Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Agustus 2010

Bismillah.., dengan nama-Mu Yaa Rohim..


Hujan deras mengguyur kotaku sedari tadi. Padalah siang barulah berjalan separuhnya. Rasanya alam sedang tak berkompromi dengan perutku yang lapar melilit tak karuan. Dari pagi belum terisi makanan apapun selain kopi sisa semalam dan satu gelas lagi traktiran teman. Ahhh…seandainya aku bisa memilih ditraktir apa dan dimana.. Tapi selain itu tak sopan, mana boleh juga menolak rejeki..,mungkin inilah rejekiku hari ini. Aku sungguh malu sekali…tak ada yang bisa kubagi hari ini.

Rasanya kalau tak ingat malu, aku ingin berlari meninggalkan kota ini. Kalau aku tak punya mimpi..mungkin dari dulu aku sudah kalah. Tapi aku merasa ada banyak hal yang belum aku selesaikan. Ada dosa-dosa menggunung yang masih harus kumintakan ampunan. Ada mimpi-mimpi yang menari-nari di setiap malamku. Ada hati yang harus kujaga dan kuperjuangkan. Ada kebanggaan yang ingin kujunjung di semua alamku. Agar terhenti semua tawa yang menghina. Agar ku genggam erat semua tangan yang merangkulku.

Masih ingat saat aku menginjakkan kakiku ke tempat ini. Hanya sebuah koper tua warisan ayahanda. Lorong yang dikanan kirinya pintu kamar berhias lampu kuno menambah tua bangunan yang kini menjadi sesuatu yang kusebut rumah. Bau aneh yang tidak bisa kudefinisikan dulu, kini bahkan tak kurasakan lagi. Hidung ini sudah terbiasa rupanya. Bahkan nyamuk-nyamuk yang dulu berebut darahku, kini juga merasa prihatin dengan badanku yang semakin kurus kering. Atau darahku tak lagi manis?? Terlalu banyak berlauk ikan asin. Ahh…,nyamuk itu pun kasiani aku. Sungguh sial aku..! Suatu waktu pernah kuteriaki para nyamuk itu. Tentu saja saat aku lagi baik hati.. “Muk..nyamuk…!!cepatlah makan darahku saja saat ini, nanti kalian akan merinduku. Karena saat aku sukses dan gemuk lagi.. akan kutinggalkan tempat ini.. !!”

Sudah lupa aku berapa lama angan-angan hanya sekedar rencana.. sampai aku mengenal seseorang. Tubuh kurus kering yang mengenaskan dari pada tubuhku yang juga kurus itu. Bukan berasal dari kurang makan atau kehabisan dana. Itu hasil terlalu berfikir.. manusia mana tak habis badan jika semua beban hati ditelan sendiri? Aku saja tak sanggup membayangkan. Mungkin aku sudah meledak seperti tabung gas LPG 3 Kg yang sekarang marak diberitakan. Tapi tubuh cekingnya itu bertolak belakang dengan gayanya yang gesit. Macam lalat yang seakan punya tiga nyawa. Sungguh menipu..

Hari ini dia bangun lebih pagi dari biasanya. “Nyari rejeki ekstra bos!” katanya seakan menjawab pertanyaanku yang tak keluar dari kepalaku. Mungkin pandangan mata heranku sudah cukup merupakan pertanyaan. “hmm…” aku tersenyum berbasa-basi membalasnya. “Sumanto!” masih kuingat waktu setengah tahun yang lalu dia datang ke tempat ini. Tas ransel doreng mirip tas-tas tentara di punggungnya. Nampak sangat terlalu berat untuk ukuran tubuhnya. Tentu dia bukan kanibal meski namanya mirip. Bahkan dia sepertinya vegetarian. Belum pernah kulihat dia makan nasi berlauk ikan ato daging. Hanya tempe ato tahu… laen hal… jika ikan teri itu juga digolongkan daging.

Jauh setelah hari hujan itu, saat aku sadar bahwa Sumanto bukan seorang vegetarian. Itu karena beberapa kali dia mengoleh-olehi aku daging ayam. Sampai pikiran iriku hampir mengatakan bahwa Sumanto yang kukenal ini sama dengan Sumanto si kanibal itu. Masalahnya tubuhnya jauh lebih gemuk..dan senyumya lebih mengembang karena pipinya lebih gembul. Bukankah antara lain karena dia sudah makan daging??! Ahh..tentu saja itu karena pikiran burukku saja.. Hari itu hari saat aku sedang memperbarui rencana masa depanku. Aku sedang menyusun strategi baru. Karena strategi yang lalu sudah usang tidak mungkin dilaksanakan karena waktunya sudah tidak tepat. Sudah kadaluarsa alias karatan. Makanya aku pikir..perlu rencana baru yang lebih modern.

Tiba-tiba pintu kamarku diketuk seseorang.. Tas ransel doreng menjulang disangga bahu kekar.. itu Sumanto. “Ada apa? Kau mau kemana?” tanyaku langsung.. “Aku mau pamit bos.. mau pindah, Alhamdulillah.. Aku sudah nyicil rumah” jawabnya santun dengan senyum ramah. “Alhamdulillah…kapan kau mulai tempati rumahmu itu To?” tanyaku lagi.. “Besok bos, barangku tak banyak juga. Cuma baju dan radio tua, aku kesini mau pamitan bos..” katanya malu-malu. “Knapa mendadak To..?”, “Gak mendadak bos, sebenarnya sudah lama aku kepengen pindah dari tempat ini”. “Hebat kau To.. selamat ya?!” “hihihi…macam apa dikasih selamat bos.. tapi terima kasih jugalah aku bos” “Ternyata kau lebih dulu meninggalkan tempat ini To.., aku harap aku segera menyusulmu meninggalkan tempat ini.” “Bos pati bisa lah.. malah akukan yang ngajari juga bos..” “Ngajari bagaimana to To?” tanyaku semakin penasaran. “Ya..bos kan yang ngajari aku untuk selalu bermimpi.. Untuk selalu memupuk mimpi-mimpi kita bos..” lama aku terdiam… bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Aku semakin tak mengerti..apa yang beda antara aku dan Sumanto. Kami sama-sama bermimpi.. tapi … ahh… aku tak mengerti. “Sudah ya bos.. aku pamit dulu.. aku masih akan sering ke sini kok bos.., aku tentu saja tak akan lupa tempat ini. Apalagi sama bos!” ** hening.. kami bersalaman..

Saat tubuhnya memunggungiku.. kuberanikan mulutku bertanya pada orang ini, pada orang yang secara pendidikan formal tak jauh lebih tinggi dari aku.. pada orang yang selalu memanggilku bos. “To..apa yang kurang dari mimpiku???” tanyaku hampir berteriak. Langkahnya terhenti dan dia membalikkan tubuhnya menghadapku. “Aku tak tahu bos.. saat bos mengajariku bermimpi.. aku hanya menurut saja. Aku mimpi setinggi yang aku inginkan. Lalu setiap pagi saat aku bangun tidur.. Aku ucapkan ‘Bismillahirrahmanirrahim…dengan Nama Mu Ya Rahim.. ijinkan aku mewujudkan mimpi-mimpiku hari ini..’”, begitu saja bos…

Aku mengangguk.. kuangkat jempol kananku padanya.. lalu kubilang “Tunggu aku kawan! Aku akan berlari wujudkan mimpiku”. Hari itu setelah kulihat dia pergi.. kuambil wudhu.. lalu setelah sholat kuraih ranselku. Aku tak jadi mengatur rencana baru. Aku hanya perlu menjalankan mimpiku.. Bismillah.., dengan nama-Mu Yaa Rohim..

The End..

** inspired oleh sebuah lagu

Hidup ini.. sederhana, berani bermimpi.. lalu mewujudkannya.. -

Rabu, 09 Desember 2009

AKU BUKAN KORUPTOR

Pian mau iku lomba mewarnainya ma..”, Fian merengek manja pada mamanya yang pura-pura sibuk membaca surat kabar pagi. “Iya..nanti didaftarin ya sayang” jawab Mamanya mengintip dari balik kertas surat kabar yang hampir menutupi setengah tubuhnya yang mungil. “Asyik!!” Fian berhambur ke mamanya dan mengecup sayang pipi sang Mama. Surat kabar tak lagi berbentuk, kini mereka saling berpeluk.

Dalam sebuah ruangan kantor di suatu gedung tinggi bertingkat…

“Bagaimana Pak? Bukankah ini akan sangat menguntungkan?”
“ Ini Terlalu beresiko Bung..!”
“Ahh..tidak seberat itulah Pak. Ini aman..semua bakal lancar. Bahkan semua pihak tak ada yang bakal merasa dirugikan dalam hal ini pak.”
“Entahlah Bung, saya sangat paham apa yang Bung maksudkan. Tapi…”
“Bapak tak usah khawatir, tak akan nama Bapak terseret jika ini terbongkar kan?”
“Memang..,saya tau..tak ada hitam di atas putih. Tapi saya bakal ikut andil juga meski kecil kan Bung?”
“Bagaimana kalau Bapak bawa dan pelajari berkas ini dulu?”
“Saya…”
Kau auraku..memancarkan…bunyi hand phone dari si Bapak berbunyi, semua terhenyak kaget meski ditutupi. Layaknya ketahuan sedang mencuri cucian tetanggga yang busuk baunya.
~Istriku~ , terpampang pada layar hand phone tersebut.
“Ya..Hallo mama..”
“Iya..ya…maaf ya Ma, Papa gak bisa nganterin…nanti kita cerita di Rumah ya Ma. Papa masih ada rapat.”
“Okey Mama..hati-hati ya..”
Perbincangan basa-basi berlanjut di ruangan itu. Beberapa lama kemudian terlihat si Bapak menerima berkas-berkas dari tangan si Bung. Pertemuan berakhir sore itu.

Di lantai dasar sebuah Mall yang terkenal di kota kecil itu..

“Hayo..sapa yang tau artinya korupsi?” tanya pemandu acara kepada sekitar 43 peserta lomba mewarnai usia 4-6 Th rangka pameran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang namanya melambung tinggi di jagat kekisruhan tanah air saat ini. Sebagian besar peserta lomba mewarnai itu berebut angkat tangan dan berteriak-teriak..”Aku tau..!! Aku tau..!!”. Pemandu acara kesulitan memilih siapa yang ditunjuk, tapi dengan mempergunakan permainan. Maka terpilihlah satu yang menang, dan anak itulah yang menjawab. Dengan polosnya, si anak menjawab “Koryupsiy….alrtinya…mencuryi…kak!!” jawab si kecil yang polos itu. “Ada yang pernah mencuri gak disini?” tanya si pemandu acara kepada forum itu. “Tidak…!!!!” jawab anak-anak itu serempak. “Bagus..,gak boleh mencuri ya.. mencuri apa saja lho ya.. Kalau memang pengen sesuatu bisa minta sama Mama dan Papa..Okey?!” sebagian forum mengangguk..sebagian kecil berteriak “Ok!!” dan sebagian kecil lainnya tampak diam tersipu-sipu..(ahh…tak tau apa yang mereka pikirkan). “Baik adek kecil..sapa namanya dek?” tanya pemandu kepada si anak yang tadi maju ke depan untuk ditanyai. “Pian Kak!” jawan si anak malu-malu. Si pemandu melihat nama peserta yang di pasang di baju si anak..”Ooo…Fian…, karena Fian sudah bisa menjawab pertanyaan kakak. Fian dapat hadiah.. Selamat ya Fian…” “Terima kasih kak…” Fian menerima hadiah girang dan bangga. “Fian kok pinter banget sih sampai tahu artinya korupsi? Kalo boleh kakak tahu sapa yang ngajarin?” sambil melirik memandang mamanya, fian menjawab “Mama…” katanya malu-malu sambil menunjuk mamanya. “Wah..Mama nya Fian pinter donk berarti…” “Iyah..,waktu liat tipi..Fian nanya sama Mama..” “Ooo…begitu..” para penonton tersenyum gemas. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan permainan dan pengumuman hasil pemenang lomba mewarnai. Meski tak menang, hari itu..Fian masih mendapat bingkisan dari panitia dan telah membuat bangga Mamanya. Dan memberikan pelajaran berharga bagi sebagian yang lain.

Di rumah..

“Tadi bagaimana acaranya Ma?” Tanya Papa. “Acaranya seru Pa, Ada permainannya untuk orang dewasa juga. Setiap permainan dapat gift yang lucu” “Mama ikut juga gitu?” “Mama ikut-ikutan aja Pa.. yang nglempar panah itu..” “ Fian gimana Ma?”, mama Cuma tersenyum dan melirik sang anak yang sedang sibuk bermain dengan mobil-mobilan di pojok ruangan. “Gak menang Pa.., hahaha..” “oo…gitu, gapapa kan tapi dia?” “Tuh liat sendiri..Mama liat baek-baek aja” “Baguslah kalo gitu”. Masing-masing kemudian sibuk dengan fikiran masing-masing. Beberapa menit kemudian Papa pergi ke ruang makan tapi tak lama kemudian kembali lagi. “Mama..,mama lihat camilan yang kemaren Papa taruh di Toples ndak Ma?” “Yang mana Pa?” jawab mama mengingat-ingat. “Fian..,dek..liat cemilan Papa di meja makan ndak?” tanya Papa pada Fian. “ Enggak Papa..Pian kan bukan koryuptor” jawab Fian menggemaskan acuh tak acuh sambil membenarkan roda mobil-mobilannya yang lepas. Pama dan Mama saling berpandangan dan kemudian tertawa keras bersamaan. “Pintar sekali anakmu itu Ma” kata Mama pada istrinya. “Anak siapa dulu…” jawab Mama membanggakan diri. “Kok korupsi sih Fian? Papa kan nanya kue..barangkali saja Fian makan..” Kata Papa kemudian pada Fian. “ Kalo ngambil gak ijin Mama kan namanya menculi Pah..Menculi kan sama kayak koryupsi.., iya kan Ma?” tanya Fian bingung. Mama menghampiri Fian dan mengecup kening sang anak..sambil berkata “Benerr..sayang..Fian pinter deh” Papa tampak tertegun, memegangi perutnya yang kini terasa melilit. “Papa lapar ya? Kayaknya kue itu udah Mama kasihkan si Narti Pa.., kemaren ada temennya main kesini. Maaf ya Pa?” “oo..gitu, Nggak papa Ma..tadi teringat saja kue itu.Papa pikir daripada gak kemakan mau Papa makan. Papa istirahat dulu kalo gitu Ma.. Besok harus berangkat pagi” “Iya Pa..Mama mau menidurkan Fian dulu. Ayo sayang.. Udah waktunya tidur” Papa bergegas ke kamar tidur..Tak segera dia bisa terlelap. Lama dia berfikir, lalu tersenyum dan mulai memejamkan mata.

Kesokan hari di kantor yang sama…

Terlihat perbincangan serius atara Bapak dan si Bung yang kemaren sore juga berbincang di tempat yang sama. Lama sekali mereka berdiskusi, tampak agak berdebat. “Saya sudah mengambil keputusan Bung..Saya katakan untuk terakhir kalinya pada anda..” “Tapi Pak..” si Bung menyela.. “Tidak Bung anda yang harus dengarkan saya. SAYA BUKAN KORUPTOR! Sebaiknya bung segera pergi dari kantor saya” tampak si Bung tersinggung dan pergi dengan muka merah karena amarah.

NB:
-Terinspirasi saat melihat pameran KPK kira-kira 3 minggu yang lalu.Cerpennya setengah jadi minggu lalu. Diselesaikan malam ini.. Fa dapat hadiah banyak lho..waktu ikut permainannya. Hohohoho…(pake kaca item bergaya :p)
- Foto..itu salah satu gift yang Fa dapet waktu liat pameran.
-Gak bermaksuf dipas-pasin dengan Hari Anti Korupsi..taunya juga tadi baca status temen di FB.. tapi.. Mulai katakan pada diri.. “Saya Bukan Koruptor”.

----------SELAMAT HARI ANTI KORUPSI!!!----------------

Rabu, 18 November 2009

Kuberi Dia Nama “Haikal”

Ikal..Ikal..!!! (wanita paruh baya itu setengah berlari mengejar sosok bayangan yang sekelebat tampak di depannya). Begitu banyak orang di Mall ini,hari libur di kota tak memberikan banyak ruang untuk melepas dari rutinitas sehari-hari selain Mall. “Aku tak mungkin salah lihat..” batin tante Lis. “Aku harus bertemu dengannya” ucapnya lirih. “Kau dengar ada yang memanggilku tadi? Sepertinya aku mendengar namaku dipanggil” Tanya Haikal pada Rani yang sedang memilih-milih tas. “Hmm?? Aku gak denger..?? yang ini bagus gak?” jawab Rani. “Oh..,mmm..aku lebih suka yang cokelat tadi” jawan Haikal. “Tapi lebih cerah yang warna kuning..bagaimana?”Tanya Rani lagi. “Aku rasa begitu juga..” jawab Haikal tersenyum. “Haikal!! Kau haikal kan? Masih ingat tante?” suara tante lis mengejutkan Haikal. “Tante??!! Sendirian??” Haikal langsung berdiri dan matanya terkejut, tapi penuh harap. “Ya Tuhan, ini benar kau..kemana saja kau nak? Kenapa lama sekali tak main kerumah?” kata tante Lis tak menjawab pertanyaan Haikal. “Iya tante.., waktu itu sibuk kuliah. Tante sendirian kesini?”haikal tetap pada pertanyaannya. “Tidak, tante bareng Sefi..tapi dia tadi masih keliling-keliling” jawab tante Lis hati-hati sambil memperhatikan Rani yang kini berdiri disamping Haikal. “Pacarmu Kal?” Tanya tante lis lebih lanjut. “Hmm..iya Tante kenalkan, ini Rani..RAni ini Tante Lis, mama nya temenku. “Tuhan..berikan aku hidup…satu kali lagi…” bunyi HP tante Lis. “Tante harus pergi Kal..ada urusan. Kapan-kapan maenlah lagi ke rumah. Ajak pacarmu ini” kata tante Lis sambil tersenyum ramah pada Rani. “ Makasih Tan..”,jawab Haikal dan Rina hampir bersamaan. Sepasang mata menatapa Haikal dari kejauhan. Pucat wajahnya, menjadikan dia semakin tampak seperti patung porselen. Nanar matanya, dan tangannya bertautan di depan dada seperti mencoba menghentikan debar jantungnya sendiri. Tapi nampaknya dia gagal, karena tangan itu bergetar. “Tidak seperti ini Kal..kau tidak boleh melihatku dalam keadaan seperti ini” Katanya lirih setengah berdo’a.

2 tahun kemudian…

“Ini takkan berhasil” Kata Sefi sambil beleparkan pandangannya jauh ke langit. “Tidakkah kau memikirkan anak kita?!?” Kata Pram lelah menahan emosi. “Anakku Pram!!Cam kan itu!!” Kali ini Sefi menatap Pram tajam. “Masih juga kau tak memaafkan aku Fi?!” jawab Pram dengan mata nanar marah. “Hah?!Tak ingatkah kau pernah lari dari tanggung jawab Pram?? Apakah kau lupa pernah mengingkari kami??”Sefi berkata datar penuh dendam. “Aku mau cerai!” Kata Sefi kemudian.. “Sefi!!!” Kali ini Pram berdiri,tangannya mengepal menahan emosi. “Kau juga menginginkan ini kan Pram?? Kau tak pernah mencintaiku. Kau hanya terpaksa menikahiku. Kalau tidak..,kau tak mungkin selingkuh sekarang dengan siapa namanya wanita itu??? Ahh!! Tak penting buatku!” Sefi menatap Pram sambil berkaca-kaca. Pram kikuk..berkali-kali dia ingin bicara. Tapi tak ada yang keluar dari mulutnya.

3 bulan berselang..

“Sefi..?Hallo..Haloo…still there?” suara diseberang saluran telpon. “Hmm? Yah..apa kabarmu Kal? Jawab Sefi. “Aku mau ke German Fi.., aku tak sabar memberi tahu kamu begitu menerima kabar beasiswaku, kau ingat??? Aku pernah bercerita padamu kan?? Kau ingat??!!??” kata Haikal penuh semangat. “ Waahh…selamat!selamat!! Jadi..Kapan kau berangkat?” Tanya Sefi.. “Tiga hari lagi” kata Haikal. “Aku tau kau bisa Kal” kata Sefi lagi.. “Bagaimana kabarmu Sef?” Tanya Haikal. “Ada yang ingin kuceritakan padamu Kal, tapi kau jangan kaget mendengarnya” kata Sefi memberanikan diri sendiri, tangannya mulai gemetar. “ Apa??! Kau kenapa??” Tanya Haikal tak sabar. “ Aku sudah punya anak Kal” kata Sefi sambil menahan nafas dan menahan air mata. “ Ap..kau..kau..bercanda kan Sef?” Tanya Haikal yang kebingungan. “Tidak, aku punya anak. Itu benar” kata Sefi. “ Aku tak mengerti Sef..knapa kau tak kabari aku saat kau menikah Sef? Tanya Haikal memprotes. “ Tidak Kal..,semua terjadi karena kebodohanku. Aku bahkan sudah bercerai.” Kata Sefi.. Hening..
“Kau tak apa Sef..??” Haikal hanya mampu mengeluarkan pertanyaan itu. “Aku baik-baik saja, Aku punya anakku sekarang Kal..” kata Sefi lirih. “Kal..aku minta maaf, tak ijin kau dulu. Tapi aku namakan anakku seperti namamu. “Haikal”..” kata Sefi kemudian. “Sefi…” kata Haikal menggantung. “ Tentu saja tak apa” katanya kemudia seakan meralat apa yang belum sempat dia ucapkan. “Kapan-kapan mainlah ke rumah lagi..ajak pacarmu itu. Kukenalkan kau pada anakku. Surga hidupku sekarang Kal..” kata Sefi kali ini dengan semangat. Dalam fikirannya terbayang senyum Ical yang manis. “Akan aku usahakan sebelum aku berangkat ke German Sef” kata Haikal sedikit lega mendengar nada Sefi yang semangat. “Aku harus menjemput Ical pulang sekolah Kal..” kata Sefi. “Hmm..iya, kau harus baik-baik saja Sef..” kata Haikal kemudian. “ Pasti!Pasti! Ada Ical sekarang Kal..” kata Sefi optimis. Percakapan berhenti, Sefi menutup telpon sambil tersenyum.

Ha1k4l_82@yahoo.com

Dear Sefi,

Sefi.., aku minta maaf..tak bisa aku menjengukmu dan Haikal Junior sebelum keberangkatanku ke German. Aku harap kau mengerti.

Aku berfikir..Apakah semua ini salahku Sef? Mungkinkah semua akan berbeda jika aku mencarimu waktu itu? Waktu seakan tak memihak pada kita. Aku minta Maaf..

Haikal-

Send…,


S3fi_83@yahoo.com

Dear Haikal,

Kau tak pernah salah Kal, kalau saja waktu itu aku bicara padamu. Andai kita tidak mengingkari perasaan kita waktu itu. Tapi semua sudah terjadi Kal.. Kau harus melanjutkan hidupmu, tanpa mengkhawatirkan aku. Ada Haikal kecil yang menjagaku. Yang mengukir senyumku setiap hari.

Sefi-

NB: Haikal kecil minta oleh-oleh om.. ^___^


Replay..sending..

-The End-


_Based on True Story_

NB:
-Nama tokoh, tempat, dan waktu..disamarkan demi kata yang mereka sebut “kehormatan”


Rabu, 11 November 2009

Ijinkan Aku Pulang, Untuk Pergi Mengejar Mimpi


Tik..tik..tik…bunyi halus keyboard beradu, hening dalam ruangan yang cukup besar dan panjang ini. Jarum jam menunjukkan pukul 9:00 PM, sudah larut.. “belum pulang Bil?”,tanya Anang yang mengintip dari balik pintu. “Belum, 1 jam lagi sepertinya” Jawabku. “kamu masuk malam ya?”, tanyaku balik. “Hmm..,ya..aku tinggal ngecek anak-anak dulu ya?”, jawabnya sambil berlalu. Dan aku hanya menganggukkan kepala. Suara mesin-mesin raksasa berdengung dari pintu yang sedikit terbuka tadi, dan lambat teredam saat pintu itu menutup. Aku kembali menatap layar monitor..tapi kali ini tidak konsen lagi aku pada kerjaanku.

Kucek HP-ku, berharap ada message atau apapun itu. Sebuah tanda bahwa aku tak benar-benar sendiri. Tapi nihil, aku hanya bisa menghembuskan nafas dan memutuskan untuk mendegarkan lagu-lagu. Kupasang head set dan memejamkan mataku meresapi syair dalam lagu itu. “Takkan ada yang menelepon atau mengirimimu message Billa..sadarlah” kataku pada diri sendiri dengan jelas, seakan meminta untuk yakin. Kuputuskan untuk menyudahi pekerjaanku, lalu menelpon line 8. “Dengan Security Seno, ada yang bisa dibantu?” jawab telpon dari seberang. “Tolong panggilkan driver pak, saya mau pulang” jawabku. “Baik Bu Nabilla, segera” jawab Pak seno. “Terima kasih Pak Seno”,jawabku “Sama-sama Bu..”, klik telepon ditutup.

Perjalanan pulang kerja kali ini aku hanya terdiam, head set mp3 yang mendendangkan lagu-lagu kesayangan mendukungku untuk diam sepanjang perjalanan. Aku sedang tak ingin bicara. Dan jika diijinkan, aku juga sedang tak ingin berpikir. Tentang apapun! 30 menit berlalu, dan sekarang aku berada di Kamarku, masih dengan pakaian kerja. Menghadap cermin..dan hanya bengong. Ku miringkan kepalaku, ke kanan...lalu ganti ke kiri.. Aih..tak puas, lalu aku menghadap ke depan dan nyegir sejelek mungkin. Dan tertawa sendiri, kukeras-keraskan tawaku. Hingga yang kutertawakan bukan lagi bayangan lucu diriku di cermin tadi. Tapi aku, ya..aku menertawakan diriku sendiri. Lalu air mata keluar sangking merasa lucunya diriku..lalu..suara tawa itu lenyap. Tinggal tangisan..

03:30 AM…
Kring…krriiingg… Bunyi telpon yang khas itu, Ahh..Ibu…Ringtone khusus panggilan untuk Ibuku. Biar serasa dirumah saja kupilih ring tone itu. “Assalamu’alaikum..” Jawabku masih mengantuk, karena hanya sekitar baru 45 menit aku tertidur. “Wa’alaikum Salam..,sudah Sholat kau Bil?”, jawab diseberang sana langsung mengajukan pertanyaan.. “Hmm.., Bu…aku ingin pulang”, kataku tak menjawab pertanyaannya. “Knapa?” Tanya beliau. “ Sudah cukup kubuktikan pada mereka Bu, aku ingin meraih apa yang kuimpikan”, kataku datar. “Apa kau yakin meninggalkan semuanya?”, Tanya ibuku. “Hhhh..,entahlah Bu..hanya saja hatiku tak lagi disini. Dan waktu seakan mendukungku untuk pergi”, jawabku..ragu.. “Memangnya apa rencanamu setelah ini?”, Tanya suara lembut diseberang sana. “Saat ini rencanaku hanya satu Bu.., pulang”, jawabku pasti. “Tidakkah kau piker-pikir lagi?” Ibuku mulai ikut ragu. “Aku akan mencari Bu, akan kukejar yang dulu pernah kuletakkan demi ambisi. Semua sudah kuraih, sekarang tak perlu lagi aku buktikan pada mereka. Aku ingin mengejar mimpiku. Milikku sendiri..dan juga mencarinya”, aku seakan berkata pada diriku sendiri. Yang kupikirkan sepanjang malam ini. “Kemana memang kau ingin mencarinya?” Ibu mulai ingin mematahkan pikiranku. “Kemana saja! Ke arah manapun itu”, aku sudah mulai resah.. lama..hening..tak kudengan suara diseberang sana. “Bu…?”, tanyaku berharap. Kali ini aku butuh dukungannya, seperti sebelum-sebelumnya. “Lakukan..kau paling tau apa yang kau butuhkan. Ibu mendukung saja”, jawabnya bijak. Air mataku mengalir.., batinku membuncah bangga pada wanita di seberang sana. Yang melahirkanku dengan pertaruhan nyawanya. “Terima Kasih Bu.., untuk sekarang ini.. Aku hanya ingin pulang, selanjutnya akan aku pikirkan nanti”, jawabku tak bisa menutupi isak tangis haruku. “Hmm..Sholatlah dulu…” jawab ibuku disana. “Ya..Assalamu’alaikum” kataku. “Wa’alaikum salam..warrohmatullah..” Klik! Suara telpon ditutup.

Kuambil Wudhu, sholat dan berlama-lama aku berdo’a. memohon kekuatan untuk dan petunjuk. Juga untuk mengucapkan syukur atas segala yang kupunya dan kuraih selama ini. Mimpi..Aku tak sabar menjadikanmu nyata.
_Based on True Story_
PS:
- Nama Nabilla, kata Almarhum BApak adalah nama yang gak jadi disematkan padaku dulu. Heheheh....
- Judul photo, Jalan Pulang

Kamis, 12 Maret 2009

SANDAL JEPIT

Aku menenteng sandal jepit kesayanganku. Memegangnya erat-erat di tangan seolah itu adalah harta yang paling berharga. Aku jatuh cinta pada benda itu sejak aku mengenalnya. Sejak saat itu pula aku jadi punya reaksi aneh kalau kakiku kotor. Mukaku jadi berjengit-jengit risih. Aku bahkan pernah mempraktekkan reaksi itu di cermin sambil membayangkan kakiku belepotan lumpur, dan dia tahu itu. “Naiklah ke punggungku!” katanya membaca reaksiku. Aku masih diam memandangi jalan di depan kami yang becek berlumpur sambil mengeluarkan “reaksi itu”. “Ayo, naiklah! Ibu akan memarahiku kalau kau terpeleset.” Kupandangi wajahnya yang kini menatapku. Kulihat matanya dari mataku yang kecil bundar. “Apa dia kuat menggendongku?”pikirku dalam hati. Kulihat tubuh kurusnya lalu kualihkan pandangan ke telapak tanganku yang gembul. “Nanti jatuh” kataku datar, menghindari tatapan matanya karena takut dia tersinggung. Kulemparkan pandanganku ke semak-semak di pinggir jalan yang becek dihadapan kami. Alih-alih mencari ide lain berharap semak itu kering. Tapi aku kecewa, semak itu juga terendam air. Aku putus asa, kuturunkan lagi sandal jepit berslop merah. Belum sempat aku memakainya dikakiku, tangan kurusnya menyambar sandal itu dan berjongkok didepanku. “Ayo, aku kuat.” Katanya membaca pikiranku. Aku tak segera naik ke punggungnya, dan dia memalingkan kepala dan setengah badannya, menoleh kearahku dengan masih berjongkok. Aku melihat tatapan matanya, bersinar dan ada perasaan sayang yang membuatku merasa aman. Iya, aku menangkap perasaan itu, dan tiba-tiba aku merasa sangat percaya padanya. Kuberikan senyum kecilku hanya untuknya sambil menontonkan gigi depanku yang keropos kebanyakan makan coklat, dan dia membalasnya sekilas. Aku naik ke punggunganya, kurasakan tulang-tulang kecilnya yang kuat dan aku tambah percaya padanya. “ Hiss-jak!1 jalan! Hiss-jak!” aku berteriak riang. Lalu kami tertawa, semakin keras, tambah keras. Ketakutanku lenyap sudah, dan kami terus tertawa, keras dan semakin keras. “Hiss-jak! Hiss-jak!” dia tertawa sambil menambah kencang larinya. Tiba-tiba bumi berputar , langit gelap, matahari seakan ditelan langit hitam. Tepat saat kami akan jatuh terjerembab, tiba-tiba aku tersadar dan sudah berada di tempat lain. Sepintas masih kurasakan sisa senyum di bibirku. Tapi detik kemudian langsung menghilang ditelan kegetiran yang menusuk dalam relung hatiku. Kupandangi ruangan itu, warna biru mendominasi, di salah satu sisi dindingnya tertempel poster band yang semua personilnya cowok memakai pakaian serba hitam. Aku semakin getir, “aku ada dikamar” hataku hanya dalam hati pelan sekali.

***** v(^_^)v *****

Kuperiksa lagi semua perlengkapan, baju ganti, alat mandi, dan buku untuk mengusir bosan dan sepi. Aku memandang meja riasku, memikirkan apa yang mungkin bisa kubawa. Ahh...untuk yang satu ini aku tidak perlu berpikir keras, kusambar tiga tiga benda di atas meja riasku, sisir, bedak dan cologne roll on. Syarat “dandan” untukku, dan memang hanya itu yang ada di meja itu. Kumasukkan semua ke dalam ransel, kutambahkan pula jaket kedalamnya.aku tersenyum puas melihat tasku sedikit menggelembung karena jaket itu. “Ini baru Travelling” kataku dalam hati sambil mengulum senyum sendiri. Kupandangi diriku di kaca, memastikan tidak ada yang salah dan kurang.

Aku berpamitan pada pada Ayah dan Bundaku. Kucium tangan keduanya sambil mendengarkan nasehat mereka sambil lalu. Kuamati lagi seisi kamarku, memastikan tak ada yang ketinggalan. Ahh...”hand phone!” pekikku sambil menepuk jidat. Kuraih benda itu beserta charger-nya dari meja yang menghadap jendela kaca. Dan saat itu kulihat laki-laki kurus itu, duduk di kursi yang berada di teras depan rumahku. Diam seakan tak peduli sekelilingnya. Tubuhnya kini bertambah tinggi dan tulangnya terlihat semakin kuat meski masih saja kurus. Rambut yang dulu selalu rapi kini dibiarkannya gondrong tak terurus. Matanya hening menatap langit dan terasa kosong. Tenggelam dalam dunianya sendiri, hanya sendiri. “Hhh... “ kuhela nafas dalam, aku merasa ditinggalkan di pinggiran jalan yang becek dan penuh lumpur hanya bersenjata sandal jepit. Dan dia tak lagi mengajakku dalam rencana-rencana jeniusnya untuk menghindari jadwal tidur siang yang ditetapkan Bundaku. Atau rencana-rencana konyol untuk belajar menjadi pengembara suatu hari nanti.

Kupakai benda kesayanganku di sebelah pintu, “sandal jepit” kali ini berslop biru. Tak mungkin kutinggalkan benda ini apalagi untuk moment sepenting ini. Acara study tour adalah acara yang amat penting untuk anak SMA seperti aku. Apalagi kali ini aku akan ke Bali, kota yang akan menjadi tempat terjauh dari rumahku yang pernah kuinjak pake sandal jepitku. Aku merasa sudah menjadi pengembara. Ayah dan bundaku mengantarku sampai ke teras depan, keduanya memandang penuh makna pada laki-laki kurus itu, begitu juga aku. “Aku pergi” kataku pada laki-laki itu. Terusik dengan suaraku, dia tergagap dan memandangku seakan mengingat-ingat siapa yang ada di depannya kini. Beberapa detik kemudian tersadar dan kepalanya mengangguk sambil bergumam “hmm..”. Aku sudah bersiap pergi saat kudengar dia memekik dengan tangannya menunjuk kakiku “Sandal jepit!!” katanya tertawa dan mengalihkan pandangan pada orang tuaku. Kulihat Ayahku tersenyum, Bundaku ikut tertawa dan aku tersenyum sangat bahagia. Aku seperti melihat binar pelangi di malam hari dari mata lelaki kurus itu dan sandal jepitku laksana bintang yang menghiasinya. “Jika kita nanti tersesat, kita lihat bintang-bintang saja. Pasti kita bisa pulang” katanya kala itu saat kami berkemah di belakang rumah merencanakan menjadi pengembara. Dan sekarang aku tau maksudnya.