“Maaf…” hanya itu yang ingin kukatakan jika nanti kita bisa bertemu lagi. Jalan yang kita anggap jauh berbeda sudah didepan mata. Andai kau tahu betapa sulit juga bagiku untuk mengerti ini.. namun harus kita jalani. Kutatap rintik hujan yang membias dari balik kaca bus kota. “Aku harus kembali…, kita tidak bisa terus seperti ini. Jalan kita belum berakhir dan janji kita baru diukir.”
Di tepian kota bus berhenti, kuamati pemandangan sekitar yang tak asing bagiku. Rindu menyeruak seakan berlomba dengan rasa haru. Syahdu… “Aku pulang..” ucapku lirih. Kuhela nafas panjang mencoba kuasai diri..setengah hati juga untuk menegarkan keteguhanku yang seakan tergoyahkan. Pilar-pilar sudut kota yang tegak berdiri seakan menyapa. Ingin mengawalku masuk hadapi hal lama yang entah mengapa dibayanganku kini terasa mengasingkanku. Dan aku takut menatap mata-mata itu. Meski selalu dan tak pernah aku lupa katakana..,aku masih sama.
Aku sudah siapkan semua bekal.. hari ini aku tak ingin pulang. Aku ingin mengulang semua yang kumulai dulu. Menyapa teman yang menantiku di pinggiran halte.. atau di alun-alun sana. Rasanya sudah lama sekali aku menaikkan daguku. Pegal rasanya..dan ini waktu yang tepat untuk relax.. kali ini aku aku hanya mengandalkan kamera saku. Benar-benar tak ingin terburu-buru. Tolonglah aku…aku masih ingin merasa..
Kala cinta tak lagi menggema..
aku karam tak bersuara.
Bagai daun kuning jatuh berguguran…
hening khidmat begitu indahnya.
Layak hilang makna berganti rupa…
ternyata bukan tak berharga,
hanya saja…
aku telah berubah makna.
Hhhh…harus aku mulai dari sudut yang mana??? Karena dihatiku ada keyakinan tak lagi memandangku dari sudut yang sama. Aku harus berdiri di tengah dan melangkah.. aku kembali untuk buktikan, mimpiku belumlah berubah.
Hujan deras mengguyur kotaku sedari tadi. Padalah siang barulah berjalan separuhnya. Rasanya alam sedang tak berkompromi dengan perutku yang lapar melilit tak karuan. Dari pagi belum terisi makanan apapun selain kopi sisa semalam dan satu gelas lagi traktiran teman. Ahhh…seandainya aku bisa memilih ditraktir apa dan dimana.. Tapi selain itu tak sopan, mana boleh juga menolak rejeki..,mungkin inilah rejekiku hari ini. Aku sungguh malu sekali…tak ada yang bisa kubagi hari ini.
Rasanya kalau tak ingat malu, aku ingin berlari meninggalkan kota ini. Kalau aku tak punya mimpi..mungkin dari dulu aku sudah kalah. Tapi aku merasa ada banyak hal yang belum aku selesaikan. Ada dosa-dosa menggunung yang masih harus kumintakan ampunan. Ada mimpi-mimpi yang menari-nari di setiap malamku. Ada hati yang harus kujaga dan kuperjuangkan. Ada kebanggaan yang ingin kujunjung di semua alamku. Agar terhenti semua tawa yang menghina. Agar ku genggam erat semua tangan yang merangkulku.
Masih ingat saat aku menginjakkan kakiku ke tempat ini. Hanya sebuah koper tua warisan ayahanda. Lorong yang dikanan kirinya pintu kamar berhias lampu kuno menambah tua bangunan yang kini menjadi sesuatu yang kusebut rumah. Bau aneh yang tidak bisa kudefinisikan dulu, kini bahkan tak kurasakan lagi. Hidung ini sudah terbiasa rupanya. Bahkan nyamuk-nyamuk yang dulu berebut darahku, kini juga merasa prihatin dengan badanku yang semakin kurus kering. Atau darahku tak lagi manis?? Terlalu banyak berlauk ikan asin. Ahh…,nyamuk itu pun kasiani aku. Sungguh sial aku..! Suatu waktu pernah kuteriaki para nyamuk itu. Tentu saja saat aku lagi baik hati.. “Muk..nyamuk…!!cepatlah makan darahku saja saat ini, nanti kalian akan merinduku. Karena saat aku sukses dan gemuk lagi.. akan kutinggalkan tempat ini.. !!”
Sudah lupa aku berapa lama angan-angan hanya sekedar rencana.. sampai aku mengenal seseorang. Tubuh kurus kering yang mengenaskan dari pada tubuhku yang juga kurus itu. Bukan berasal dari kurang makan atau kehabisan dana. Itu hasil terlalu berfikir.. manusia mana tak habis badan jika semua beban hati ditelan sendiri? Aku saja tak sanggup membayangkan. Mungkin aku sudah meledak seperti tabung gas LPG 3 Kg yang sekarang marak diberitakan. Tapi tubuh cekingnya itu bertolak belakang dengan gayanya yang gesit. Macam lalat yang seakan punya tiga nyawa. Sungguh menipu..
Hari ini dia bangun lebih pagi dari biasanya. “Nyari rejeki ekstra bos!” katanya seakan menjawab pertanyaanku yang tak keluar dari kepalaku. Mungkin pandangan mata heranku sudah cukup merupakan pertanyaan. “hmm…” aku tersenyum berbasa-basi membalasnya. “Sumanto!” masih kuingat waktu setengah tahun yang lalu dia datang ke tempat ini. Tas ransel doreng mirip tas-tas tentara di punggungnya. Nampak sangat terlalu berat untuk ukuran tubuhnya. Tentu dia bukan kanibal meski namanya mirip. Bahkan dia sepertinya vegetarian. Belum pernah kulihat dia makan nasi berlauk ikan ato daging. Hanya tempe ato tahu… laen hal… jika ikan teri itu juga digolongkan daging.
Jauh setelah hari hujan itu, saat aku sadar bahwa Sumanto bukan seorang vegetarian. Itu karena beberapa kali dia mengoleh-olehi aku daging ayam. Sampai pikiran iriku hampir mengatakan bahwa Sumanto yang kukenal ini sama dengan Sumanto si kanibal itu. Masalahnya tubuhnya jauh lebih gemuk..dan senyumya lebih mengembang karena pipinya lebih gembul. Bukankah antara lain karena dia sudah makan daging??! Ahh..tentu saja itu karena pikiran burukku saja.. Hari itu hari saat aku sedang memperbarui rencana masa depanku. Aku sedang menyusun strategi baru. Karena strategi yang lalu sudah usang tidak mungkin dilaksanakan karena waktunya sudah tidak tepat. Sudah kadaluarsa alias karatan. Makanya aku pikir..perlu rencana baru yang lebih modern.
Tiba-tiba pintu kamarku diketuk seseorang.. Tas ransel doreng menjulang disangga bahu kekar.. itu Sumanto. “Ada apa? Kau mau kemana?” tanyaku langsung.. “Aku mau pamit bos.. mau pindah, Alhamdulillah.. Aku sudah nyicil rumah” jawabnya santun dengan senyum ramah. “Alhamdulillah…kapan kau mulai tempati rumahmu itu To?” tanyaku lagi.. “Besok bos, barangku tak banyak juga. Cuma baju dan radio tua, aku kesini mau pamitan bos..” katanya malu-malu. “Knapa mendadak To..?”, “Gak mendadak bos, sebenarnya sudah lama aku kepengen pindah dari tempat ini”. “Hebat kau To.. selamat ya?!” “hihihi…macam apa dikasih selamat bos.. tapi terima kasih jugalah aku bos” “Ternyata kau lebih dulu meninggalkan tempat ini To.., aku harap aku segera menyusulmu meninggalkan tempat ini.” “Bos pati bisa lah.. malah akukan yang ngajari juga bos..” “Ngajari bagaimana to To?” tanyaku semakin penasaran. “Ya..bos kan yang ngajari aku untuk selalu bermimpi.. Untuk selalu memupuk mimpi-mimpi kita bos..” lama aku terdiam… bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Aku semakin tak mengerti..apa yang beda antara aku dan Sumanto. Kami sama-sama bermimpi.. tapi … ahh… aku tak mengerti. “Sudah ya bos.. aku pamit dulu.. aku masih akan sering ke sini kok bos.., aku tentu saja tak akan lupa tempat ini. Apalagi sama bos!” ** hening.. kami bersalaman..
Saat tubuhnya memunggungiku.. kuberanikan mulutku bertanya pada orang ini, pada orang yang secara pendidikan formal tak jauh lebih tinggi dari aku.. pada orang yang selalu memanggilku bos. “To..apa yang kurang dari mimpiku???” tanyaku hampir berteriak. Langkahnya terhenti dan dia membalikkan tubuhnya menghadapku. “Aku tak tahu bos.. saat bos mengajariku bermimpi.. aku hanya menurut saja. Aku mimpi setinggi yang aku inginkan. Lalu setiap pagi saat aku bangun tidur.. Aku ucapkan ‘Bismillahirrahmanirrahim…dengan Nama Mu Ya Rahim.. ijinkan aku mewujudkan mimpi-mimpiku hari ini..’”, begitu saja bos…
Aku mengangguk.. kuangkat jempol kananku padanya.. lalu kubilang “Tunggu aku kawan! Aku akan berlari wujudkan mimpiku”. Hari itu setelah kulihat dia pergi.. kuambil wudhu.. lalu setelah sholat kuraih ranselku. Aku tak jadi mengatur rencana baru. Aku hanya perlu menjalankan mimpiku.. Bismillah.., dengan nama-Mu Yaa Rohim..
The End..
** inspired oleh sebuah lagu
Hidup ini.. sederhana, berani bermimpi.. lalu mewujudkannya.. -
Hangatnya matahari terusik mendung yang menjingga. Orang pun lalu-lalang bergegas mencari tempat yang aman dari berangasnya alam yang seakan mencekam. Tapi denganmu aku tidak merasa tergesa. Kau berjalan laksana percaya pada dunia. Meski sering kali kau membuatku sebal jika kutanya apa itu? Atau kenapa begitu? Bagaimana tidak..? karena jawabanmu akan selalu sama.. sebuah senyuman. Hhh…aku habis akal karena tak sabar.
Pernah suatu hari di suatu pagi… Meratap dinginnya senja di pagi hari. Menyusuri jalan-jalan setapak yang kujejaki semalam tadi. Mencari teka-teki keresahan yang menjajah relung-relung hati. Banyak pilihan jalan yang bagiku tampak serupa. Semua dengan resiko yang tak bisa kupandang sebelah mata. Dibalik debu dan kabut yang menyelimutinya. Aku akan mencoba perlahan mencari jawaban semua tanya atau mungkin hanya mimpi-mimpiku yang tak pernah ada ujungnya. Lalu kutanya padamu yang menggenggam tanganku ringan. Harus bagaimana? Kau hanya tersenyum lalu menarikku berjalan menyusuri taman. Lalu kau ceritakan tentang bunga-bunga yang bermekaran… dongkol bukan main hatiku saat itu. Lalu tanpa sadar aku terlena dengan indahnya kupu-kupu yang berterbangan diantara bunga-bunga yang kau ceritakan. Aku takjub dan tersenyum riang… lalu aku terlupa akan masalah yang memang tak ada habisnya. Denganmu kau ajarkan aku menjalani tantangan. Bukan berlari menghindar..
Mungkin dunia akan menanyakan pada langit senja ini apa yang terjadi. Serba-serbi manusia akan muram dengan meredupnya bumi. Dengan air mata yang mencurah haru dari langit.. seakan menghalangi mimpi-mimpi manusia yang bertebaran di atas tanah. Tapi bersamamu aku hanya terdiam. Mengikutimu menadah hujan dengan kedua tangan. Mencoba merasakan apa yang hendak disampaikan alam..begitu katamu. Aku hanya cengar-cengir mengikuti saja. Kurasakan hujan gerimis menyapu lembut telapak tanganku. Pelan…lalu membasuh mukaku. Aku tak lagi melihat muramnya langit mendung yang menjulang. Tak lagi hiraukan jadwal padat yang menanti ku di depan. Aku turut mendengarkan alam yang bercerita sambil berdendang. Meski bahasanya kadang tak bisa aku mengerti… bahkan seringkali membuatku merintih sepi. Tapi denganmu, kini aku diam berkhidmat… kau bungkam tanyaku dengan senyum penuh artimu. Kau raih lagi tanganku. Lalu kau tunjukkan padaku di ujung langit jauh sana… pemandangan luar bias indah menyesakkan hati. Indah sebuah pelangi menghantarkan gerimis lembut yang menyapu bumi.
Lalu saat hujan tak gerimis lagi… kau mengajakku menjalani lagi hari sambil menceritakan tentang warna-warna pelangi… J
BASED ON TRUE STORY….
Thx to all yang pernah, selalu dan akan menggenggam tangan menghadirkan senyum di duniaku ini… kalianlah sahabat… kamulah sahabat…
Kulihat dia lagi sore ini di sudut jalan itu. Tampak selalu berseri ayu.. menyapa manis gerimis yang mecoba membasahi kerudung merah jambu. Kali ini aku ingin melihat saja, ingin merekam semua geraknya di setiap detik kesempatan yang kupunya. Selagi bisa kutemui dia disana, selagi bisa kudapati dia yang bersahaja..
“Kau bukan hanya mimpi teman..tapi kau sudah gila. Sebaiknya kau segera sadar dan kembali ke kehidupan nyata yang keras terus menghantam kita”kata Herman temanku kemaren malam saat aku bercerita tentang betapa aku jatuh cinta padamu mbak.. makanya hari ini aku tak berani menyapamu seperti biasa. Aku takut kecanduan. Seperti obat-obat terlarang itu yang membunuh sahabatku bulan lalu. Aku tak mau seperti dia..aku belum mau mati mbak. Aku ingin membuktikan padamu bahwa aku bisa menjunjung langitku sendiri. Seperti yang sering kau katakan padaku. seperti yang selalu kau ajarkan padaku. Aku terlalu mengagumimu..terlalu berharap kau akan terus dan terus mau menemuiku dengan alasan apapun.
Masih kuingat hari pertama kita bertemu kala itu. Kau sungguh tak berbeda dengan yang lainnya..kecuali senyuman itu. Terasa halus memukul sanubari setiap manusia yang merasa hina seperti aku. “Orang Jalanan” begitu sering kudengar orang memanggilku. Tapi ketulusanmu hari itu menembus relung-relung jiwaku. Aku merasa diangkat dan kau duduk kan bagai orang-orang kantoran yang berdasi itu. Tiga hari kemudian kulihat kau di sudut jalan yang sama..tampak tak beda. Kukejar sebisa kakiku berlari. Aku hanya ingin melihat kau tersenyum. Kudendangkan lagu-lagu dengan suara khas cemprengku yang membuatmu tersenyum-senyum lucu. Aahhh..kau seperti peri kecil yang diturunkan Tuhan untuk menghibur kami-kami para penghibur rongsokan ini.
Hari-hari berikutnya di jam-jam itu aku menunggumu di tempat itu. Sudut jalan yang sama.. akhirnya ada hari aku bisa menyapamu. Ada kesempatan pula untuk tau namamu. Bahkan aku seperti layaknya teman yang kau percaya untuk kau beritahu nomor hapemu. Aku sungguh besar kepala luar biasa. Tak menyurutkan rasa kepedeanku meski akhirnya aku tahu bahwa kau tak hanya ramah seperti itu padaku. Bahwa ternyata kau mengajak orang-orang lain sepertiku entah berapa banyak untuk kembali bermimpi. Untuk kembali menjunjung langit diatas bumi.
Pernah dengan lancang kuungkapkan perasaanku padamu. Dan kau hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih padaku. Dengan mata berbinar kau katakana padaku “Kau hanya sedang tersilau oleh cahaya matahari yang menghalangimu melihat birunya langit.. Percayalah bahwa kau bisa menjunjung langitmu sendiri. Saat itu bahkan kau mungkin sudah melupakanku. Tapi di sudut lain di suatu kota. Kita akan kembali bertemu.. dan kau yang akan tersenyum menyalamiku dengan penuh kebanggaan”. Aku masih terlalu bodoh untuk mengerti kata-katamu mbak.. aku tak bisa faham apa artinya. Tapi semua terekam di kepalaku. Sampai hari ini saat aku hanya ingin melihatmu..
Akan aku fahami pelan-pelan apa yang kau katakan. Akan kutancapkan dalam-dalam ingatanku tentang dirimu. Kaulah semangat hari-hariku saat ini. Saat semua sudah pergi.. hanya gitar tua dan sekantong kresek pakaian kumal. Meski aku tahu tak akan lagi bisa menemuimu esok hari di sudut jalan itu lagi.. aku tak ingin menemuimu agar kau tak ucapkan selamat tinggal. Aku belum mau berpamitan. Aku masih ingin menemuimu suatu saat.. waktu dimana aku bisa menjunjung langitku sendiri dan membuatmu tersenyum bangga menepuk bahuku..kakak..
Based on true story…
To all... GANBATTE!!!!!
NB: mohon maaf, foto tidak ada hubungannya dengan cerita.. itu hanyalah foto penulis yang lagi korupsi waktu di kantor demi eksisnya aathena. hehehehe...