Senin, 19 April 2010

Kesepian Kita


Tubuhnya terasa penat tampak diraut wajahnya. Terutama di mata.., mata yang biasanya seperti elang mencari mangsa atau kadang berbinar layak bulan purnama, kini merah semerah saga. Melanie dilatih tidak mengumbar amarah atau sensitifitas alaminya. Jadi dia hanya diam, bahkan tersenyum untuk beberapa hal yang tak berhak mendapatkan kesedihan atau rasa letihnya. Seminggu yang lalu sudah merupakan hari berat. Bersyukur dia bisa melewatinya dengan nyaris tanpa bersinggungan dengan masalah di kanan kirinya yang siap menggigitkan taringnya. Awal minggu sulit itu diawali dengan kejutan yang tak pernah dia katakan pada orang lain bagaikan suara gemericik air di malam gurun sahara. Yah…mungkin minggu yang berat itu serasa ringan karena awal yang menyenangkan. Setelah baru menyadari bahwa dia telah lelah berlari dari kenyataan hatinya, tapi terlalu takut muncul lagi ke permukaan karena enggan dan tidak siap akan dunia yang mungkin sudah berubah dengan kecepatan cahaya. Bahkan Mell tak berani meratap. Merasa tak berhak menyalahkan siapapun, sekaligus menolak menjatuhkan vonis pada dirinya sendiri. Dan akibatnya yang terjadi hanyalah kebisuan.


Hujan baru saja berhenti derasnya tapi belum berhenti turunnya. Masih rintik-rintik menyisakan suara syahdu karena bersamaan itu terdengar sayup-sayup lagu 80-an dari radio berdaya baterai ABC angkatan 90-an. Tapi hati Mell sedang ingin menyanyikan lagu cadas. Minimal lagu Rock and Roll lah..agar bisa diteriakkan gumpalan-gumpalan yang menyesak didadanya. Tapi sekali lagi Mellanie melawan hatinya. Kalau dia berteriak, nanti mereka dengar. Mell tak ingin mereka dengar,takut kalau-kalau mereka akan menceritakan lagi ke mereka yang lain..lalu sampai ketelinganya. Mell tak ingin dia dengar apa-apa.., Mell benci ditanyai ada apa. Mell selalu yakin bahwa sebenarnya dia tak harus menceritakan apa-apa untuk membuatnya tahu ini kenapa. Karena semua jawaban harus yang baik-baik saja. Semua harus normal..agar lebih mudah menjalaninya. Atau kalau masih saja terasa sulit, harus ada yang tidak dikhawatirkan kan??? Meski tak jarang Mell kepingin egois untuk tak selalu mengalah.
“Aih…, kapan ujan ini berhenti?” Mell mendongak ke langit abu-abu seakan langit hendak menjawabnya. “Aku harus keluar melihat keramaian”, katanya lagi kali ini memohon pengertian langit. Setengah jam kemudian di pinggiran jalanan kota kecil itu, Mellanie berjalan dan menembus gerimis. Di suatu jeda, dia berhenti berlari dan merentangkan tangannya..merasakan titikan-titikan air di telapak tangannya. Tersenyum seakan langit ingin menjuntaikan tangan-tangannya mengajaknya menari. Lalu ditengadahkan wajahnya dan langit pun membelai lembut dengan untaian-untaian sejuk menyapu matanya yang terpejam. Mellanie tersenyum, dan lambat laun senyum itu menjadi tawa. Seorang gadis ayu di sudut jalan yang tadinya menahan-nahan jatuhnya air matanya tertegun melihat mellanie, tapi dia tersenyum kemudian dan tak lagi menghalangi air mata itu jatuh di pipi lembutnya. Seorang pria berseragam yang berada di seberang jalan yang tampak merahasiakan beban yang terbaca dari matanya, malu-malu mengulurkan satu tangannya untuk merasakan apa yang Mell rasakan. Pria itu mengerti, dan kini matanya sejernih embun pagi hari. Semua sunyi yang mereka rasakan mungkin akan terus menemani. Mell, gadis itu, lelaki itu..atau pengamen-pengamen itu..tak ada yang tahu. Tapi jika sepi ini terasa benar, apa yang harus ditakutkan?


Mell hanya yakin bahwa dia tak akan menyerah pada sepi ini. Akan diusir sunyi-sunyi dari semua yang menjejali. Mell bernyanyi tentang lagu mimpi pagi itu, mungkin kau, dia, perempuan di sudut kota, sahabat di pulau lain, lelaki di ujung jalan, bahkan artis terkenal..sedang merasa sepi menghantam sama meski dengan alasan yang berbeda. Jika memang harus memutar masa, dan menemukan banyak jalan maka tak mengapa. Sudah sejauh ini juga, ini rasa Tuhan yang kasih. Sepi..sunyi..meski sudah dilihat sedalam-dalam palung hati..tapi semua ini tetap anugerah. Tolong jangan bilang ini salah, sepi ini tak salah. Sepi ini benar adanya.

Sampai sesak singkirkan sepi-sepi malam. Sampai pegal berlari usir sendiri. Andai aku juga tahu apa yang aku cari. Akan kuberitahu kau lewat mimpi malam ini. Atau lewat sms yang datang pagi hari. Tapi lidahku seakan kelu seketika. Aku hilang tanpa makna. Tapi akan kugenggam erat segala memori agar tak luntur hujan menerjang. Jika nanti akan ada masa sekali lagi.. sekali lagi..

The End

Untuk kalian sahabat-sahabat ku yang terhanyut sepi kalian sendiri. Tak usah berbagi jika ingin kalian nikmati sendiri. Aku dan kami juga mengerti. Kita mengerti..ini kesepian kita sendiri.

NB:
Judulnya dikasih temen ini..awalnya judulnya “Sampai Sesak usir Mimpi” tapi karena gak pernah kepake ide temen aku ini jadi dengan memeras otak agar kepake kali ini. Kwkwkwkwk…. , “sepi ini anugrah” hahahahaha…guaya poll!!! Thx temen-temen yang udah dirusuhi dan di isengi di sepi versi malam ini.

Minggu, 28 Maret 2010

Welcome To The Black parade


Bangku beton itu menjadi semakin hitam tanpa kau duduk diatasnya. Dahulu kau adalah pemandangan unik diantara pemandangan penuh kenangan ini. Tempat kita berjuang dan mengukuhkan diri. Serba hitam diantara yang lain yang berlomba menarik perhatian dengan warna-warna ceria. Tak apa..mereka harus setuju denganku kali ini, kau kelihatan sangat keren dengan warna serba hitam itu. Dahulu aku pernah menyukai sekali warna hitam itu. Sampai sahabatku pergi dan seseorang menyeletuk padaku di suatu pagi.. “sudah berbulan-bulan, kenapa masih memakai warna hitam juga?”. Agak miris,sedih, dan juga tersadar. Pertama, aku pakai hitam bukan karena aku berkabung..tidak pernah seperti itu.. aku memakai warna hitam karena saat itu aku suka warna hitam. Kedua, iya..aku sedih dia pergi. Ketiga, aku sangat sadar bahwa aku takkan pernah tampak sekeren dirimu saat pakai warna hitam dek.

Suatu pagi kau datang dengan dandanan lebih mentereng lewat rambut yang kentara habis keluar dari salon serta warna eye liner hitam di matamu. Tak menjadikan dirimu tampak konyol seperti bayangan orang lain saat memakainya mengingat kau seorang laki-laki. Tak berlebihan..seakan ingin kau teriakkan pada dunia ;

“Ini aku!

Ada dan bernafas!”

“Keren!!” kataku saat dia menghampiriku di bangku beton itu. Dan kau hanya tersenyum tersipu malu mendengar aku mengucap itu. Kentara sekali gugup seakan tak pernah kau dengar ucap seperti itu ditelingamu. Setidaknya yang ditujukan padamu. Tapi bener deh..emang keren kok. “Ngenet dek..” saat kulihat dia mengeluarkan laptopnya. “Tunggu bentar..,ada yang mesti mbak liat deh!” katanya sambil menyalakan laptop dan menunggu booting sambil mencolokkan kabel yang memang tersedia di bawah meja beton itu. Diklik sebuah file .mp3 dan sebuah lagu terdengar.. “Black Parade”.. “mbak mesti liat videoklip yang ini..cool!” katanya. Free WiFi..memang tempat ini. Dan karena inilah dulu kami diperkenalkan oleh Tuhan. Aku hanya manusia SKSD yang berniat numpang ngenet ngratis di laptop adik tingkatku ini. Hanya dia saat itu yang keliatannya sedang tak terlalu keliatan sibuk seperti yang lain disekitarnya. Saat itu kulihat dia melihat-lihat sebuah gambar grup band luar negri yang sangat kukenal: ‘My Chemical Romance” . Sungguh harus ku ucapkan terima kasih kepada band My Chemical Romance karena menyatukan dunia kami. Saat itu aku hanya sekedarnya saja suka band itu karena memang menurutku keren aja. Lagunya..dandanan yang unik.. tapi bagi adekku ini, My Chemical Romance tampaknya adalah suatu inspirasi hidupnya. Atau apa aku juga tak mengerti saat itu..

Suatu hari kudengar kau lama tak masuk kuliah. Ahh..mungkin kau sama bandelnya macam aku yang males-malesan menginjak kampus saat merasa muak melihat wajah-wajah arogan sok berkuasa dengan pikiran bebal serta kejam plus sangat amat tidak keren sekali (Fiuuhhh!!! Lega!!! *). Untung aku diberi kesempatan sadar saat itu..bahwa betapa harapan orang tuaku terletak pada tekadku untuk meraih kata lulus dan menjadi sarjana. Bukan gelar kata Bapakku.. “Bapak mung biso nyangoni ilmu nduk..lulus aja..mung lulus tok..ora perlu IP duwur macem karepe wong liyo-liyo..tapi yang penting iku awakmu entuk ilmu. Wong duwe ilmu iku mesti diangkat derajate marang Gusti Pangeran.. Anggep ae..bapak iki budal kaji lak anakku lulus sekolah kabeh”**). Masih kuingat kata itu..meski aku pernah suatu kali melihat betapa air mata di pelupuk matanya merindukan Ka’bah. Ahh..Bapak…Pahlawanku tiada bandingannya.

Ya…begitulah, mungkin kau sedang malas kuliah atau sakit Typus berita samar-samar yang kudengar dari teman-temanmu. Di suatu siang kau muncul lagi..dengan senyum yang sama saat kusapa. “Kemana? Katanya kau sakit katanya yah? Emang agak pucat nih wajahmu.” tanyaku begitu dia duduk di sebelahku. Dia hanya menyelondorkan kakinya di bawah meja beton itu. Tak menjawab..lebih pendiam. Kuanggap saja itu jawaban iya. Lalu kau mulai bermanja-manja merengek memanggilku sambil meletakkan kepalamu di meja seperti kelelahan.. “Mbak-e..” Cuma itu yang kau ucap. Aku menangkap sinyal sesuatu yang tak ingin kau ceritakan. Lalu ku alihkan saja pembicaraan. “Udah gondrong nih dek, keknya perlu dirapikan dikit deh..” kataku sambil menguyek-uyek rambutnya yang memang sudah begitu adanya dari dulu. “Adudududuh!Mbak-e gimana to…nti gak keren lagi aku!” katanya sambil mberengut merapikan rambutnya dengan menyisirkan jari-jari tangannya. Tak perlu waktu lama, udah kembali lagi seperti awal. Lalu kami tertawa bersama.. saat itu.. sedang sepi.. tak ada yang duduk disitu di jam-jam kuliah seperti ini. Jangan tanyakan kenapa kami tidak ikut jam-jam itu. Ahh..baiklah, aku memang sudah tak ada kuliah karena tinggal Tugas Akhir..sedang dia?? Aku bahkan tak terlalu tertarik menanyakannya, kuharap kalian juga. Kembali disurukkan kepala itu di meja..lalu kudengar kau bergumam..sebuah lagu.. “Black Parade”..

Kita tak banyak menghabiskan waktu bersama-sama, tapi sekali senggang aku selalu mencarimu di tempat itu. Karena kau Adikku dan aku kakakmu..beberapa manusia bernama Dedi di lingkungan itu.. Agak ribet saat aku menyakan dirimu, karena aku tak mau mendefinisakanmu berlebihan seperti yang lain. Tapi akhirnya akan mudah saat aku bilang “lihat Dedi adikku ndak?” dan mereka hanya akan menuntun ke satu Dedi yaitu kamu. Kupikir kita masih punya banyak waktu, jadi aku tak perlu berbasa-basi pamitan saat aku mesti pindah kekota lain untuk bekerja. Aku hanya tinggal mengunjungimu ke tempat itu, dan kita akan berhaha hihi sebentar. Ato mungkin hanya diam dan mendengarkan My hemical Romance dari Laptop-mu diselingi J-Rock sesekali kesukaanku.

Hingga suatu siang di kantorku..saat itu untung aku tak begitu sibuk. Semua berjalan damai hari itu, lalu sebuah sort message dari sahabatku kuterima. “Nduk..kau lagi sibuk kah ini? Lagi di kantor ato dimana?” pertanyaan yang sungguh aneh jika ini datang dari makhluk satu ini. “di kantor..sedang utek-utek laporan rutin aja, knapa ndut? Tumben..” balasku. “Nti ae sore pas udah pulang sms aku nduk, kita semesesan yukk!!” balasnya.. “Ok!” send…

Sore itu menjelang Isyak aku baru sampai kos..ku sms sahabatku “Aku dah nyantei nih! Ede epe?” tanyaku.. lalu hampir-hampir lama kuterima balesan darinya. “Nduk..ada berita duka Dedi..meninggal dunia kemaren sore” sms itu..kubaca berulang kali, dan aku hanya bisa berbikir keras menerka Dedi mana yang dia maksud. Begitu banyak Dedi yang kukenal dan otakku menolak melintaskan *Dedi adikku* untuk masuk kategorinya, sama sekali tak terlintas. “Innalillahi..Dedi sapa ndut?? Kau apa kabar Ndut?” tanyaku kemudian. “Dedi nduk..Dedi adikmu itu..” tanpa menjawab pertanyaanku yang kedua secepat bunyi Guntur dia membalas sms ku. Dan layaknya setelah Guntur berbunyi menggelegar..maka yang kemudian terekam hanya mencekam. Dan aku hening dalam diam.., pening kepalaku ini. Tapi ini bukan efek migren, karena berkali-kali kubaca sms itu kalimatnya terbaca sama.

Kutelepon sahabatku itu, tak sabar menanyakan kebenarannya. Tapi hanya menambah kebenarannya saja..dari pagi diantara tiga sahabatku di kota Pahlawan yang tahu aku dekat dengan Dedi tak berani mengabarkan berita ini. Mengingat aku pernah sangat rapuh dan bahkan sampai detik ini kesulitan menerjemahkan arti ikhlas jika menyangkut kepergian sahabat karibku Nyoe. Sampai di cek ke berbagai pihak pun ternyata informasinya memang benar..itu Dedi adikku. Agak kesulitan mereka mencari kebenaran kabar itu, mengingat kita lintas angkatan. Juga ternyata adikku udah ga masuk kuliah lama sekali. Semua mengira ini seperti biasanya..tapi kali ini dia tak kembali. Kanker Otak Stadium entah berapa telah mengantarkannya ke sisi Allah. “Your own black parade..” ucapku lirih di sela do’aku setelah sholat Isyak malam itu. Air mata ini tak mampu kubendung untukmu..hanya sedikit saja Dek.. aku tahu kau menyimpannya sendiri.. mungkin karena juga tak mau melihat air mata. Tapi kau adikku,dan aku kakakmu..

The End..

Malang, 18 Maret 2010, Saat aku teringat kamu di sela-sela lagu My Chemical Romance yang kudengar hari ini Dek.. Semoga engkau tenang disisi Allah. Amin..

*) no Coment..

**)“ Bapak hanya bisa mewariskan ilmu nduk.. lulus saja.. hanya lulus saja.. tidak perlu IP tinggi-tinggi seperti yang diharapkan orang lain padamu. Tetapi yang penting itu kamu dapat ilmu. Orang punya ilmu itu pasti akan diangkat derajatnya oleh gusti Allah.. Bagi Bapak.. Bapak seperti berangkat Haji kalau anak–anak Bapak lulus sekolah semua”


Just for u.. i sing..


"Welcome To The Black Parade"

When I was a young boy,
My father took me into the city
To see a marching band.

He said, "Son when you grow up,
would you be the saviour of the broken,
the beaten and the damned?"
He said "Will you defeat them,
your demons, and all the non-believers,
the plans that they have made?"
"Because one day I'll leave you,
A phantom to lead you in the summer,
To join The Black Parade."

When I was a young boy,
My father took me into the city
To see a marching band.
He said, "Son when you grow up,
would you be the saviour of the broken,
the beaten and the damned?"

Sometimes I get the feeling she's watching over me.
And other times I feel like I should go.
And through it all, the rise and fall, the bodies in the streets.
And when you're gone we want you all to know.

We'll carry on,
We'll carry on
And though you're dead and gone believe me
Your memory will carry on
We'll carry on
And in my heart I can't contain it
The anthem won't explain it.

A world that sends you reeling from decimated dreams
Your misery and hate will kill us all.
So paint it black and take it back
Let's shout it loud and clear
Defiant to the end we hear the call

To carry on
We'll carry on
And though you're dead and gone believe me
Your memory will carry on
We'll carry on
And though you're broken and defeated
Your weary widow marches

On and on we carry through the fears
Ooh oh ohhhh
Disappointed faces of your peers
Ooh oh ohhhh
Take a look at me cause I could not care at all

Do or die, you'll never make me
Because the world will never take my heart
Go and try, you'll never break me
We want it all, we wanna play this part
I won't explain or say I'm sorry
I'm unashamed, I'm gonna show my scar
Give a cheer for all the broken
Listen here, because it's who we are
I'm just a man, I'm not a hero
Just a boy, who had to sing this song
I'm just a man, I'm not a hero
I! don't! care!

We'll carry on
We'll carry on
And though you're dead and gone believe me
Your memory will carry on
We'll carry onRata Tengah
And though you're broken and defeated
Your weary widow marches on

Do or die, you'll never make me
Because the world will never take my heart
Go and try, you'll never break me
We want it all, we wanna play this part (We'll carry on)

Do or die, you'll never make me (We'll carry on)
Because the world will never take my heart (We'll carry on)
Go and try, you'll never break me (We'll carry)
We want it all, we wanna play this part (We'll carry on)

Rabu, 17 Maret 2010

Komidi Putar Raksasa Tanpa Kuda



Aku masih disini! Diatas bumi ini!” Klik! “Terima Kasihku…untuk semua waktumu…”, Entah sudah muter berapa kali kaset Jamrud itu. Dari Side A ke Side B..balik lagi ke Side A..dikeluarkan, diganti ke Side B lagi..dipercepat..diputer, di mute di next.. entah apa maunya..terus begitu. Novel kompilasi cerita kocak tentang penulisnya dipegang dengan satu tangan, tampak hampir habis dibaca. Aku sendiri sedang jengkel melihatnya membaca novel sambil cekikikan dengan tanpa dosa membuat tambah bĂȘte dengan memencet-mencet tombol tape yang sebenarnya paling tak berdosa di ruangan ini, ditambah sekarang teraniaya. Beberapa lama kemudian dia berhenti melakukan semua itu. Lalu kuteruskan mencoba memecahkan teka-teki komik Kariage-kun. Aku masih heran, ada juga orang yang bisa selalu tertawa terpingkal-pingkal membaca komik ini, sedangkan aku..hanya sesekali saja. Tak juga mengerti..dapat dua halaman lalu kuletakkan komik Kariage-kun itu, kemudian kuganti dengan Petir karya Dewi dee, dan aku tenggelam dengan segala yang ada didalamnya. Tiga bab kulahap, lebih tepatnya kuulang lagi membacanya…jadi sekedar mereviuw kata-kata yang membuatku terinspirasi mencipta kata-kataku sendiri. Kata-kata yang tak peduli akan dimengerti atau dicaci nanti.


Menjelang Bab empat novel yang kubaca, kudengar tape-ku dianaiaya lagi. Tapi aku sedang malas menegur, dan yang aku tahu dia sedang tidak dalam hati yang ingin ditegur. Kadang kita harus sadari bahwa kita tak selalu benar jika sudah dibenturkan masalah hati. Dan aku sedang tak berada di waktu yang tepat untuk jadi pahlawan. Detik selanjutnya seakan aku tersadar, mungkin hatikulah yang perlu diselamatkan. Daripada aku marah dan jadi bawel..jadi aku mending segera cabut dari tempat ini. Kusambar jaket yang sudah tampak pudar di kursi. Kulemparkan Novel ke meja,dan ngeloyor pergi.


Kutepikan motorku di sudut jalanan yang berhias pohon trembesi dan sebuah bangku usang. Sebuah sudut suram dengan pemandangan gemerlapan jauh diseberangnya. Pemandangan yang biasa kutatap berlama-lama. Kebanyakan diantaranya aku tak memikirkan apapun saat menikmatinya. Bagian yang lainnya aku sedang ingin menyendiri dan menangis sendiri tanpa suara, kepingan yang lain aku sedang berpikir keras memecahkan suatu masalah. Tapi saat tak memikirkan apapun adalah saat-saat yang paling kusukai. Aku laksana orang gila paling bahagia. Tertawa dan tersenyum sendiri..membayangkan menyatu dan melebur dengan apa yang aku amati. Gemerlap cahayanya dengan ukiran-ukiran yang bercerita tentang negeri dongeng penuh keajaiban. Geraknya yang searah mengayun seru memacu adrenalin. Kadang berhenti, tapi hanya untuk bersiap berputar lagi. Komidi putar raksasa tanpa kuda… Aku tak bisa menyebutnya dengan kata lain. Sungguh indah bagiku. Tapi aku hanya mengamati dan mengamatinya sepanjang waktu. Tak pernah mencoba menaikinya. Terlalu mual membayangkannya, tapi mungkin tak ada tangan yang menarikku untuk bersama-sama sekedar tertawa merasakan kejutannya.


Empat puluh lima menit aku telah mengamati dengan berbagai posisi, tersenyum dan tertawa geli sendiri. Sampai sebuah message aku terima di handphone-ku , “Posisi? Kek hantu aja main ngeloyor pergi gak permisi”. Kutekan tombol reply dan kubalas, “Tempat biasa..males ngomong sama orang stress akut! :p”. kuterima sebuah message lagi.. “meluncur kesitu”. Lima belas menit kemudian yang terjadi adalah dua orang gila bahagia sedang cengengesan melihat komidi putar rakasasa tanpa kuda.


Tak ada percakapan, tak ada yang ingin saling bertanya. Membiarkan semua hanyut dalam diam. Aku yakin dia tahu, meski tak bertanya padaku. Seperti aku merasa, meski tak pernah dia cerita. Yang aku harapkan, dia juga percaya padaku..seperti aku percaya padanya. Tak perduli kuping ini mendengar celoteh dari segala penjuru tentangmu. Aku hanya menarik kesimpulan dari segala hal yang terjadi.. Dan saat kau mulai mendengar hembusan dari yang lain tentang aku yang mulai membuatmu muak. Aku hanya bisa katakan satu hal padamu… “ Aku Percaya Kamu”.


- The End -



Nambah : All setting tempat cerita adalah Fiksi.. Ngemeng-ngemeng, kata “Aku Percaya Kamu” diambil dari judul lagu D’ Massive. Hahahaha…


Kamis, 11 Maret 2010

Terasa Salah..


Kutenggelamkan kakiku di rerumputan pagi itu. Daun-daun mungilnya seakan menggelitikku mengajak aku bercanda. Sapuan embun menyejukkan menjalar kejiwaku yang gersang semalam tadi. Sejauh mata memandang kabut masih menantang. Ayah..,aku pulang.. sudah sejauh ini tapi masih rasa malu untuk menemuimu. Bunga-bunga yang kau pesan sudah kucoba aku tanamkan. Ayah..,sanggupkah aku kali ini?? – Kertosono,7 Maret 2010 -


Aku belum bisa menemuimu..atau menemuinya, lalu aku kembali ke kota ini...

Malang, 11 maret 2010


Cahaya matahari menerobos melalui celah pintu. Memberikan penerangan menyilaukan tak sempurna. Sangat kontras dengan udara dingin kota ini. Entah disini, atau yang disana..ada sesuatu yang tak semestinya. Kenapa perih kalau tak luka? Kenapa lemah kalau tegar? Kenapa sepi meski tak sendiri? Apakah sudah benar seperti ini? Kadang ingin menertawakan semua yang telah terjadi bersama-sama. Kulihat cermin dan kucoba membentuk sebuah simpul senyum dengan bayanganku. Tapi yang terjadi..setiap terbentuk sebuah tawa semu, bersamaan pula sebuah goresan menggiris hati. Ya…hati.. aku juga punya hati. Yang kadang mungkin orang lupa, bahwa bukan hanya mereka yang bisa merasa terluka. Ha..ha…ha…lucu…sungguh lucu! sekarang aku menertawakan diriku sendiri. Betapa aku membenci diriku yang lemah seprti ini. Lemah dan rapuh..,tapi apakah itu juga salah? Bukan hanya mereka yang bisa merasakan lemah..merasa rapuh.. karena aku juga manusia. Aku mungkin akan lebih memilih menjauh sejenak saat aku terluka. Tapi tak pernah bisa rupanya aku benar-benar pergi lalu menghilang. Aku berontak untuk menyerahkan alamku. Ini duniaku bisa tertawa, ini semestaku bisa bermimpi. Ini langit kubisa melukis pelangi. Semua bisa kau warnai, tapi tak berhak menyuruhku pergi untuk selanjutnya mereka tempati. Lalu hanya kau jadikan aku dongeng saat-saat sepi. Ini taman syurgaku. Hanya ini punyaku..


Mungkin aku akan terus tersesat, tapi meski aku berlari memutar waktu..kepedihan yang paling pedih kurasakan adalah saat aku berpura-pura mengabaikan apa yang sebenarnya tak pernah terabaikan olehku. Berpura-pura tak peduli apa yang sangat kupedulikan. Telah kuhukum diriku dengan sangat perih. Maafkan aku..aku harus katakan, tak ada cara lain untukku..Aku harus bertahan! (Kertosono,7 Maret 2010)


Lalu aku sadari..ini tak benar, pembicaraan antara kita belumlah usai. Aku tak pernah pergi, masih menunggu semua argumentasi. Kita tak akan pernah berhenti berdiskusi. Kita tak akan bisa berhenti…

Jumat, 19 Februari 2010

Untuk “Titik” Nurhayati..


Di sebuah dusun yang terlalu tenang itu, di pojok pintu sebuah rumah yang bercat hijau terkelupas, duduk terpekur seorang gadis mungil. Matanya menerawang nanar layak mata orang dewasa. Jika ada orang lewat di jalanan depan rumahnya, wajahnya seperti mengkerut heran atau entah apa. Raut mukanya tampak pucat dengan bibir seperti diberi gincu biru. Tapi binar matanya seterang bintang utara di pertiga malam terakhir. Tampak sesekali kepalanya menengok ke salah satu ujung jalan.. sudah begitu kelakuannya sejak sekitar 45 menit yang lalu aku mengamatinya. Saat matanya menangkap banyanganku, dia tampak malu dan tersenyum meringis lalu menggigit ujung kaos lusuhnya.

“ Ngapain Tik..?? Nggak tidur siang kamu?” tanyaku mencoba mengajaknya mengobrol. “Nggak” jawabnya dengan suara serak pecah yang sepertinya terlalu besar volumenya untuk ukuran tubuh semungil itu. Matanya menatapku terusik. Kucoba tersenyum dan menggodanya. Dia malah tambah nyegir menggemaskan. Kulirik jam di telepon seluler yang kupengang di tangan kiriku. Tersenyum aku menyadari ini jam berapa. Tersadar hari memang belum terlalu siang untuk tidur siang, bahkan untuk anak seusianya. Dan juga menjelaskan apa yang sedang dinanti Titik sedari tadi. Kulihat dia menengok ke ujung jalan itu lagi, kali ini terasa ngilu di sudut-sudut hatiku. Bening-bening air disudut mataku berontak ingin tumpah. Tapi aku tak ingin membiarkan Titik melihatku cengeng..pasti dia nyengir lebih lebar lagi nanti menertawakan aku.

“ Katanya kau dapat tas baru minggu kemarin di sekolah ya Tik?” tanyaku dengan senyum bangga padanya. “ Iya..iya..” katanya antusias berbinar-binar. “Aku juga dapat buku tulis lima dan juga sepatu baru” sambungnya kemudian. “ Wuahh...mbok yo aku di bagi satu Tik bukunya..” candaku padanya. “ Buat aku sekolah itu” wajahnya merengut khawatir. “ Ha..ha..ha.., tas nya warna apa Tik?” tanyaku kemudian. “Pink..ada gambarnya berbi..bagus!! ada banyak kantongnya..Sama mas Amir aku juga dikasih Bolpoint sama pensil warna” cerocosnya bercerita sambil menggerak-gerakkan tangannya menggambarkan. Selanjutnya layak mendengarkan dongeng peri tentang pensil berwarna-warni..buku gambar mewarnai yang penuh gambar malaikat dan keledai..ulangan-ulangan sekolah yang terasa sangat mengasyikkan. Dan aku hanya bisa terpukau atas yang kuhadapi sekarang. Alam ikut mengiringi ceritanya..sinar matahari siang seakan melembut layak lampu theater pada adegan syahdu. Pohon-pohon di sepanjang jalan dusun itu seakan semakin menghijau. Bunga-bunga liar juga semakin memancarkan warnanya.

Di saat-saat tertentu, meski kawan-kawannya yang lain masih masuk sekolah. Titik diliburkan oleh Ibu atau Bapak gurunya..kadang juga oleh orang tuanya. Dia memang harus libur untuk mengisi tenaga..agar saat masuk sekolah nanti, dia tidak lemas terkulai di bangku sekolah. Diam tak mau mengadu Gurunya takut disuruh pulang. Titik sangat ingin sekolah terus..terus..dan terus. Kalau perlu tak usah ada hari libur kecuali ada film kartun kesayangannya di TV. Kalau aku beruntung..saat aku pulang kampung begini, aku akan mendapatinya berdandan rapi pagi-pagi sekali mengenakan seragam merah hati. Bedak putih belepot diwajahnya menambah lucu dan menebarkan aroma bayi yang segar. Berjalan mondar-mandir menunggu diantar oleh orang tuanya atau oleh kakaknya seakan dia mau telat saja. Padahal dia selalu lebih pagi daripada anak-anak yang lain. Ato mungkin juga aku beruntung mendapatinya main lari-lari pentak umpet bersama teman sebayanya. Saat itu pasti wajahnya sedang tak pucat..tampak lebih merona dan bibirnya juga tak biru lagi. Ada semburat warna pink khas anak kecil jika kau perhatikan. Tentu saja matanya lebih berbinar. Hanya saat beruntung saja kawan…karena aku juga jarang pulang kampung. Saat-saat itu..adalah saat dimana Titik beruntung mendapat darah untuk mensuplai sel darah merahnya yang habis entah dimakan setan apa.

Titik yang belum mengerti arti lagu Jangan Menyerah-nya D’Masiv meski sering ikut menggeremeng mengikuti terpatah-patah saat lagu iku diputar di TV tak kalah hebat dari syair lagu itu. Terlalu hebat bahkan menurutku. Tak pernah dia mengeluh kesakitan saat mungkin ngilu di sekujur tubuhnya mulai menyerang. Dia hanya merengek pada Bapaknya saat ingin makan ayam goreng. Tak pernah merengek minta di belikan kasur empuk saat tubuhnya sakit semua tak bisa tidur merebah. Dengan nyamannya dia duduk di dipan kayu dan menyenderkan kepalanya di dinding agar tak terlalu pening kepalanya. Dengan semangat sekali bercerita tentang sekolah seakan tak peduli meski dokter memfonisnya tak akan hidup lebih dari usia 15 Th. Ahh..lagi pula, Pak Dokter yang memfonis malah lebih dulu berpulang 3 Tahun setelah mengatakan fonis itu kepada orang tuanya. Sedangkan Titik kecil..tak gentar menghadapi takdirnya. Seperti siang itu, meski tak bisa sekolah pun, dia semangat menunggu kawan-kawannya pulang sekolah untuk sekedar mendengar cerita tentang apa saja yang terjadi di sekolahnya.

Disuatu pagi, saat itu seperti biasa Titik agak rewel karena badannya panas. Minta makan pake Ayam goreng kesukaanya. Hari ini memang waktunya dia berobat. Dengan dibalut selimut dan digendong Emaknya, dibawa dia ke dokter untuk minta obat. Bulan ini memang hanya waktunya kontrol untuk selanjutnya awal bulan depan dia harus transfusi darah. Panas badannya memang tinggi, maka dokter memberi suntikan obat penurun panas. Tak mengeluh..tak bicara..hanya merengek sesekali. Tapi bukan rengekan sakit layaknya. Dalam perjalanan pulang Titik tidur pulas..sangat pulas. Hingga sampai di rumah, tak juga dia bangun. Emaknya bergetar memeluk Titik dalam pangkuannya. Tubuh kecil itu..sangat pucat. Lebih pucat dari pucat yang biasanya. Bibirnya lebih biru dari biru biasanya. Dan kali ini Emak dan bapaknya tau..Titik tak akan bangun lagi. Semua warga dusun segera berlarian bergegas mendengar kabar yang seperti angin sepoi..termasuk aku. Berlari dengan berbagai ekspresi kesedihan menuju pintu hijau pucat itu.. semua diam berduka, sebagian tak malu menitikkan airmata.

Titik.. yang sebenarnya sudah berganti nama Nurhayati..telah berpulang selamanya. Pejuang takdir dari Tuhan yang nyata. Lentera yang akan menerangi kubur-kubur orang tuanya nanti (Amin..).

Dan tiap-tiap yang bernafas pasti akan mati…

Based on true story…



Dedicate to “Titik” Nurhayati Almarhum.., Guru kecilku untuk menaklukkan kepedihan dunia. Dan untuk para sahabat Titik yang menularinya jadi fans berat D’Masiv yang tak lain adalah para keponakanku, Ayu..(fans Rian numero uno), Acha..dan A-se.. “akankah kelak kalian baca ini sebagai kekuatan kalian untuk terus menghargai hidup sayang?”

Kamis, 04 Februari 2010

Me in Your Mind


Aku akan menjadi apa yang kalian pikirkan. Lihatlah aku secara negative thinking, kau akan mendapatiku seperti itu saja. Aku wanita keras yang hanya punya mimpi, itulah aku. Aku jelek? Hehe..ya begitulah Allah menciptakanku.. aku hanya seorang yang beruntung? Amin.. aku tukang berkata-kata…Ahay!! Aku harap ada yang berguna buatmu. Aku sahabatmu?? Maka kaulah sahabatku. Aku cintamu? Sungguh…kau telah menyanjungku.. dan mungkin akan ada yang beruntung kubalas setulus hatiku. (PeDe Amattt Fa…: :D). Aku musuhmu? Kau hanya tak mengenalku.

Kau kenallah aku…akan aku jadikan aku lebih baik dari yang kau pikirkan. Tak akan mudah, tapi aku akan berusaha terus. Aku bukanlah malaikat. Aku mungkin akan marah saat aku terusik. Aku akan diam kalau kau terlalu banyak bicara. Aku akan bicara kalau kau perlu mendengarnya. Lalu..aku sadar.. aku ingin menjadi apa yang aku inginkan. Dan apa yang aku inginkan adalah apa yang kalian terbaik harapkan dariku. Aku bagian dari alam. Kalianlah alam sekitarku.

Pahami aku saat aku kesal. Hapus air mataku saat aku menangis. Acuhkan aku kalau aku terlalu bising. Beri aku penjelasan saat aku bingung. Lari bersamaku saat aku menemukan kebahagiaan. Enyahkan aku saat aku membuatmu menderita. Tapi jangan diamkan aku. Karena aku..juga sepertimu.


So… Who is me in your mind???

NB: Aku yang lagi narcis..ini... hahaha..

ditulis kapan ini yach?? lupa aku...lumayan...bisa buat isi blog saat ide macet. Semoga lelahku segera berkhir..

Minggu, 24 Januari 2010

Sang Ayah

Di tengah kota..disebuah rumah sederhana dan bercat pucat. Disaksikan sebuah photo yang tergantung di dinding lambang sebuah kebanggaan. Seorang yang tinggi besar dengan kewibawaan yang sempurna yang dimiliki seorang prajurit serta seorang bapak setengah baya yang kurus kering dengan kerut di kening. Sebuah wajah yang syarat kekhawatiran yang berbicara dengan mata menerawang. Kontras sekali dengan sang prajurit yang semangatnya mengalahkan usia yang disandangnya.


“Kita susul ke tempat itu hari ini juga! Apa kau sudah tau alamatnya?”, “Sudah Pak..tapi apa jam segini tidak tutup?”. “Kalau perlu kita dobrak saja pintunya, sebelum semua terlambat!”. “Baik Pak!” jawab Karjo gugup.. “Gusti.. semoga ndak telat.” Batin Karjo. Pak Akbar segera memerintahkan supir pribadinya untuk bersiap-siap. Lalu keduanya bersama pak supir meluncur ke suatu alamat : PJTKI M. Sepanjang perjalanan Karjo seakan menerawang dengan tangan yang terlihat gemetar menggenggam alamat PJTKI itu. Sesekali dalam mata itu terlihat kilat kemarahan. Sedangkan Pak Akbar,dia hanya diam. Tak tahu apa yang ada dipikirkannya, atau mungkin dia memberikan waktu untuk Pak Karjo menyendiri.


Dua kali supir turun untuk menanyakan alamat yang dituju, akhirnya sampailah mereka. Matahari sudah malu-malu di sebelah barat, dan keadaan sudah menunjukkan bahwa kantor itu sudah tutup dari mungkin sekitar satu atau dua jam yang lalu. Pak Karjo hanya memandang pasrah pintu PJTKI itu, serta beralih menatap Pak Akbar yang tampak sedang membaca keadaan. Menit kemudian Pak Akbar dengan isyarat mengajak, menuju tetangga-tetangga sebelah kantor dan menanyakan tentang keberadaan yang empunya kantor. Mendengar jawaban-jawaban yang klasik, pak Akbar hanya tersenyum, berterima Kasih yang juga klasik kepada beberapa orang yang mereka tanyai, kemudian bergegas kembali ke kantor tersebut. Tanpa basa-basi dan tanpa peringatan dengan satu kaki didobraknya pintu kantor itu. Seperti tak punya kekuatan apapun, pintu itu langsung jebol dengan sekali tendang menimbulkan suara yang mengagetkan tetangga-tetangga sekitar. Segera beberapa warga mendatangi dan mulai timbul keributan kecil. Adu mulut dan emosi. Tapi Pak Akbar dengan kewibawaan yang menguasai, seakan sudah membaca situasi. Dengan tenang dan seakan balik mengintimidasi dia berkata “ Saya ingin bertemu dengan pemimpin kantor ini. Ada yang tahu dimana orangnya?”


Seorang ibu-ibu yang menggendong seorang balita mengatakan bahwa dia tahu dimana istri pemimpin kantor. Sang istri muncul ditemani seorang warga. Tampak gemetar karena takut, dan juga air mata yang tak dibendung.karena marah, “Bapak bisa saya tuntut karena telah membuat kerusuhan di kantor saya!” kata wanita itu marah tapi juga takut. Rupanya dia juga yang merangkap menjadi sekretaris pribadi suaminya di kantor itu. “Mana suamimu?!” kata pak Akbar tak gentar. “Iya! Kembalikan istri dan anak saya!” sahut pak Karjo kali ini tak kuat memendam amarah. Mukanya merah dan giginya gemeretak menahan emosi. Wanita paruh baya itu semakin nyiut nyali.. “Kami ini salah apa Pak? Bapak-bapak ini benar-benar bisa kami tuntut.” Wanita itu masih mencoba mempertahankan diri. “Silahkan! Tapi saya juga bisa menutup kantor itu! Kalian sudah memberangkatkan TKI illegal!!” gertak pak Akbar. “Bapak jangan menuduh macam-macam tanpa bukti! Kami selalu memberangkatkan TKI dengan resmi!” kali ini wanita ini penuh keyakinan. “Hallah..!! buktinya Istri dan anak saya berangkat juga tanpa ada tanda tangan saya! Pokoknya kembalikan mereka.” Sahut pak Karjo muntab. “Semua sudah sesuai Pak! Kami ndak mungkin memberangkatkan calon TKI tanpa ada ijin keluarga!” wanita itu tak kalah ngotot. “Buktinya! Saya ndak pernah tanda tangan apapun! Tapi istri dan anak saya tetap diberangkatkan!” Pak karjo semakin merah mukanya dan tangannya mengepal. “Sudah saya bilang..kami tidak akan memberangkatkan calon TKI kalau ada berkas yang kurang Pak!” jawab wanita itu mulai merasa menang. “ Anda ini bagaimana?! Kalian ini sangat ceroboh hingga tidak melakukan kroscek ke pihak keluarga. Kesalahan kalian ini sudah bisa diperkarakan ke hukum. Dan kemungkinan untuk saya untuk menutup usaha kalian ini sangat mudah. Mengingat kecerobohan yang kalian lakukan!” Pak Akbar kembali menggertak. Kali ini si wanita istri kantor PJTKI itu tampak kebingungan. “Kembalikan Istri dan Anak saya!” Pak Karjo mengintimidasi. “Gini aja buk..! kami kasih waktu 2 hari untuk mengembalikan istri dan anak Pak Karjo ini..laen itu kita tak bisa kompromi!”. “Kita bicarakan ini baik-baik Pak..Suami saya baru akan datang dari Jakarta besok siang. Setelah itu marilah kita diskusikan bagaimana baiknya” jawab wanita itu. “Baiklah! Ayo Karjo, kita kembali lagi besok.” Pak Akbar memberi komando. Karjo tampak belum puas dengan hasil yang didapat. Tapi dia sangat percaya atas pak Akbar. Lalu pulanglah mereka..dengan sedikit harapan…


Keesokan harinya.. dikantor PJTKI M yang masih rusak pintunya, empat orang tampak berbicara serius. Lama..sedikit argumen dan bumbu emosi mewarnai. Tapi kali ini keadaan lebih terkontrol.. hampir 2 Jam hingga akhinya yang terlihat adalah Pak Karjo tertunduk lesu.. Sudut-sudut matanya yang nanar mengeluarkan airmata. Kepedihan..gambaran kegagalan seorang suami dan ayah ada disana. Harus menerima kenyataan bahwa istri dan anaknya sudah berangkat 2 minggu yang lalu ke Malaysia. Pihak PJTKI minta maaf karena keteledoran mereka tidak melakukan kroscek ke pihak keluarga langsung karena waktu itu permintaan pengiriman calon TKI sungguh mendesak. Tapi dengan diyakinkan bahwa di Malaysia istri dan anaknya mendapat majikan yang baik, maka urusan dengan PJTKI berakhir dengan damai.



Suatu saat sebelum keberangkatan ke Malaysia


“Min..bagaimanapun aku harus berangkat. Aku sudah ndak betah hidup miskin begini” kata Narsiah kepada keponakannya yang pulang kampung dari merantau ke Malaysia. “ Baiklah..nanti saya Bantu keberangkatannya Mbak..yang pasti resmi” Kata Minarsih. “ Yuli juga ikut ya Buk? Yuli pengen Bantu-bantu Bapak sama Ibuk nyari uang..” kata anak Narsiah. “Hallah…ngapain pake bantu Bapakmu itu. Orang dia suka kok hidup miskin!” jawab Narsiah sekenanya. Yuli yang sudah tau tabiat Ibunya hanya diam saja..



2 tahun kemudian..


Terlihat seorang lelaki tua yang duduk di taman kota. Tampak menerawang dan sedang memikirkan sesuatu. Tampak sekilas dia memang stress memikirkan hidupnya. Dari awal aku datang ke taman ini, hingga sudah 2 jam..aku hanya mengamati dia duduk diam. Dialah pak Karjo..lelaki itu semakin kurus ceking. Matanya seakan menanggung beban hidup yang amat berat. Istri yang dulu dicintainya kini pergi meninggalkannya. Bahkan setelah pulang dari Malaysia, si istri Narsiah tak mau lagi kenal sama Karjo yang menjadi petugas keamanan di pasar burung. Sejenak setelah dua jam seakan dia hanya berbicara pada udara, tampak sedikit raut senyum diwajahnya. Ahh.. rupanya…dengan hati sedikit lapang dia bercerita padaku. “Aku boleh gagal sebagai lelaki yang dicintai nak. Tapi aku tak pernah gagal menjadi seorang Ayah. 2 bulan lagi anakku pulang dari Malaysia. Dan dia pulang untuk Bapak..untuk Bapaknya ini” katanya tersenyum padaku. Aku hanya bisa ikut tersenyum bersamanya, dan berkata “Iya Pak Karjo..Yuli tetap anakmu”.


The end..


Based on true story…




NB:

  • Akhrinya setelah pusing mencari nama tokoh, nama Akbar-lah yang terpilih sebagai pemran pembantu disini. Hahaha..ini nama belakan dosen pembimbing TA-ku dulu. Waks!waks! (maaf Pak..belum ada rejeki waktu main ke Ampel..InsyaAllah..sangat amat diusahakan).

  • Nama Karjo awalnya Karmin..tapi kok bisa berganti sendiri menjadi Karjo..aku tak mengerti kenapa.

  • Nama tempat, tokoh, hanya samaran..

  • Foto keponakanku Tuh!! Huhuy... Ada yang Mau? mau? mau?

  • Aku gak suka cerpen ini. Hmmm...apa karena aku gak bisa nulis gaya percakapan gini yach? Kayaknya mesti cari literatur yang laen selain komik. Hohoho... Herlequen boleh tuh....wkwkwkwk...