meski sudah kepikiran mau foto-foto waktu nemenin EW makan. Abisnya...,FP lagi dalam keadaan mengenaskan karena insomnia dihari-hari sebelumnya. Finally..EW penguasa BSE mesti balik ke kota Jakarta dibawa kereta Mataremaja dengan semangat barunya (kayaknya...). Dua hari berikutnya...aku ke warna-warni lagi. Kali ini bukan untuk minum hot Cappucino, tapi untuk ketemu EW lagi. HAnya saja..bukan didunia nyata..tapi di BSE. karena aku harus mengejar kereta yang membawa perjalananku sendiri...

to be continued... 

Selasa, 22 Desember 2009

Kulintasi Semesta


Bau solar ini sangat menyengat. Goncangan bus semakin mengocok perutku. Sekarang aku hanya bisa mengutuki diriku sendiri, menyesal mengisi perutku hanya dengan secangkir kopi pagi ini. Matahari pagi ini juga terik. Menyeruak seakan marah menembus kaca bus. Kutarik tirai yang berwarna merah maroon, warna yang tak biasa untuk ukuran bus ekonomi (begitu pikirku). Bus berhenti di lampu merah, dan kulihat seorang pedagang asongan naik. Bukannya segera menjajakan dagangannya, tapi malah duduk di bangku yang kosong.
Sepagi ini wajahmu telah lelah
Jiwa tak boleh goyah
Ayo terus langkah
Tendang keluh kesah
Bukan saatnya menyerah
Ingin kukatakan narasi ini padanya, ahh..tapi apa ya dia mengerti? Aku tertawa sendiri. Lalu kembali gelisah..ini bus lama sekali. Kulihat jam yang ada di HP-ku, dan pada saat itu pula HP itu bergetar. 1 message received, kubuka dan kubaca.
kau sampai mana? Kira-kira nyampai jam berapa?
Sedikit panik aku mengetuk-ngetuk kakiku. Mengetik sort message setelah menekan tombol reply. Belum sampai satu kalimat kuhapus lagi semua yang sudah aku tulis. Mengetuk-ngetukkan tanganku ke pangkuanku sendiri sekarang. Berpikir apa yang harus kukatakan atas keterlambatanku kali ini. Ahh…sekarang tak hanya perutku yang ku kutuki, tapi ini juga. Kuputuskan untuk menelpon saja.. agak ragu aku memencet nomor yang tadi mengnirimiku sms. Nada sambung…dan akhirnya diangkat. “hallo,kau dimana?” kata suara disana kepadaku. “Dengar..sepertinya aku harus jujur padamu. Aku terjebak macet. Dan sekarang masih di dalam bus menuju kesana. Kau marah?” tanyaku tak lebih dari harapan. “Kau tenang saja, pastikan saja kau datang tepat waktu. Semua tergantung dirimu sendiri. Oke?” “aku mengerti maksudmu, aku berusaha.. dan sekarang aku hanya bisa berharap Tuhan memberiku sedikit waktu” kututup teleponku tanpa berpamitan. Aku tahu tak akan ada yang tersinggung dengan itu. Kami sudah terbiasa seperti itu. Apalagi dalam keadaan gusar seperti ini.
Waktu..
Hentilah sejenak untukku
Beri aku ruangmu
Demi itu…
Bus sudah lepas dai kemacetan. Tapi hatiku tak mau berhenti berdetak galau. Tuhan..tolong aku… (aku berdo’a lirih hampir terdengar samar). Penumpang disampingku keliatan ikut tak nyaman melihat keresahan yang tampak olehku. Kulihat keinginannya untuk mengajakku berbicara. Tapi aku mengelak dengan membuang pandanganku keluar jendela. Maaf..aku sedang tak ingin mengobrol. Aku hanya akan terdengar konyol dalam keadaan marah karena frustasi semacam ini. Kenek bus meneriakkan nama sebuah terminal. Aku terhenyak bangkit dan langsung bersiap di pintu keluar.
Jangan!
Jangan pergi dulu.
Ini aku
Berlari mengejarmu
Berhenti disitu.
Hentikan sejenak langkahmu
Samakan dengan langkahku
Begitu bus berhenti, aku segera berhambur turun dan berlari menuju depan peron terminal. Kupencet tombol redial di HP-ku. Langsung diangkat.. “Aku sampai” aku menyela sebelum orang diseberang sana bicara. “hampir telat” katanya. “tapi aku tidak telat kali ini” jawabku bangga terlebih lega. “Tak semudah itu, kau harus lebih baik dari itu” katanya, “Maksudmu?” tanyaku mulai tak sabar dan mulai marah. “Sabar..bukankah kita sudah sepakat?” tanyanya tak memerlukan jawaban. “Kita tak pernah menyepakati apapun” jawabku protes dan emosi. “ Kesepakatan tak harus di ucapkan kan? Dan kau bilang kau harus mendapatkan ini” aku tak tau ini pertanyaan atau pernyataan untukku. “Sudahlah! Katakan saja maumu. Lalu kita selesaikan” kataku hampir berteriak. “Kenapa kau lakukan ini?”tanyanya sedikit rapuh. “Aku tak punya alasan” jawabku. “Kau harus punya” jawabnya tak mau kalah. “ Akan kukatakan kalau kau menemuiku disini. Sekarang!!” aku sangat kesal dan marah, hampir kubanting HP di genggamanaku. Terdengar hening di seberang sana..beberapa saat kami tak saling bicara. Aku mulai menguasai keadaan. Lalu bertanya padanya..”Kenapa?” “Aku tak tahu” jawabnya. “Begini saja…” tut..tut..tut… nada terputus. Tak terdengar apapun dari benda sialan ditanganku itu. Kupencet radial lagi. Tak ada nada sambung, yang terdengar hanya rekaman suara menyebalkan operator yang memberi tahu untuk menghubungi nomor itu beberapa saat lagi. Aku mencari sandaran.. lama tatapanku kosong. Lalu kuketik sort message :
Kita sama tahu semua sudah berubah. Kita tak perlu alasan apapun. Aku disini tak kemana. Kembali kesini dan hadapi semua. Kau tahu harus mencariku kemana
Message sent….
-The End-
NB:
-Terinspirasi atas lembar ucapan terima kasih dari novel karangan Tamara Geraldine yang juga pernah kudengar dari seorang sahabatku. “kadang mengejar tujuan adalah dengan jalan berlari pulang” .
-Mungkin aku tak akan menemukan apapun disana, tapi disanalah aku mulai bermimpi..dan berharap disanalah kutemukan sisa mimpi-mimpiku.
-Judul foto –melintasi semesta-

Rabu, 09 Desember 2009

AKU BUKAN KORUPTOR

Pian mau iku lomba mewarnainya ma..”, Fian merengek manja pada mamanya yang pura-pura sibuk membaca surat kabar pagi. “Iya..nanti didaftarin ya sayang” jawab Mamanya mengintip dari balik kertas surat kabar yang hampir menutupi setengah tubuhnya yang mungil. “Asyik!!” Fian berhambur ke mamanya dan mengecup sayang pipi sang Mama. Surat kabar tak lagi berbentuk, kini mereka saling berpeluk.

Dalam sebuah ruangan kantor di suatu gedung tinggi bertingkat…

“Bagaimana Pak? Bukankah ini akan sangat menguntungkan?”
“ Ini Terlalu beresiko Bung..!”
“Ahh..tidak seberat itulah Pak. Ini aman..semua bakal lancar. Bahkan semua pihak tak ada yang bakal merasa dirugikan dalam hal ini pak.”
“Entahlah Bung, saya sangat paham apa yang Bung maksudkan. Tapi…”
“Bapak tak usah khawatir, tak akan nama Bapak terseret jika ini terbongkar kan?”
“Memang..,saya tau..tak ada hitam di atas putih. Tapi saya bakal ikut andil juga meski kecil kan Bung?”
“Bagaimana kalau Bapak bawa dan pelajari berkas ini dulu?”
“Saya…”
Kau auraku..memancarkan…bunyi hand phone dari si Bapak berbunyi, semua terhenyak kaget meski ditutupi. Layaknya ketahuan sedang mencuri cucian tetanggga yang busuk baunya.
~Istriku~ , terpampang pada layar hand phone tersebut.
“Ya..Hallo mama..”
“Iya..ya…maaf ya Ma, Papa gak bisa nganterin…nanti kita cerita di Rumah ya Ma. Papa masih ada rapat.”
“Okey Mama..hati-hati ya..”
Perbincangan basa-basi berlanjut di ruangan itu. Beberapa lama kemudian terlihat si Bapak menerima berkas-berkas dari tangan si Bung. Pertemuan berakhir sore itu.

Di lantai dasar sebuah Mall yang terkenal di kota kecil itu..

“Hayo..sapa yang tau artinya korupsi?” tanya pemandu acara kepada sekitar 43 peserta lomba mewarnai usia 4-6 Th rangka pameran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang namanya melambung tinggi di jagat kekisruhan tanah air saat ini. Sebagian besar peserta lomba mewarnai itu berebut angkat tangan dan berteriak-teriak..”Aku tau..!! Aku tau..!!”. Pemandu acara kesulitan memilih siapa yang ditunjuk, tapi dengan mempergunakan permainan. Maka terpilihlah satu yang menang, dan anak itulah yang menjawab. Dengan polosnya, si anak menjawab “Koryupsiy….alrtinya…mencuryi…kak!!” jawab si kecil yang polos itu. “Ada yang pernah mencuri gak disini?” tanya si pemandu acara kepada forum itu. “Tidak…!!!!” jawab anak-anak itu serempak. “Bagus..,gak boleh mencuri ya.. mencuri apa saja lho ya.. Kalau memang pengen sesuatu bisa minta sama Mama dan Papa..Okey?!” sebagian forum mengangguk..sebagian kecil berteriak “Ok!!” dan sebagian kecil lainnya tampak diam tersipu-sipu..(ahh…tak tau apa yang mereka pikirkan). “Baik adek kecil..sapa namanya dek?” tanya pemandu kepada si anak yang tadi maju ke depan untuk ditanyai. “Pian Kak!” jawan si anak malu-malu. Si pemandu melihat nama peserta yang di pasang di baju si anak..”Ooo…Fian…, karena Fian sudah bisa menjawab pertanyaan kakak. Fian dapat hadiah.. Selamat ya Fian…” “Terima kasih kak…” Fian menerima hadiah girang dan bangga. “Fian kok pinter banget sih sampai tahu artinya korupsi? Kalo boleh kakak tahu sapa yang ngajarin?” sambil melirik memandang mamanya, fian menjawab “Mama…” katanya malu-malu sambil menunjuk mamanya. “Wah..Mama nya Fian pinter donk berarti…” “Iyah..,waktu liat tipi..Fian nanya sama Mama..” “Ooo…begitu..” para penonton tersenyum gemas. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan permainan dan pengumuman hasil pemenang lomba mewarnai. Meski tak menang, hari itu..Fian masih mendapat bingkisan dari panitia dan telah membuat bangga Mamanya. Dan memberikan pelajaran berharga bagi sebagian yang lain.

Di rumah..

“Tadi bagaimana acaranya Ma?” Tanya Papa. “Acaranya seru Pa, Ada permainannya untuk orang dewasa juga. Setiap permainan dapat gift yang lucu” “Mama ikut juga gitu?” “Mama ikut-ikutan aja Pa.. yang nglempar panah itu..” “ Fian gimana Ma?”, mama Cuma tersenyum dan melirik sang anak yang sedang sibuk bermain dengan mobil-mobilan di pojok ruangan. “Gak menang Pa.., hahaha..” “oo…gitu, gapapa kan tapi dia?” “Tuh liat sendiri..Mama liat baek-baek aja” “Baguslah kalo gitu”. Masing-masing kemudian sibuk dengan fikiran masing-masing. Beberapa menit kemudian Papa pergi ke ruang makan tapi tak lama kemudian kembali lagi. “Mama..,mama lihat camilan yang kemaren Papa taruh di Toples ndak Ma?” “Yang mana Pa?” jawab mama mengingat-ingat. “Fian..,dek..liat cemilan Papa di meja makan ndak?” tanya Papa pada Fian. “ Enggak Papa..Pian kan bukan koryuptor” jawab Fian menggemaskan acuh tak acuh sambil membenarkan roda mobil-mobilannya yang lepas. Pama dan Mama saling berpandangan dan kemudian tertawa keras bersamaan. “Pintar sekali anakmu itu Ma” kata Mama pada istrinya. “Anak siapa dulu…” jawab Mama membanggakan diri. “Kok korupsi sih Fian? Papa kan nanya kue..barangkali saja Fian makan..” Kata Papa kemudian pada Fian. “ Kalo ngambil gak ijin Mama kan namanya menculi Pah..Menculi kan sama kayak koryupsi.., iya kan Ma?” tanya Fian bingung. Mama menghampiri Fian dan mengecup kening sang anak..sambil berkata “Benerr..sayang..Fian pinter deh” Papa tampak tertegun, memegangi perutnya yang kini terasa melilit. “Papa lapar ya? Kayaknya kue itu udah Mama kasihkan si Narti Pa.., kemaren ada temennya main kesini. Maaf ya Pa?” “oo..gitu, Nggak papa Ma..tadi teringat saja kue itu.Papa pikir daripada gak kemakan mau Papa makan. Papa istirahat dulu kalo gitu Ma.. Besok harus berangkat pagi” “Iya Pa..Mama mau menidurkan Fian dulu. Ayo sayang.. Udah waktunya tidur” Papa bergegas ke kamar tidur..Tak segera dia bisa terlelap. Lama dia berfikir, lalu tersenyum dan mulai memejamkan mata.

Kesokan hari di kantor yang sama…

Terlihat perbincangan serius atara Bapak dan si Bung yang kemaren sore juga berbincang di tempat yang sama. Lama sekali mereka berdiskusi, tampak agak berdebat. “Saya sudah mengambil keputusan Bung..Saya katakan untuk terakhir kalinya pada anda..” “Tapi Pak..” si Bung menyela.. “Tidak Bung anda yang harus dengarkan saya. SAYA BUKAN KORUPTOR! Sebaiknya bung segera pergi dari kantor saya” tampak si Bung tersinggung dan pergi dengan muka merah karena amarah.

NB:
-Terinspirasi saat melihat pameran KPK kira-kira 3 minggu yang lalu.Cerpennya setengah jadi minggu lalu. Diselesaikan malam ini.. Fa dapat hadiah banyak lho..waktu ikut permainannya. Hohohoho…(pake kaca item bergaya :p)
- Foto..itu salah satu gift yang Fa dapet waktu liat pameran.
-Gak bermaksuf dipas-pasin dengan Hari Anti Korupsi..taunya juga tadi baca status temen di FB.. tapi.. Mulai katakan pada diri.. “Saya Bukan Koruptor”.

----------SELAMAT HARI ANTI KORUPSI!!!----------------