Kamis, 11 Maret 2010

Terasa Salah..


Kutenggelamkan kakiku di rerumputan pagi itu. Daun-daun mungilnya seakan menggelitikku mengajak aku bercanda. Sapuan embun menyejukkan menjalar kejiwaku yang gersang semalam tadi. Sejauh mata memandang kabut masih menantang. Ayah..,aku pulang.. sudah sejauh ini tapi masih rasa malu untuk menemuimu. Bunga-bunga yang kau pesan sudah kucoba aku tanamkan. Ayah..,sanggupkah aku kali ini?? – Kertosono,7 Maret 2010 -


Aku belum bisa menemuimu..atau menemuinya, lalu aku kembali ke kota ini...

Malang, 11 maret 2010


Cahaya matahari menerobos melalui celah pintu. Memberikan penerangan menyilaukan tak sempurna. Sangat kontras dengan udara dingin kota ini. Entah disini, atau yang disana..ada sesuatu yang tak semestinya. Kenapa perih kalau tak luka? Kenapa lemah kalau tegar? Kenapa sepi meski tak sendiri? Apakah sudah benar seperti ini? Kadang ingin menertawakan semua yang telah terjadi bersama-sama. Kulihat cermin dan kucoba membentuk sebuah simpul senyum dengan bayanganku. Tapi yang terjadi..setiap terbentuk sebuah tawa semu, bersamaan pula sebuah goresan menggiris hati. Ya…hati.. aku juga punya hati. Yang kadang mungkin orang lupa, bahwa bukan hanya mereka yang bisa merasa terluka. Ha..ha…ha…lucu…sungguh lucu! sekarang aku menertawakan diriku sendiri. Betapa aku membenci diriku yang lemah seprti ini. Lemah dan rapuh..,tapi apakah itu juga salah? Bukan hanya mereka yang bisa merasakan lemah..merasa rapuh.. karena aku juga manusia. Aku mungkin akan lebih memilih menjauh sejenak saat aku terluka. Tapi tak pernah bisa rupanya aku benar-benar pergi lalu menghilang. Aku berontak untuk menyerahkan alamku. Ini duniaku bisa tertawa, ini semestaku bisa bermimpi. Ini langit kubisa melukis pelangi. Semua bisa kau warnai, tapi tak berhak menyuruhku pergi untuk selanjutnya mereka tempati. Lalu hanya kau jadikan aku dongeng saat-saat sepi. Ini taman syurgaku. Hanya ini punyaku..


Mungkin aku akan terus tersesat, tapi meski aku berlari memutar waktu..kepedihan yang paling pedih kurasakan adalah saat aku berpura-pura mengabaikan apa yang sebenarnya tak pernah terabaikan olehku. Berpura-pura tak peduli apa yang sangat kupedulikan. Telah kuhukum diriku dengan sangat perih. Maafkan aku..aku harus katakan, tak ada cara lain untukku..Aku harus bertahan! (Kertosono,7 Maret 2010)


Lalu aku sadari..ini tak benar, pembicaraan antara kita belumlah usai. Aku tak pernah pergi, masih menunggu semua argumentasi. Kita tak akan pernah berhenti berdiskusi. Kita tak akan bisa berhenti…

4 komentar:

Erikson mengatakan...

pertamax dulu... :) memang lebih mendingan menjauh dl kalo lagi ruwet karena biasanya dalam diam itu baru datang ketenangan, dan pencerahan untuk langkah yang lebih baik, sama kayak aku lahhh.. kalo lagi diajak ngobrol biasanya manggut2 sok ngerti padahal kosong pikiran ni.. nahh barulah besok2nnya dapat ide barulahh buruan nemuin kawan itu untuk berargumentasi kembali heueuheuheu

Fly^Pucino mengatakan...

hehehehe.... senyum aja lah aku EW... :)

syazwarya_diary mengatakan...

Iya kalau lagi ruwet mending menghindar dulu. Kalau aku lagi ruwet diajak bicara bawaanya emosional..hehehhe

Fly^Pucino mengatakan...

@Syaz.. Susah jg ya..hmm..