Rabu, 18 November 2009

Kuberi Dia Nama “Haikal”

Ikal..Ikal..!!! (wanita paruh baya itu setengah berlari mengejar sosok bayangan yang sekelebat tampak di depannya). Begitu banyak orang di Mall ini,hari libur di kota tak memberikan banyak ruang untuk melepas dari rutinitas sehari-hari selain Mall. “Aku tak mungkin salah lihat..” batin tante Lis. “Aku harus bertemu dengannya” ucapnya lirih. “Kau dengar ada yang memanggilku tadi? Sepertinya aku mendengar namaku dipanggil” Tanya Haikal pada Rani yang sedang memilih-milih tas. “Hmm?? Aku gak denger..?? yang ini bagus gak?” jawab Rani. “Oh..,mmm..aku lebih suka yang cokelat tadi” jawan Haikal. “Tapi lebih cerah yang warna kuning..bagaimana?”Tanya Rani lagi. “Aku rasa begitu juga..” jawab Haikal tersenyum. “Haikal!! Kau haikal kan? Masih ingat tante?” suara tante lis mengejutkan Haikal. “Tante??!! Sendirian??” Haikal langsung berdiri dan matanya terkejut, tapi penuh harap. “Ya Tuhan, ini benar kau..kemana saja kau nak? Kenapa lama sekali tak main kerumah?” kata tante Lis tak menjawab pertanyaan Haikal. “Iya tante.., waktu itu sibuk kuliah. Tante sendirian kesini?”haikal tetap pada pertanyaannya. “Tidak, tante bareng Sefi..tapi dia tadi masih keliling-keliling” jawab tante Lis hati-hati sambil memperhatikan Rani yang kini berdiri disamping Haikal. “Pacarmu Kal?” Tanya tante lis lebih lanjut. “Hmm..iya Tante kenalkan, ini Rani..RAni ini Tante Lis, mama nya temenku. “Tuhan..berikan aku hidup…satu kali lagi…” bunyi HP tante Lis. “Tante harus pergi Kal..ada urusan. Kapan-kapan maenlah lagi ke rumah. Ajak pacarmu ini” kata tante Lis sambil tersenyum ramah pada Rani. “ Makasih Tan..”,jawab Haikal dan Rina hampir bersamaan. Sepasang mata menatapa Haikal dari kejauhan. Pucat wajahnya, menjadikan dia semakin tampak seperti patung porselen. Nanar matanya, dan tangannya bertautan di depan dada seperti mencoba menghentikan debar jantungnya sendiri. Tapi nampaknya dia gagal, karena tangan itu bergetar. “Tidak seperti ini Kal..kau tidak boleh melihatku dalam keadaan seperti ini” Katanya lirih setengah berdo’a.

2 tahun kemudian…

“Ini takkan berhasil” Kata Sefi sambil beleparkan pandangannya jauh ke langit. “Tidakkah kau memikirkan anak kita?!?” Kata Pram lelah menahan emosi. “Anakku Pram!!Cam kan itu!!” Kali ini Sefi menatap Pram tajam. “Masih juga kau tak memaafkan aku Fi?!” jawab Pram dengan mata nanar marah. “Hah?!Tak ingatkah kau pernah lari dari tanggung jawab Pram?? Apakah kau lupa pernah mengingkari kami??”Sefi berkata datar penuh dendam. “Aku mau cerai!” Kata Sefi kemudian.. “Sefi!!!” Kali ini Pram berdiri,tangannya mengepal menahan emosi. “Kau juga menginginkan ini kan Pram?? Kau tak pernah mencintaiku. Kau hanya terpaksa menikahiku. Kalau tidak..,kau tak mungkin selingkuh sekarang dengan siapa namanya wanita itu??? Ahh!! Tak penting buatku!” Sefi menatap Pram sambil berkaca-kaca. Pram kikuk..berkali-kali dia ingin bicara. Tapi tak ada yang keluar dari mulutnya.

3 bulan berselang..

“Sefi..?Hallo..Haloo…still there?” suara diseberang saluran telpon. “Hmm? Yah..apa kabarmu Kal? Jawab Sefi. “Aku mau ke German Fi.., aku tak sabar memberi tahu kamu begitu menerima kabar beasiswaku, kau ingat??? Aku pernah bercerita padamu kan?? Kau ingat??!!??” kata Haikal penuh semangat. “ Waahh…selamat!selamat!! Jadi..Kapan kau berangkat?” Tanya Sefi.. “Tiga hari lagi” kata Haikal. “Aku tau kau bisa Kal” kata Sefi lagi.. “Bagaimana kabarmu Sef?” Tanya Haikal. “Ada yang ingin kuceritakan padamu Kal, tapi kau jangan kaget mendengarnya” kata Sefi memberanikan diri sendiri, tangannya mulai gemetar. “ Apa??! Kau kenapa??” Tanya Haikal tak sabar. “ Aku sudah punya anak Kal” kata Sefi sambil menahan nafas dan menahan air mata. “ Ap..kau..kau..bercanda kan Sef?” Tanya Haikal yang kebingungan. “Tidak, aku punya anak. Itu benar” kata Sefi. “ Aku tak mengerti Sef..knapa kau tak kabari aku saat kau menikah Sef? Tanya Haikal memprotes. “ Tidak Kal..,semua terjadi karena kebodohanku. Aku bahkan sudah bercerai.” Kata Sefi.. Hening..
“Kau tak apa Sef..??” Haikal hanya mampu mengeluarkan pertanyaan itu. “Aku baik-baik saja, Aku punya anakku sekarang Kal..” kata Sefi lirih. “Kal..aku minta maaf, tak ijin kau dulu. Tapi aku namakan anakku seperti namamu. “Haikal”..” kata Sefi kemudian. “Sefi…” kata Haikal menggantung. “ Tentu saja tak apa” katanya kemudia seakan meralat apa yang belum sempat dia ucapkan. “Kapan-kapan mainlah ke rumah lagi..ajak pacarmu itu. Kukenalkan kau pada anakku. Surga hidupku sekarang Kal..” kata Sefi kali ini dengan semangat. Dalam fikirannya terbayang senyum Ical yang manis. “Akan aku usahakan sebelum aku berangkat ke German Sef” kata Haikal sedikit lega mendengar nada Sefi yang semangat. “Aku harus menjemput Ical pulang sekolah Kal..” kata Sefi. “Hmm..iya, kau harus baik-baik saja Sef..” kata Haikal kemudian. “ Pasti!Pasti! Ada Ical sekarang Kal..” kata Sefi optimis. Percakapan berhenti, Sefi menutup telpon sambil tersenyum.

Ha1k4l_82@yahoo.com

Dear Sefi,

Sefi.., aku minta maaf..tak bisa aku menjengukmu dan Haikal Junior sebelum keberangkatanku ke German. Aku harap kau mengerti.

Aku berfikir..Apakah semua ini salahku Sef? Mungkinkah semua akan berbeda jika aku mencarimu waktu itu? Waktu seakan tak memihak pada kita. Aku minta Maaf..

Haikal-

Send…,


S3fi_83@yahoo.com

Dear Haikal,

Kau tak pernah salah Kal, kalau saja waktu itu aku bicara padamu. Andai kita tidak mengingkari perasaan kita waktu itu. Tapi semua sudah terjadi Kal.. Kau harus melanjutkan hidupmu, tanpa mengkhawatirkan aku. Ada Haikal kecil yang menjagaku. Yang mengukir senyumku setiap hari.

Sefi-

NB: Haikal kecil minta oleh-oleh om.. ^___^


Replay..sending..

-The End-


_Based on True Story_

NB:
-Nama tokoh, tempat, dan waktu..disamarkan demi kata yang mereka sebut “kehormatan”


11 komentar:

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

cerpennya bagus.

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Nice story,...
Mampir pertama, salam kenal.

Erikson Wijaya Bin Asli Aziz mengatakan...

Assalamualaikum AD.. kau ni AD entah makan apa, selalu bagus rasaku kalau nulis.. gayanya, isinya dan ceritanyapun lekat dan nyata dalam kehidupan sehari2.. kalau boleh aku komentar dikit AD.. mmhh.. maaf sebelumnya, jika saja tokoh Sefi saat itu tidak galau dan kalut waktu pisah sama Haikal pasti ceritanya gak akan begini, tidak ada tokoh Haikal Kecil.. tapi ya begini memang jalan ceritanya.. yang penting hidup harus terus jalan, masih ada harapan..

Erikson Wijaya Bin Asli Aziz mengatakan...

ketinggalan :Erikson lagi sok tauuu timpuk bata merah aja ya AD..wkwkwkwkkw

Anggi Zahriyan mengatakan...

Mbak Asfa penulis iaa? kok pinter buat cerpen.

salam kenal :)

Fly^Pucino mengatakan...

@ Sang cerpenis.. Aih... malu akuw!!(tutup pake kerudung plus jaket mukaku) ini cerpenis asli sudi datang dan membaca coretanku. makasih kak.. selamat datang di negeri aathena

Fly^Pucino mengatakan...

@ setiawan dirgantara.., Mkasih..mohon kritik dan saran yach.. ^___^ salam kena juga. met datang di negeriku...

Fly^Pucino mengatakan...

@ EW komen 1, makan apa yach?? hmm...aku paling suka tempe penyet sambel korek, sama ikan asin.. Sstttssaaahhh...mak nyus nian itu. Tapi pecel Tumpang yang asli kertosono juga paling nyus!! mau? mau? Sempet hopeless dari kemaren posting gak ada yang komen niy EW..kekekeks...
Untuk tokoh Sefi..,hmmm..AD no komen aja yah, yang AD harapkan Haikal kecil bisa jadi Pijar buatnya. dan aku harap takkan ada yang menyesali kehadirannya di dunia. Setiap anak adalah karunia. :))

untuk komen ke 2, tak siapin gulungan pake kertas laporanku yang menggunung di meja nih buat nimpuk kau saat kau ke Mlg ntarr..

Fly^Pucino mengatakan...

@ Anggi Zahriyan.., hihii...malu akuw..ini nulis di sini.. jangan panggil mbak lah ya.. panggil Fa aja. Makasih ya.. :)) Selamat datang di negeri aathena tercinta.

bhogey mengatakan...

lanjutkan bercerita mbak..

Fly^Pucino mengatakan...

@Bhogey..,thx gan! InsyaALLAH..