Senin, 03 Oktober 2011
Part # 1
Minggu, 18 September 2011
Jika Allah sudah cemburu

Petang sesudah hujan sangat lembab.. tak bisa merasakan sedikit saja hangat. Tentu saja masih ditempat ini, tempat yang sebentar lagi akan tertutup penat. Lambat laun juga akan senyap.. sungguh tak ingin kubagi rasa. Semua serasa ingin habis kulumat. Sudah kumaki…sudah kuludahi..aku bahkan sudah sangat frustasi… tapi setelah semua makian kulontarkan, hanya iniah yang aku dapat.
Seharusnya aku tak seegois itu. Menempatkanmu pada posisi sulit dan harus selalu tampak sempurna. Padahal aku tahu bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu. Dalam sorotan tajam semua yang ada disekitar kita. Dimana tak tahu siapa kawan dan siapa lawan. Aku malah menjadikanmu senjata..menjadikanmu modal segalanya. Tiang penyangga utama. Yang bahkan sekokoh apapun kau akan sirna seperti segala yang fana. Andai saja…selalu andai saja… iya, andai saja aku mencintaimu, siapapun kamu..apapun dirimu..dengan seadanya saja. Dengan apa adanya..dan tak melebihkan semua.
Aku begitu berharap begitu besar sampai-sampai aku buta dan tuli. Aku mengabaikan semua tanda dan peringatan..atau…aku sendiri yang mulai merasa ketakutan?? Karena mulai aku karang-karang cerita agar membuatmu lebih sempurna. Sedangkan kau.. tetap begitu anggun dengan senyuman yang sangat menentramkan jiwa. Begitu tenang..sangat alami… Hingga mengalir cerita yang memang benar adanya. Hanya bumbu dari cerita itu yang aku lebihkan. Berharap akan terlihat lebih enak ditelinga semua. Lalu mereka mengangguk dan bertepuk.. bumbu-bumbu itu..hanya harapanku. Ketidakmampuanku..sesuatu yang sesungguhnya, tidak yakin akan kudapatkan darimu. Aku..sungguh cemburu. Pada sesuatu yang aku tahu tak akan kumiliki darimu.
Lalu suatu ketika, Semua berjalan sempurna..tak ada yang salah. Aku bahkan bangun di jam yang sama seperti kemarin. Seakan dunia semakin cerah saja. Tanda-tanda yang sempurna. Aku mulai berkicau menirukan burung-burung yang bersenandung memuji alam. Aku ingin terbang terbawa hembusan angin yang sepoi-sepoi menerpa dedaunan. Sangat damai ..sepertinya…ini waktu yang tepat. Tapi untuk apa?? Entahlah..
Lalu aku bergegas ingin mengajakmu menikmati semuanya. Ingin kutunjukkan pada dunia bahwa kita segalanya. Aku berlari dan berlari agar aku segera bisa mengajakmu untuk merasa. Semua ingin kubagi..aku hanya ingin dirimu saja. Ingin kuucapkan segala maaf dihari ini. Ingin kubuat tawa terindah di wajahmu yang indah. Ingin kutunjukkan gerakan agar kau bisa kau tarikan dengan lentik jemarimu yang ramah. Aku ingin…ingin semua untukmu… lalu seakan dunia menjadi hitam putih. Tak berwarna..tak ada rasa.. hampa.. kudapati hanya jejakmu. Kau pergi..tak berpaling sedikitpun kearahku
Dan jika Allah sudah cemburu
Masihkah bisa aku alamatkan rinduku padamu?
Atau mungkinkah kusembunyikan engkau didasar waktu?
Agar Allah berhenti cemburu?
Lalu memang siapa aku??
Bukankah cemburu..
tanda cinta yang menggebu??
Malang, 17 September 2011
Aku manusia yang berlumur dosa.. masih sudikah kau menengokku Ya Allah..??
Untuk Bapak.., Mas Alek.., dan sahabatku Nyoe..
My Frist Love alias Cinta Monkey..
kuingat bertahun-tahun yang lalu bukuku penuh dihiasi wajahnya. Mata yang tajam bersinar seperti bintang. Kadang kalau gilaku sedang kumat stadium 3 aku akan memandanginya lama-lama sambil tersenyum bahkan kadang sedih gak tahu sebabnya. Yang lebih bahaya..kalau gilaku kumat stadium 4. Itu jika malam harinya aku memimpikannya. Kegilaan stadium 4 ini pun ada beberapa gejala. Mimpi sedih atau mimpi seneng. Kalau mimpiku sedih..aku pasti seperti kucing yang gak dikasih makan dan tak bertemu tikus selama seminggu. Lemesss…mes…messs… dan sering bergumam “kenapa harus terjadi seperti ini??” sungguh pertanyaan gila untuk orang gila yang mimpi hal gila. Tapi kalau mimpinya seneng… senyumm… senyummm… senyummm… dan aku akan jadi anak paling rajin seluruh kampungku.
Waktu terus berlalu, aku merasa seakan belum begitu kenal denganmu. Meski setiap hari aku bergosip tentang kehidupanmu. Tapi masamu dan masamu sungguh berbeda. Kau semakin bergegas untuk pergi dan akan tinggal kenangan. Sedangkan aku…masih saja memandangi fotomu dalam buku pelajaranku. Lalu tibalah masa itu..kita harus berpisah. Aku berharap kau akan muncul suatu hari nanti. Kau adalah pahlawan yang sungguh menawan.
Aku semakin dewasa, buku pelajaranku pun sudah berganti rupa. Wajahmu yang dulu menemani hariku kini sudah mulai terganti. Tapi kenangannya masih manis terasa. Aku bertemu dengan wajah-wajah baru. Berganti-ganti rupa. Mmmm…beberapa darinya aku jatuh cinta. Tapi kau tetap sepanjang masa.
Mawar merah masihlah bunga favoritku. Karena kau suka sekali dengannya. Dan setiap aku sendiri..akan kupandangi bintang dilangit yang indah seperti matamu. Kadang gilaku kumat sesekali…dan aku bertanya apa kau bahagia disana seperti aku saat ini. Cinta pertamaku… meski tidak akan pernah terungkap padamu.. aku bahagia.
JIKA MUNGKIN KAU BENAR-BENAR ADA
MUNCULAH SEKALI SAJA
AGAR MEREKA TAK MENGANGGAPKU GILA
TAPI JIKA KAU TERLALU SIBUK MENJADI PAHLAWAN DISANA
BACALAH PESAN INI SAJA
AKU MENCINTAIMU
TUXEDO BERTOPENG…
Malang..dihari yang penuh streessssss….
Kutulis untuk cinta pertamaku. Tuxedo bertopeng. Meski kau lebih memilih Usagi (Sailormoon). Cintaku tidak akan terganti… :p
Rabu, 04 Mei 2011
Aku Masih Ingin Merasa
“Maaf…” hanya itu yang ingin kukatakan jika nanti kita bisa bertemu lagi. Jalan yang kita anggap jauh berbeda sudah didepan mata. Andai kau tahu betapa sulit juga bagiku untuk mengerti ini.. namun harus kita jalani. Kutatap rintik hujan yang membias dari balik kaca bus kota. “Aku harus kembali…, kita tidak bisa terus seperti ini. Jalan kita belum berakhir dan janji kita baru diukir.”
Di tepian kota bus berhenti, kuamati pemandangan sekitar yang tak asing bagiku. Rindu menyeruak seakan berlomba dengan rasa haru. Syahdu… “Aku pulang..” ucapku lirih. Kuhela nafas panjang mencoba kuasai diri..setengah hati juga untuk menegarkan keteguhanku yang seakan tergoyahkan. Pilar-pilar sudut kota yang tegak berdiri seakan menyapa. Ingin mengawalku masuk hadapi hal lama yang entah mengapa dibayanganku kini terasa mengasingkanku. Dan aku takut menatap mata-mata itu. Meski selalu dan tak pernah aku lupa katakana..,aku masih sama.
Aku sudah siapkan semua bekal.. hari ini aku tak ingin pulang. Aku ingin mengulang semua yang kumulai dulu. Menyapa teman yang menantiku di pinggiran halte.. atau di alun-alun sana. Rasanya sudah lama sekali aku menaikkan daguku. Pegal rasanya..dan ini waktu yang tepat untuk relax.. kali ini aku aku hanya mengandalkan kamera saku. Benar-benar tak ingin terburu-buru. Tolonglah aku…aku masih ingin merasa..
Kala cinta tak lagi menggema..
aku karam tak bersuara.
Bagai daun kuning jatuh berguguran…
hening khidmat begitu indahnya.
Layak hilang makna berganti rupa…
ternyata bukan tak berharga,
hanya saja…
aku telah berubah makna.
Hhhh…harus aku mulai dari sudut yang mana??? Karena dihatiku ada keyakinan tak lagi memandangku dari sudut yang sama. Aku harus berdiri di tengah dan melangkah.. aku kembali untuk buktikan, mimpiku belumlah berubah.Rabu, 25 Agustus 2010
Bismillah.., dengan nama-Mu Yaa Rohim..
Rasanya kalau tak ingat malu, aku ingin berlari meninggalkan kota ini. Kalau aku tak punya mimpi..mungkin dari dulu aku sudah kalah. Tapi aku merasa ada banyak hal yang belum aku selesaikan. Ada dosa-dosa menggunung yang masih harus kumintakan ampunan. Ada mimpi-mimpi yang menari-nari di setiap malamku. Ada hati yang harus kujaga dan kuperjuangkan. Ada kebanggaan yang ingin kujunjung di semua alamku. Agar terhenti semua tawa yang menghina. Agar ku genggam erat semua tangan yang merangkulku.
Masih ingat saat aku menginjakkan kakiku ke tempat ini. Hanya sebuah koper tua warisan ayahanda. Lorong yang dikanan kirinya pintu kamar berhias lampu kuno menambah tua bangunan yang kini menjadi sesuatu yang kusebut rumah. Bau aneh yang tidak bisa kudefinisikan dulu, kini bahkan tak kurasakan lagi. Hidung ini sudah terbiasa rupanya. Bahkan nyamuk-nyamuk yang dulu berebut darahku, kini juga merasa prihatin dengan badanku yang semakin kurus kering. Atau darahku tak lagi manis?? Terlalu banyak berlauk ikan asin. Ahh…,nyamuk itu pun kasiani aku. Sungguh sial aku..! Suatu waktu pernah kuteriaki para nyamuk itu. Tentu saja saat aku lagi baik hati.. “Muk..nyamuk…!!cepatlah makan darahku saja saat ini, nanti kalian akan merinduku. Karena saat aku sukses dan gemuk lagi.. akan kutinggalkan tempat ini.. !!”
Sudah lupa aku berapa lama angan-angan hanya sekedar rencana.. sampai aku mengenal seseorang. Tubuh kurus kering yang mengenaskan dari pada tubuhku yang juga kurus itu. Bukan berasal dari kurang makan atau kehabisan dana. Itu hasil terlalu berfikir.. manusia mana tak habis badan jika semua beban hati ditelan sendiri? Aku saja tak sanggup membayangkan. Mungkin aku sudah meledak seperti tabung gas LPG 3 Kg yang sekarang marak diberitakan. Tapi tubuh cekingnya itu bertolak belakang dengan gayanya yang gesit. Macam lalat yang seakan punya tiga nyawa. Sungguh menipu..
Hari ini dia bangun lebih pagi dari biasanya. “Nyari rejeki ekstra bos!” katanya seakan menjawab pertanyaanku yang tak keluar dari kepalaku. Mungkin pandangan mata heranku sudah cukup merupakan pertanyaan. “hmm…” aku tersenyum berbasa-basi membalasnya. “Sumanto!” masih kuingat waktu setengah tahun yang lalu dia datang ke tempat ini. Tas ransel doreng mirip tas-tas tentara di punggungnya. Nampak sangat terlalu berat untuk ukuran tubuhnya. Tentu dia bukan kanibal meski namanya mirip. Bahkan dia sepertinya vegetarian. Belum pernah kulihat dia makan nasi berlauk ikan ato daging. Hanya tempe ato tahu… laen hal… jika ikan teri itu juga digolongkan daging.
Jauh setelah hari hujan itu, saat aku sadar bahwa Sumanto bukan seorang vegetarian. Itu karena beberapa kali dia mengoleh-olehi aku daging ayam. Sampai pikiran iriku hampir mengatakan bahwa Sumanto yang kukenal ini sama dengan Sumanto si kanibal itu. Masalahnya tubuhnya jauh lebih gemuk..dan senyumya lebih mengembang karena pipinya lebih gembul. Bukankah antara lain karena dia sudah makan daging??! Ahh..tentu saja itu karena pikiran burukku saja.. Hari itu hari saat aku sedang memperbarui rencana masa depanku. Aku sedang menyusun strategi baru. Karena strategi yang lalu sudah usang tidak mungkin dilaksanakan karena waktunya sudah tidak tepat. Sudah kadaluarsa alias karatan. Makanya aku pikir..perlu rencana baru yang lebih modern.
Tiba-tiba pintu kamarku diketuk seseorang.. Tas ransel doreng menjulang disangga bahu kekar.. itu Sumanto. “Ada apa? Kau mau kemana?” tanyaku langsung.. “Aku mau pamit bos.. mau pindah, Alhamdulillah.. Aku sudah nyicil rumah” jawabnya santun dengan senyum ramah. “Alhamdulillah…kapan kau mulai tempati rumahmu itu To?” tanyaku lagi.. “Besok bos, barangku tak banyak juga. Cuma baju dan radio tua, aku kesini mau pamitan bos..” katanya malu-malu. “Knapa mendadak To..?”, “Gak mendadak bos, sebenarnya sudah lama aku kepengen pindah dari tempat ini”. “Hebat kau To.. selamat ya?!” “hihihi…macam apa dikasih selamat bos.. tapi terima kasih jugalah aku bos” “Ternyata kau lebih dulu meninggalkan tempat ini To.., aku harap aku segera menyusulmu meninggalkan tempat ini.” “Bos pati bisa lah.. malah akukan yang ngajari juga bos..” “Ngajari bagaimana to To?” tanyaku semakin penasaran. “Ya..bos kan yang ngajari aku untuk selalu bermimpi.. Untuk selalu memupuk mimpi-mimpi kita bos..” lama aku terdiam… bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Aku semakin tak mengerti..apa yang beda antara aku dan Sumanto. Kami sama-sama bermimpi.. tapi … ahh… aku tak mengerti. “Sudah ya bos.. aku pamit dulu.. aku masih akan sering ke sini kok bos.., aku tentu saja tak akan lupa tempat ini. Apalagi sama bos!” ** hening.. kami bersalaman..
Saat tubuhnya memunggungiku.. kuberanikan mulutku bertanya pada orang ini, pada orang yang secara pendidikan formal tak jauh lebih tinggi dari aku.. pada orang yang selalu memanggilku bos. “To..apa yang kurang dari mimpiku???” tanyaku hampir berteriak. Langkahnya terhenti dan dia membalikkan tubuhnya menghadapku. “Aku tak tahu bos.. saat bos mengajariku bermimpi.. aku hanya menurut saja. Aku mimpi setinggi yang aku inginkan. Lalu setiap pagi saat aku bangun tidur.. Aku ucapkan ‘Bismillahirrahmanirrahim…dengan Nama Mu Ya Rahim.. ijinkan aku mewujudkan mimpi-mimpiku hari ini..’”, begitu saja bos…
Aku mengangguk.. kuangkat jempol kananku padanya.. lalu kubilang “Tunggu aku kawan! Aku akan berlari wujudkan mimpiku”. Hari itu setelah kulihat dia pergi.. kuambil wudhu.. lalu setelah sholat kuraih ranselku. Aku tak jadi mengatur rencana baru. Aku hanya perlu menjalankan mimpiku.. Bismillah.., dengan nama-Mu Yaa Rohim..
The End..
** inspired oleh sebuah lagu


