Kamis, 11 Maret 2010

Terasa Salah..


Kutenggelamkan kakiku di rerumputan pagi itu. Daun-daun mungilnya seakan menggelitikku mengajak aku bercanda. Sapuan embun menyejukkan menjalar kejiwaku yang gersang semalam tadi. Sejauh mata memandang kabut masih menantang. Ayah..,aku pulang.. sudah sejauh ini tapi masih rasa malu untuk menemuimu. Bunga-bunga yang kau pesan sudah kucoba aku tanamkan. Ayah..,sanggupkah aku kali ini?? – Kertosono,7 Maret 2010 -


Aku belum bisa menemuimu..atau menemuinya, lalu aku kembali ke kota ini...

Malang, 11 maret 2010


Cahaya matahari menerobos melalui celah pintu. Memberikan penerangan menyilaukan tak sempurna. Sangat kontras dengan udara dingin kota ini. Entah disini, atau yang disana..ada sesuatu yang tak semestinya. Kenapa perih kalau tak luka? Kenapa lemah kalau tegar? Kenapa sepi meski tak sendiri? Apakah sudah benar seperti ini? Kadang ingin menertawakan semua yang telah terjadi bersama-sama. Kulihat cermin dan kucoba membentuk sebuah simpul senyum dengan bayanganku. Tapi yang terjadi..setiap terbentuk sebuah tawa semu, bersamaan pula sebuah goresan menggiris hati. Ya…hati.. aku juga punya hati. Yang kadang mungkin orang lupa, bahwa bukan hanya mereka yang bisa merasa terluka. Ha..ha…ha…lucu…sungguh lucu! sekarang aku menertawakan diriku sendiri. Betapa aku membenci diriku yang lemah seprti ini. Lemah dan rapuh..,tapi apakah itu juga salah? Bukan hanya mereka yang bisa merasakan lemah..merasa rapuh.. karena aku juga manusia. Aku mungkin akan lebih memilih menjauh sejenak saat aku terluka. Tapi tak pernah bisa rupanya aku benar-benar pergi lalu menghilang. Aku berontak untuk menyerahkan alamku. Ini duniaku bisa tertawa, ini semestaku bisa bermimpi. Ini langit kubisa melukis pelangi. Semua bisa kau warnai, tapi tak berhak menyuruhku pergi untuk selanjutnya mereka tempati. Lalu hanya kau jadikan aku dongeng saat-saat sepi. Ini taman syurgaku. Hanya ini punyaku..


Mungkin aku akan terus tersesat, tapi meski aku berlari memutar waktu..kepedihan yang paling pedih kurasakan adalah saat aku berpura-pura mengabaikan apa yang sebenarnya tak pernah terabaikan olehku. Berpura-pura tak peduli apa yang sangat kupedulikan. Telah kuhukum diriku dengan sangat perih. Maafkan aku..aku harus katakan, tak ada cara lain untukku..Aku harus bertahan! (Kertosono,7 Maret 2010)


Lalu aku sadari..ini tak benar, pembicaraan antara kita belumlah usai. Aku tak pernah pergi, masih menunggu semua argumentasi. Kita tak akan pernah berhenti berdiskusi. Kita tak akan bisa berhenti…

Jumat, 19 Februari 2010

Untuk “Titik” Nurhayati..


Di sebuah dusun yang terlalu tenang itu, di pojok pintu sebuah rumah yang bercat hijau terkelupas, duduk terpekur seorang gadis mungil. Matanya menerawang nanar layak mata orang dewasa. Jika ada orang lewat di jalanan depan rumahnya, wajahnya seperti mengkerut heran atau entah apa. Raut mukanya tampak pucat dengan bibir seperti diberi gincu biru. Tapi binar matanya seterang bintang utara di pertiga malam terakhir. Tampak sesekali kepalanya menengok ke salah satu ujung jalan.. sudah begitu kelakuannya sejak sekitar 45 menit yang lalu aku mengamatinya. Saat matanya menangkap banyanganku, dia tampak malu dan tersenyum meringis lalu menggigit ujung kaos lusuhnya.

“ Ngapain Tik..?? Nggak tidur siang kamu?” tanyaku mencoba mengajaknya mengobrol. “Nggak” jawabnya dengan suara serak pecah yang sepertinya terlalu besar volumenya untuk ukuran tubuh semungil itu. Matanya menatapku terusik. Kucoba tersenyum dan menggodanya. Dia malah tambah nyegir menggemaskan. Kulirik jam di telepon seluler yang kupengang di tangan kiriku. Tersenyum aku menyadari ini jam berapa. Tersadar hari memang belum terlalu siang untuk tidur siang, bahkan untuk anak seusianya. Dan juga menjelaskan apa yang sedang dinanti Titik sedari tadi. Kulihat dia menengok ke ujung jalan itu lagi, kali ini terasa ngilu di sudut-sudut hatiku. Bening-bening air disudut mataku berontak ingin tumpah. Tapi aku tak ingin membiarkan Titik melihatku cengeng..pasti dia nyengir lebih lebar lagi nanti menertawakan aku.

“ Katanya kau dapat tas baru minggu kemarin di sekolah ya Tik?” tanyaku dengan senyum bangga padanya. “ Iya..iya..” katanya antusias berbinar-binar. “Aku juga dapat buku tulis lima dan juga sepatu baru” sambungnya kemudian. “ Wuahh...mbok yo aku di bagi satu Tik bukunya..” candaku padanya. “ Buat aku sekolah itu” wajahnya merengut khawatir. “ Ha..ha..ha.., tas nya warna apa Tik?” tanyaku kemudian. “Pink..ada gambarnya berbi..bagus!! ada banyak kantongnya..Sama mas Amir aku juga dikasih Bolpoint sama pensil warna” cerocosnya bercerita sambil menggerak-gerakkan tangannya menggambarkan. Selanjutnya layak mendengarkan dongeng peri tentang pensil berwarna-warni..buku gambar mewarnai yang penuh gambar malaikat dan keledai..ulangan-ulangan sekolah yang terasa sangat mengasyikkan. Dan aku hanya bisa terpukau atas yang kuhadapi sekarang. Alam ikut mengiringi ceritanya..sinar matahari siang seakan melembut layak lampu theater pada adegan syahdu. Pohon-pohon di sepanjang jalan dusun itu seakan semakin menghijau. Bunga-bunga liar juga semakin memancarkan warnanya.

Di saat-saat tertentu, meski kawan-kawannya yang lain masih masuk sekolah. Titik diliburkan oleh Ibu atau Bapak gurunya..kadang juga oleh orang tuanya. Dia memang harus libur untuk mengisi tenaga..agar saat masuk sekolah nanti, dia tidak lemas terkulai di bangku sekolah. Diam tak mau mengadu Gurunya takut disuruh pulang. Titik sangat ingin sekolah terus..terus..dan terus. Kalau perlu tak usah ada hari libur kecuali ada film kartun kesayangannya di TV. Kalau aku beruntung..saat aku pulang kampung begini, aku akan mendapatinya berdandan rapi pagi-pagi sekali mengenakan seragam merah hati. Bedak putih belepot diwajahnya menambah lucu dan menebarkan aroma bayi yang segar. Berjalan mondar-mandir menunggu diantar oleh orang tuanya atau oleh kakaknya seakan dia mau telat saja. Padahal dia selalu lebih pagi daripada anak-anak yang lain. Ato mungkin juga aku beruntung mendapatinya main lari-lari pentak umpet bersama teman sebayanya. Saat itu pasti wajahnya sedang tak pucat..tampak lebih merona dan bibirnya juga tak biru lagi. Ada semburat warna pink khas anak kecil jika kau perhatikan. Tentu saja matanya lebih berbinar. Hanya saat beruntung saja kawan…karena aku juga jarang pulang kampung. Saat-saat itu..adalah saat dimana Titik beruntung mendapat darah untuk mensuplai sel darah merahnya yang habis entah dimakan setan apa.

Titik yang belum mengerti arti lagu Jangan Menyerah-nya D’Masiv meski sering ikut menggeremeng mengikuti terpatah-patah saat lagu iku diputar di TV tak kalah hebat dari syair lagu itu. Terlalu hebat bahkan menurutku. Tak pernah dia mengeluh kesakitan saat mungkin ngilu di sekujur tubuhnya mulai menyerang. Dia hanya merengek pada Bapaknya saat ingin makan ayam goreng. Tak pernah merengek minta di belikan kasur empuk saat tubuhnya sakit semua tak bisa tidur merebah. Dengan nyamannya dia duduk di dipan kayu dan menyenderkan kepalanya di dinding agar tak terlalu pening kepalanya. Dengan semangat sekali bercerita tentang sekolah seakan tak peduli meski dokter memfonisnya tak akan hidup lebih dari usia 15 Th. Ahh..lagi pula, Pak Dokter yang memfonis malah lebih dulu berpulang 3 Tahun setelah mengatakan fonis itu kepada orang tuanya. Sedangkan Titik kecil..tak gentar menghadapi takdirnya. Seperti siang itu, meski tak bisa sekolah pun, dia semangat menunggu kawan-kawannya pulang sekolah untuk sekedar mendengar cerita tentang apa saja yang terjadi di sekolahnya.

Disuatu pagi, saat itu seperti biasa Titik agak rewel karena badannya panas. Minta makan pake Ayam goreng kesukaanya. Hari ini memang waktunya dia berobat. Dengan dibalut selimut dan digendong Emaknya, dibawa dia ke dokter untuk minta obat. Bulan ini memang hanya waktunya kontrol untuk selanjutnya awal bulan depan dia harus transfusi darah. Panas badannya memang tinggi, maka dokter memberi suntikan obat penurun panas. Tak mengeluh..tak bicara..hanya merengek sesekali. Tapi bukan rengekan sakit layaknya. Dalam perjalanan pulang Titik tidur pulas..sangat pulas. Hingga sampai di rumah, tak juga dia bangun. Emaknya bergetar memeluk Titik dalam pangkuannya. Tubuh kecil itu..sangat pucat. Lebih pucat dari pucat yang biasanya. Bibirnya lebih biru dari biru biasanya. Dan kali ini Emak dan bapaknya tau..Titik tak akan bangun lagi. Semua warga dusun segera berlarian bergegas mendengar kabar yang seperti angin sepoi..termasuk aku. Berlari dengan berbagai ekspresi kesedihan menuju pintu hijau pucat itu.. semua diam berduka, sebagian tak malu menitikkan airmata.

Titik.. yang sebenarnya sudah berganti nama Nurhayati..telah berpulang selamanya. Pejuang takdir dari Tuhan yang nyata. Lentera yang akan menerangi kubur-kubur orang tuanya nanti (Amin..).

Dan tiap-tiap yang bernafas pasti akan mati…

Based on true story…



Dedicate to “Titik” Nurhayati Almarhum.., Guru kecilku untuk menaklukkan kepedihan dunia. Dan untuk para sahabat Titik yang menularinya jadi fans berat D’Masiv yang tak lain adalah para keponakanku, Ayu..(fans Rian numero uno), Acha..dan A-se.. “akankah kelak kalian baca ini sebagai kekuatan kalian untuk terus menghargai hidup sayang?”

Kamis, 04 Februari 2010

Me in Your Mind


Aku akan menjadi apa yang kalian pikirkan. Lihatlah aku secara negative thinking, kau akan mendapatiku seperti itu saja. Aku wanita keras yang hanya punya mimpi, itulah aku. Aku jelek? Hehe..ya begitulah Allah menciptakanku.. aku hanya seorang yang beruntung? Amin.. aku tukang berkata-kata…Ahay!! Aku harap ada yang berguna buatmu. Aku sahabatmu?? Maka kaulah sahabatku. Aku cintamu? Sungguh…kau telah menyanjungku.. dan mungkin akan ada yang beruntung kubalas setulus hatiku. (PeDe Amattt Fa…: :D). Aku musuhmu? Kau hanya tak mengenalku.

Kau kenallah aku…akan aku jadikan aku lebih baik dari yang kau pikirkan. Tak akan mudah, tapi aku akan berusaha terus. Aku bukanlah malaikat. Aku mungkin akan marah saat aku terusik. Aku akan diam kalau kau terlalu banyak bicara. Aku akan bicara kalau kau perlu mendengarnya. Lalu..aku sadar.. aku ingin menjadi apa yang aku inginkan. Dan apa yang aku inginkan adalah apa yang kalian terbaik harapkan dariku. Aku bagian dari alam. Kalianlah alam sekitarku.

Pahami aku saat aku kesal. Hapus air mataku saat aku menangis. Acuhkan aku kalau aku terlalu bising. Beri aku penjelasan saat aku bingung. Lari bersamaku saat aku menemukan kebahagiaan. Enyahkan aku saat aku membuatmu menderita. Tapi jangan diamkan aku. Karena aku..juga sepertimu.


So… Who is me in your mind???

NB: Aku yang lagi narcis..ini... hahaha..

ditulis kapan ini yach?? lupa aku...lumayan...bisa buat isi blog saat ide macet. Semoga lelahku segera berkhir..

Minggu, 24 Januari 2010

Sang Ayah

Di tengah kota..disebuah rumah sederhana dan bercat pucat. Disaksikan sebuah photo yang tergantung di dinding lambang sebuah kebanggaan. Seorang yang tinggi besar dengan kewibawaan yang sempurna yang dimiliki seorang prajurit serta seorang bapak setengah baya yang kurus kering dengan kerut di kening. Sebuah wajah yang syarat kekhawatiran yang berbicara dengan mata menerawang. Kontras sekali dengan sang prajurit yang semangatnya mengalahkan usia yang disandangnya.


“Kita susul ke tempat itu hari ini juga! Apa kau sudah tau alamatnya?”, “Sudah Pak..tapi apa jam segini tidak tutup?”. “Kalau perlu kita dobrak saja pintunya, sebelum semua terlambat!”. “Baik Pak!” jawab Karjo gugup.. “Gusti.. semoga ndak telat.” Batin Karjo. Pak Akbar segera memerintahkan supir pribadinya untuk bersiap-siap. Lalu keduanya bersama pak supir meluncur ke suatu alamat : PJTKI M. Sepanjang perjalanan Karjo seakan menerawang dengan tangan yang terlihat gemetar menggenggam alamat PJTKI itu. Sesekali dalam mata itu terlihat kilat kemarahan. Sedangkan Pak Akbar,dia hanya diam. Tak tahu apa yang ada dipikirkannya, atau mungkin dia memberikan waktu untuk Pak Karjo menyendiri.


Dua kali supir turun untuk menanyakan alamat yang dituju, akhirnya sampailah mereka. Matahari sudah malu-malu di sebelah barat, dan keadaan sudah menunjukkan bahwa kantor itu sudah tutup dari mungkin sekitar satu atau dua jam yang lalu. Pak Karjo hanya memandang pasrah pintu PJTKI itu, serta beralih menatap Pak Akbar yang tampak sedang membaca keadaan. Menit kemudian Pak Akbar dengan isyarat mengajak, menuju tetangga-tetangga sebelah kantor dan menanyakan tentang keberadaan yang empunya kantor. Mendengar jawaban-jawaban yang klasik, pak Akbar hanya tersenyum, berterima Kasih yang juga klasik kepada beberapa orang yang mereka tanyai, kemudian bergegas kembali ke kantor tersebut. Tanpa basa-basi dan tanpa peringatan dengan satu kaki didobraknya pintu kantor itu. Seperti tak punya kekuatan apapun, pintu itu langsung jebol dengan sekali tendang menimbulkan suara yang mengagetkan tetangga-tetangga sekitar. Segera beberapa warga mendatangi dan mulai timbul keributan kecil. Adu mulut dan emosi. Tapi Pak Akbar dengan kewibawaan yang menguasai, seakan sudah membaca situasi. Dengan tenang dan seakan balik mengintimidasi dia berkata “ Saya ingin bertemu dengan pemimpin kantor ini. Ada yang tahu dimana orangnya?”


Seorang ibu-ibu yang menggendong seorang balita mengatakan bahwa dia tahu dimana istri pemimpin kantor. Sang istri muncul ditemani seorang warga. Tampak gemetar karena takut, dan juga air mata yang tak dibendung.karena marah, “Bapak bisa saya tuntut karena telah membuat kerusuhan di kantor saya!” kata wanita itu marah tapi juga takut. Rupanya dia juga yang merangkap menjadi sekretaris pribadi suaminya di kantor itu. “Mana suamimu?!” kata pak Akbar tak gentar. “Iya! Kembalikan istri dan anak saya!” sahut pak Karjo kali ini tak kuat memendam amarah. Mukanya merah dan giginya gemeretak menahan emosi. Wanita paruh baya itu semakin nyiut nyali.. “Kami ini salah apa Pak? Bapak-bapak ini benar-benar bisa kami tuntut.” Wanita itu masih mencoba mempertahankan diri. “Silahkan! Tapi saya juga bisa menutup kantor itu! Kalian sudah memberangkatkan TKI illegal!!” gertak pak Akbar. “Bapak jangan menuduh macam-macam tanpa bukti! Kami selalu memberangkatkan TKI dengan resmi!” kali ini wanita ini penuh keyakinan. “Hallah..!! buktinya Istri dan anak saya berangkat juga tanpa ada tanda tangan saya! Pokoknya kembalikan mereka.” Sahut pak Karjo muntab. “Semua sudah sesuai Pak! Kami ndak mungkin memberangkatkan calon TKI tanpa ada ijin keluarga!” wanita itu tak kalah ngotot. “Buktinya! Saya ndak pernah tanda tangan apapun! Tapi istri dan anak saya tetap diberangkatkan!” Pak karjo semakin merah mukanya dan tangannya mengepal. “Sudah saya bilang..kami tidak akan memberangkatkan calon TKI kalau ada berkas yang kurang Pak!” jawab wanita itu mulai merasa menang. “ Anda ini bagaimana?! Kalian ini sangat ceroboh hingga tidak melakukan kroscek ke pihak keluarga. Kesalahan kalian ini sudah bisa diperkarakan ke hukum. Dan kemungkinan untuk saya untuk menutup usaha kalian ini sangat mudah. Mengingat kecerobohan yang kalian lakukan!” Pak Akbar kembali menggertak. Kali ini si wanita istri kantor PJTKI itu tampak kebingungan. “Kembalikan Istri dan Anak saya!” Pak Karjo mengintimidasi. “Gini aja buk..! kami kasih waktu 2 hari untuk mengembalikan istri dan anak Pak Karjo ini..laen itu kita tak bisa kompromi!”. “Kita bicarakan ini baik-baik Pak..Suami saya baru akan datang dari Jakarta besok siang. Setelah itu marilah kita diskusikan bagaimana baiknya” jawab wanita itu. “Baiklah! Ayo Karjo, kita kembali lagi besok.” Pak Akbar memberi komando. Karjo tampak belum puas dengan hasil yang didapat. Tapi dia sangat percaya atas pak Akbar. Lalu pulanglah mereka..dengan sedikit harapan…


Keesokan harinya.. dikantor PJTKI M yang masih rusak pintunya, empat orang tampak berbicara serius. Lama..sedikit argumen dan bumbu emosi mewarnai. Tapi kali ini keadaan lebih terkontrol.. hampir 2 Jam hingga akhinya yang terlihat adalah Pak Karjo tertunduk lesu.. Sudut-sudut matanya yang nanar mengeluarkan airmata. Kepedihan..gambaran kegagalan seorang suami dan ayah ada disana. Harus menerima kenyataan bahwa istri dan anaknya sudah berangkat 2 minggu yang lalu ke Malaysia. Pihak PJTKI minta maaf karena keteledoran mereka tidak melakukan kroscek ke pihak keluarga langsung karena waktu itu permintaan pengiriman calon TKI sungguh mendesak. Tapi dengan diyakinkan bahwa di Malaysia istri dan anaknya mendapat majikan yang baik, maka urusan dengan PJTKI berakhir dengan damai.



Suatu saat sebelum keberangkatan ke Malaysia


“Min..bagaimanapun aku harus berangkat. Aku sudah ndak betah hidup miskin begini” kata Narsiah kepada keponakannya yang pulang kampung dari merantau ke Malaysia. “ Baiklah..nanti saya Bantu keberangkatannya Mbak..yang pasti resmi” Kata Minarsih. “ Yuli juga ikut ya Buk? Yuli pengen Bantu-bantu Bapak sama Ibuk nyari uang..” kata anak Narsiah. “Hallah…ngapain pake bantu Bapakmu itu. Orang dia suka kok hidup miskin!” jawab Narsiah sekenanya. Yuli yang sudah tau tabiat Ibunya hanya diam saja..



2 tahun kemudian..


Terlihat seorang lelaki tua yang duduk di taman kota. Tampak menerawang dan sedang memikirkan sesuatu. Tampak sekilas dia memang stress memikirkan hidupnya. Dari awal aku datang ke taman ini, hingga sudah 2 jam..aku hanya mengamati dia duduk diam. Dialah pak Karjo..lelaki itu semakin kurus ceking. Matanya seakan menanggung beban hidup yang amat berat. Istri yang dulu dicintainya kini pergi meninggalkannya. Bahkan setelah pulang dari Malaysia, si istri Narsiah tak mau lagi kenal sama Karjo yang menjadi petugas keamanan di pasar burung. Sejenak setelah dua jam seakan dia hanya berbicara pada udara, tampak sedikit raut senyum diwajahnya. Ahh.. rupanya…dengan hati sedikit lapang dia bercerita padaku. “Aku boleh gagal sebagai lelaki yang dicintai nak. Tapi aku tak pernah gagal menjadi seorang Ayah. 2 bulan lagi anakku pulang dari Malaysia. Dan dia pulang untuk Bapak..untuk Bapaknya ini” katanya tersenyum padaku. Aku hanya bisa ikut tersenyum bersamanya, dan berkata “Iya Pak Karjo..Yuli tetap anakmu”.


The end..


Based on true story…




NB:

  • Akhrinya setelah pusing mencari nama tokoh, nama Akbar-lah yang terpilih sebagai pemran pembantu disini. Hahaha..ini nama belakan dosen pembimbing TA-ku dulu. Waks!waks! (maaf Pak..belum ada rejeki waktu main ke Ampel..InsyaAllah..sangat amat diusahakan).

  • Nama Karjo awalnya Karmin..tapi kok bisa berganti sendiri menjadi Karjo..aku tak mengerti kenapa.

  • Nama tempat, tokoh, hanya samaran..

  • Foto keponakanku Tuh!! Huhuy... Ada yang Mau? mau? mau?

  • Aku gak suka cerpen ini. Hmmm...apa karena aku gak bisa nulis gaya percakapan gini yach? Kayaknya mesti cari literatur yang laen selain komik. Hohoho... Herlequen boleh tuh....wkwkwkwk...



Sabtu, 16 Januari 2010

– A lonely Roads (2) – Liburan Part III

Hari kedua…

Acara penyambutan tahun baru yang selalu berlangsung lewat tengah malam (ya…pastinya), membuat kami (bohong..keknya aku doank! :D) bangun kesiangan. Rencana awal untuk meneruskan jadwal perjalanan selanjutnya jam setengah 6 malah molor.. akhirnya angka 6 kbalik jadi 9. ha..ha..ha… dan Aku bersama mbak Siwi juga dua teman yang lain..langsung bergegas menuju Pantai!!! Cihuyyy!!! ( I LOVE IT)


Waktu tempuh perjalanan kurang lebih 2.5 jam dari kota, dimana setengah jam diantaranya adalah waktu untuk sarapan..nasi jagung, ikan asin, urap-urap, telor ceplok..plus teh anget. Hhh..selera lidah gak bisa dibohongi biar tiap hari udah berganti sarapannya roti diolesi margarine doank. Tapi kalo ada makanan beginian, laksana pulang ke kampung halaman. Hehehe… perjalanan berangkat berlangsung lancar.. dengan pemandangan yang luar biasa. Tapi begitu sampai di tempat pembelian tiket.. Wuihh!!! Antri bukan main!!! Untung inisiatif turun dari motor dan nyungsep di kerumunan orang untuk beli tiket duluan dan nunggu di pintu portal. Jalannya juga nanjak banget…mesti pake gigi satu baik kendaraan roda dua maupun roda empat..meski gitu…tetep nasib naas…gara-gara ada mobil yang eror pas di depan motor kita (motor temen aku aja ding), kita jadi mundurr…hampir jatuh karena jalan bisa dibilang kemiringan sekitar 75 derajat (maaf..alat ukurnya lebay). Lalu…sampai lah kami di… Pasir putih…yang hangat.. Debur ombak..dan angina lautan..(hehe..Opie Andaresta).



SubhanAllah.. Engkaulah yang menciptakan langit dan bumi. Engkaulah yang Maha mengetahui rahasia Hati. Dan karena Engkaulah aku ada disini..ditempat yang dulu hanya sebuah mimpi ingin kukunjungi. Dan kini kupeluk ..kucium..kurasa…semua nyata. AKU DATAAAAAaaannngg!!!!


Hal pertama yang aku lakukan adalah :” Takjub luar biasa!!” bengong..dan tak henti dalam hati mengucap “Subhanallah WAllahu Akbar!” benar-benar ngerasa semua yang ada terasa kecil.. semua masalah gak ada artinya. Betapa rumit dan luar biasa indah ciptaan Allah.. benar-benar mata terbuka.. “semua sudah direncanakan “ kita tinggal mengikuti jalan Tuhan. Hi..hi..hi… lamaaaaa…sekali hanya duduk dan duduk.. ini kalau mau terus-terusan disini paling aku juga gak ada bosennya.



Terekam sebuah sudut di tempat itu, tak asing meski aku nggak pernah kesini sebelumnya. Pemandangan yang sama kayaknya. Ahh,…aku kesini buat seneng-seneng kok. Yang lalu..monggo..silahkan lewat..abis..sudah bosen bahasnya. Kalau aku masih melukis, kepengennya nglukis disini ya?? Mm…tapi karena sekarang senengnya nulis..jadi pengen diceritakan semua.

Pindah dari pantai yang ini, nyari tempat yang lebih sepi.. dan sampailah aku disini… Huhuhu…langsung pasang head set dan nyanyi sepuasnya. Biar jadi tontonan juga emang aku pikirin. Dari berbulan-bulan lalu emang pengen gila gak jelas gini kok.



Lama mengagumi sambil nungkring diatas pohon…akhirnya aku meluncur untuk mencelupkan kakiku ke air jernih..laut…mulai menyapa binatang-binatang yang luar biasa cuek berlalu lalang di depanku. Satu hal yang membuat mereka ketawa (mungkin ) adalah pertanyaan konyolku “Kenapa kalian bisa berenang, sedangkan aku tidak?” ha..ha..ha… Temen-temen Garry (Almarhum keongku yang kukubur cangkangnya di pantai ini),



Ada si landak laut (itu bukan teripang!!!),



Ada gurita.. (mmm..bener gak?),


ada banyak ikan badut yang tercebak di kubangan batu-batu karang (sayang gak bisa difoto karena gesit banget). Dan ada nama FP terukir di pantai itu… huhuhuhu…


Satu obsesi!! Bener-bener aku laksanakan. Teriak! Menyanyikan lantang sebuah lagu..disini! dan aku harap disetiap tempat yang aku kunjungi nanti. Lagunya apa fa?( rahasia donk. Haha..Cuma lagu favorit untuk teriak aja. Soalnya lagunya pas banget buat teriak-teriak! ). Hhh…pengennya ngasih rekaman videonya.. Cuma kok ternyata gak terdengar suaranya. Tapi keren untuk dinikmati sendiri.. jadi fotonya aja.




Sempet terpeleset dan terantuk karang juga lho..(aduh!), sampe kaki biru dan lecet-lecet. Untung…cuman kaki..



Habis itu… narcis mode on!!!


Sempet tiduran di karang-karang. Item urusan nanti..apalah guna salon kecantikan. Huhuhu….



Jalan-jalan selesai…, aku balik ke kota. Esok paginya mesti balik ke Malang. Sudah selesai aku disini. Jember.. lihatlah langkahku. Tak ada rasa benci. Tak ada rasa dendam. Aku datang dengan damai. Tak ada yang salah. Semua sudah semestinya. Manusia bisa gagal, tapi Tuhan tak pernah gagal. Manusia bisa tak adil, Tapi Tuhan selalu adil.


Ingatkah hari itu?

Sebuah puisi untukku ?

Kau benar sun shine..

Aku hanyalah rintik hujan

Tapi tak apa

Karena setelah aku pergi

Kau bahkan takkan menyadari

Telah kutinggalkan sebuah pelangi

Bukan hanya untukmu,

Tapi juga untuk semua


Seenggaknya, aku bisa mengenang sesuatu yang indah saja. Dan memandang segi positifnya. “Terima kasih.., melepasku dari belenggu itu” cukup kuhargai keberanianmu saat itu, mengingat aku mungkin takkan pernah mampu memintanya. You’re rock man!!!


Believe me, it's alright

It's so easy after all

(Sum 41)




The End...

Dedicate to all.. “Para Laskar Cinta!!”

Jumat, 08 Januari 2010

– A Lonely Roads (1) – Liburan Part II


Keesokan harinya setelah Kopdar bareng BSE…

Hari ini seharusnya aku bergegas pergi. Tapi aku malas sekali…pagi ini sedingin air es yang didiamkan lama. Serasa masih mencengkeram tajam saat disentuh. Fiuhh.. Sedangkan aku harus mandi??! Oh..my God..aku benar-benar butuh air hangat. Kadang aku bertanya pada diriku sendiri. Bagaimana bisa aku mandi rata-rata antara jam setengah 5 ato jam setengah 6 pagi setiap hari?? Itu..sulit dijelaskan lagi,tapi tuntutan perut penyebab utamanya. Ha..ha..


Sudah siang ini, aku belum beranjak..kudengar para tukang bangunan yang dari sekitar 1 bulan lalu bekerja membangun kamar baru di kos sudah mulai berdatangan. Akulah yang pemalas hari ini. Kuseret juga tubuhku untuk segera berbenah dan menuju ke tempat yang sangat aku kenal: “Rumah”. Mesti pulang dulu sebelum berangkat ke suatu tempat. Apalagi kakak pulang dari Mekkah..(jangan sampe kehabisan oleh-oleh lah aku..hohoho…). Tapi alasannya yang memang harus pulang..ini kan liburan mana boleh tidak pulang dengan jarakku yang bisa ditempuh hanya 3 jam saja dari kota aku bekerja. Kalau ingat kata guru kimia SMA ku dulu..ini dinamakan “kebolehjadian”. Kau masih ingat pelajaran itu kawan? Sehari semalam aku berada di rumah..lalu balik lagi ke Malang, menyelesaikan misi!! ato obsesi ya?! Whatever-lah.. aku lebih suka menyebutnya bagian dari sebuah mimpi..

30 September 2009 jam 14:10 waktu Stasiun Kota Baru Malang (mungkin..). Padahal jam tangan sudah di setting lebih cepat daripada jam kantor yang juga lebih cepat dari jam-jam yang ada. Agak nggondok karena harus lari-lari karena kereta sudah mau berangkat. Memang setelah membeli tiket aku tak menunggu di Stasiun, tapi aku ke Warna-Warni untuk buka internet. Selain ketemu lagi dengan BSE yang kali ini di dunia maya, juga sempat ngobrol dengan teman dekat di YM. Basa-basi…begitulah adanya. Maklum,waktu pernikahan teman aku satu ini aku tak bisa datang. Ternyata kereta hanya ganti lokomotif di Stasiun Kota Lama (hallah..udah capek lari juga).
Aku cukup beruntung mendapat tempat duduk di dekat jendela, berhadapan dengan sepasang muda-mudi. Sudah 30 menit berlalu, pemandangan rumah-rumah yang lebih terkesan kumuh daripada sederhana sudah mulai berganti dengan hamparan sawah yang hijau muda warnanya karena bibit-bibit yang baru ditanam musim ini. Hujan pun kian kerap menetes, suara bayi menangis dari gerbong yang sama, pedagang asongan juga tak henti berlalu lalang. Dan aku mulai tenggelam..mencari dan bertanya pada diriku sendiri.


Langit seakan mengerti
Coba hentikanku kali ini
Mendatangkan hujan
Berdalih alirkan mimpi
Tapi ini aku disini
Sudah sejauh ini
Aku tak akan kembali
Terus mencari
Untuk yang lalu… dan yang Kini



5 Jam perjalanan aku habiskan untuk beberapa hal..: menulis, melamun, mengobrol, tidur (thx God) dan mengemil. Lima kegiatan untuk waktu 5 jam dan akhirnya aku sampai di tempat tujuan. Dikota itu, tempat bertahun-tahun yang lalu aku lintasi ruangku..hanya untuk melihatmu. Sudah hampir jam setengah 8 malam.., aku bergegas mencari angkot menuju tempat seorang kawan untuk menginap. Tentu saja kami sudah janjian dulu sebelumnya. Setelah melewati barisan tukang ojek yang super duper ngeyel bin ngotot. Aku mencoba mengorek memoriku untuk mengingat jalan mana yang aku lewati agar bisa memperoleh angkot. Sepertinya aku harus percaya kali ini pada seorang temanku yang mengatakan bahwa “Kau tahu? Ada dua sifat yang biasanya dimiliki lelaki yang kau punyai dan membuatmu selalu beruntung tidak hilang saat kau ngeluyur gak jelas. Pertama, kau tidak gampang panik saat tersesat, dan kau punya peta dikepalamu”, (aku tersenyum sendiri mengingat kata-kata itu).


Setelah sampai ditempat yang telah dijanjikan, disebuah perempatan yang ditengahnya ada sebuah tugu. Aku menunggu di sebuah pangkalan becak dan ikutan seru melihat bapak-bapak becak main catur. Hujan masih rintik..ini berarti hujan menemaniku dari Malang sampai ketempat ini. Kudongakkan kepalaku keatas, aku tersenyum pada langit yang tak berbintang. Kuucapkan satu kata “Tuhan..aku disini” lirih..sekali, hanya pada diriku sendiri. Beberapa lama kemudian kawanku datang menjemput. Sungguh pertemuan yang menyenangkan setelah hampir sekitar satu tahun lebih aku tak bertemu dengan kawan baikku ini, my ex roommate saat masih berjuang di Surabaya..: “Eka Siwi Alantari”. Setelah melepas rasa rindu yang luar biasa, acara selanjutnya adalah makan malam, minum kopi, dan mengobrol di kamar. Senang sekali kembali mempunyai roommate lagi meski sementara. Yang empunya kamar sudah mengantuk..sedangkan aku?! Tuhan..mata ini tak rela terpejam mesti tubuh rasa lelah. Terpikir saran –seseorang- untuk matiin lampu kalau gak bisa tidur, dan klo keadaannya ini bukan kamarku sendiri..maka dia harus bertanggung jawab atas sarannya. Dan ku-smslah dia. Ha..ha..ha.. (:p)

Hari pertama…


Untuk hari pertama, aku meng-cancel rencanaku ke Taman Botani. Cuaca dan rute penyebab utamanya. Aku memutuskan menyusuri kota ini. Sendirian-lah tentunya, karena kawanku Siwi masih harus kerja (mbak – biar enak di cerita aku panggil Siwi aja, maap ya..-). Dengan sedikit petunjuk dan arahan yang sebenarnya tidak benar-benar aku perhatikan berangkatlah aku menyusuri kota.. “Kotaku” begitu dulu “kau” bilang. Ada satu tempat yang aku ingin kunjungi..lebih tepatnya aku buktikan. Hmm.., alih-alih aku mengerti, yang ada aku kesasar..muter..muter…muter…(muter lagi…) aku ngikut aja angkot pergi. Sampai melewati sebuah tempat yang pasti ada di setiap kota: “Alun-alun”. Turun salah satu pojok deket RuTan (rumah tahanan-red-), aku berdiri sejenak untuk memutuskan jalan kemana dari tiga arah jalan yang ada didepanku. Btw, sebenarnya aku gak tau kalo itu Rutan kalau tidak ada seorang petugas yang menanyaiku..”Mau kemana dik?” (thx pak..jadi selalu ngerasa muda), aku senyum aja membalas pertanyaannya. Lalu dia meneruskan pertanyaannya “ Hari ini gak ada jam besuk dik..,jadi besok senin aja datang kembali kesini” (kali ini aku melongo..). Aku baca tulisan yang ada di depan kantor.. “Rumah Tahanan bla..bla..bla..” (ha..ha..ha…mungkin aku dikira saudara jauh yang mau jenguk pesakitan didalam). Atau mungkin aku seperti seorang preman ya??? (Ahh…!!)


Aku jalan saja menuruti kakiku, sambil sms mbak Siwi (gak enag panggil nama aja –kebiasaan-) bertanya tentang sebuah tempat. Belum sampai aku menerima balasannya, sampailah aku di Kantor Pos.., kulihat ada orang mengerumuni sebuah papan. Tertarik aku ikut mendekat, ternyata mereka mengerumuni info Lowongan Kerja. Wajah serius..,catatan kecil, bolpoint..,cerminan para pejuang intelek muda (begitu kiranya aku menggambarkan diriku disaat dulu aku berada diposisi mereka) Ha..ha..ha.. (lari biar gak ada yang nimpuk!!). Aku masuk kedalam dan duduk di bangku kosong. Aku diam..lalu diam..terus diam..(hallah..), sampai akhirnya aku mati gaya, aku nanya iseng tentang kartu pos. dan ajaibnya benda ini masih dijual. “5 biji 1000 rupiah” jawab langsung petugas yang kutanya. Sepertinya dia gak rela kalau aku hanya bertanya ato iseng saja dia terus melihatku dan bertanya lagi “Beli berapa?” . Ahh...dari pada aku menerima pandangan maut si petugas, kukeluarkan 1000 rupiah lalu dapatlah aku 5 Kartu pos..(sebagian kukirimkan..,tapi ada yang kusimpan). Ok!! Aku memang iseng..aku kira kalian sudah tahu itu.. kalau belum tau..ya biar taulah.. (keks! Keks! Keks!).


Didepan Kantor Pos itu, terhampar sebuah tempat : Alun-alun. Aku duduk-duduk di taman alun-alun itu, lamaaaaaaaa….sekali! (beneran lama). Ok, aku foto-foto..aku mengabadikan yang ingin kuabadikan. Lalu aku berkenalan dengan seorang Bapak yang juga sepertinya senasib denganku (menikmati kesendirian –red-). Mulailah kami bercerita (sebenarnya si Bapak yang banyak cerita), dan dari hal-hal yang tidak terduga seperti inilah aku mendapatkan ide ceritaku. Iya!!sebuah cerita! Bisa jadi ini akan jadi cerpen ato mmm… apalah nanti. Kami hanyut dalam sebuah sandiwara dunia dengan lakon si Bapak, sampai sebuah sms aku terima. Dari Adekku (aku sudah menganggapnya adikku sendiri), bahwa dia akan menemuiku segera di tempat ini.


Begitu Adikku datang bersama his “beibz..” hahaha… secara otomatis aku punya tukang foto dan juga tour guide. Kami meninggalkan Alun-alun untuk Sholat dan makan siang. Lalu aku menuju ke tempat yang tak asing sama sekali buatku, ..sebuah.. “Kampus”. Banyak sekali kenangan disini (untukku mungkin karena “dia”, tapi untuk-“nya” yang aku sadari.. hanya sebagian kecil saja mungkin karena “aku” –aku bahkan sangsi-). Kuabadikan semua sisi yang dulu tak pernah aku bisa abadikan dengan sebuah gambar. Kudatangi tempat yang dulu aku datangi. Tak ada rasa getar apa-apa lagi..,tinggal perih. Lalu kuputuskan untuk pulang ke kost Mbak Siwi..


Hari ini aku menjelajah
Mencari sesuatu yang hilang
Berharap aku masih punya arah
Namun semua tak sama
Tidak tempat ini
Tidak hati ini..
Tidak aku..
Bukan lagi kamu


Sisa hari itu kami habiskan untuk menyambut pergantian tahun baru.. Do’a.., harapan, mimpi.., cita.., cinta.. semua yang terbaik yang kita harapkan semoga tercapai.



Happy NeW YeAr..!!!!


To be continued...

Sabtu, 02 Januari 2010

Liburan Part I *** KopDar bareng BSE***



Assalamu'alaikum... Apa kabar kawan??! (ha..ha..ha..kata pembuka awal yang khas dari BSE aku comot disini). Soalnya ini cerita tentang KopDar antara Flypuccino penguasa aathena dengan pendiri BSE yakni Erikson bin Asli Aziz alias EWbAA (AD tak mau ah..panggil kau EWBAAZ..,kan tak khas bin spesial versi AD k'lo niru-niru..:p). mesti dari mana yach ceritanya???? hmmm....ehm...ehm...

Akhirnya...Alhamdulillah terjadi juga kopdar bareng BSE. Meski rencana ketemu mundur (banget!) dari rencana awalnya jam sepuluh pagi jadi jam 1 siang. hohoho...bisa dimengerti juga.. namanya juga naek gunung. Tapi rasa-rasa sudah cukup berkesan untuk sebuah syarat kopdar. HHhhh...padahal sudah dicariin tempat kopdar yang ok! udah dicariin menu yang mak nyus! eealahh....akhirnyapendiri BSE harus puas dengan makan ayam goreng versi depot warna-warni (ha..ha..ha...). Agak lucu karena ayam goreng yang dibayangkan EW tak sama dengan kenyataan. Disini memang gak ada bedanya antara ayam goreng lalapan yang bisa dialiaskan lagi ayam goreng penyet. Yang Fa suka, tuh orang makannya Lahaaaap bener!!! (dua jempol buat nafsu makan lo EW!). FP sendiri..ditraktir Hot Cappucino..hu..hu..hu...(and u now understand why i use name flypuccino). Sangking lahapnya...ayam goreng ludes duluan..dan EW pesen lagi dua tempe goreng. Niat hati satu tempe buat AD nich kalee ya...tapi AD liat tuh orang pelan-pelan abisin tempenya..ha..ha...ha...(ikhlas deh..)hallah...

Lumayan banyak yang kita obrolkan. Tak jauh-jauh dari blogging, buku yang dibaca, rencana nulis, terus kegiatan, cerita pendakian EW ke Semeru,mmm...ga lupa pastilah yang empunya berkejaran tersangkut-sangkut dalam obrolan kita (sumpah! dia ngomong baik-baiknya lo burr..klo gw gak jamin ngomong baiknya lo doank..kiaks!).

Kesan Fp waktu ketemu EW ...serasa sudah kenal lama (emang lumayan cukup lama kali yach...meski lewat Blog dan Fb). EW..tak jauh dari gambaran di otakku kok. (Mesti digambarkan gak ya???hmm....), nich orang yang paling Fp sukai adalah Positive Thinking-nya..(Nich..yang paling AD suka dari lo EW...), baik (kita semua sepakat kali ya kawan semua tentang ini), pinter..(hohoho...keliatan banget), friendly... (udah...jangan banyak-banyak..)

Dalam kopdar ini, tak ada foto yang mengabadikan...(fotonya kabur semua tuh..). Setengah hati emang sengaja sih...meski sudah kepikiran mau foto-foto waktu nemenin EW makan. Abisnya...,FP lagi dalam keadaan mengenaskan karena insomnia dihari-hari sebelumnya. Finally..EW penguasa BSE mesti balik ke kota Jakarta dibawa kereta Mataremaja dengan semangat barunya (kayaknya...). Dua hari berikutnya...aku ke warna-warni lagi. Kali ini bukan untuk minum hot Cappucino, tapi untuk ketemu EW lagi. HAnya saja..bukan didunia nyata..tapi di BSE. karena aku harus mengejar kereta yang membawa perjalananku sendiri...

to be continued...