Sabtu, 18 April 2009

Hilang diri

Begitu banyak suara
Hingga hanya samar yang tertangkap

Terlalu bising

Terlalu asing

Tak saling memahami

Tak bisa diartikan

Dan aku lelah

Saat masih harus mencari

Selasa, 31 Maret 2009

Titik Waktu

Titik waktu...
Tenggelamkan jiwa nan lugu
Beriring tangis haru
Hanyutkan nada sendu
Titik waktu...
Rindukan hati yang tegar
Sembunyikan warna pudar
Hadirkan seberkas pijar
Titik Waktu...
Terus berjalan lugu
Tak mau menungguku

Kamis, 12 Maret 2009

SANDAL JEPIT

Aku menenteng sandal jepit kesayanganku. Memegangnya erat-erat di tangan seolah itu adalah harta yang paling berharga. Aku jatuh cinta pada benda itu sejak aku mengenalnya. Sejak saat itu pula aku jadi punya reaksi aneh kalau kakiku kotor. Mukaku jadi berjengit-jengit risih. Aku bahkan pernah mempraktekkan reaksi itu di cermin sambil membayangkan kakiku belepotan lumpur, dan dia tahu itu. “Naiklah ke punggungku!” katanya membaca reaksiku. Aku masih diam memandangi jalan di depan kami yang becek berlumpur sambil mengeluarkan “reaksi itu”. “Ayo, naiklah! Ibu akan memarahiku kalau kau terpeleset.” Kupandangi wajahnya yang kini menatapku. Kulihat matanya dari mataku yang kecil bundar. “Apa dia kuat menggendongku?”pikirku dalam hati. Kulihat tubuh kurusnya lalu kualihkan pandangan ke telapak tanganku yang gembul. “Nanti jatuh” kataku datar, menghindari tatapan matanya karena takut dia tersinggung. Kulemparkan pandanganku ke semak-semak di pinggir jalan yang becek dihadapan kami. Alih-alih mencari ide lain berharap semak itu kering. Tapi aku kecewa, semak itu juga terendam air. Aku putus asa, kuturunkan lagi sandal jepit berslop merah. Belum sempat aku memakainya dikakiku, tangan kurusnya menyambar sandal itu dan berjongkok didepanku. “Ayo, aku kuat.” Katanya membaca pikiranku. Aku tak segera naik ke punggungnya, dan dia memalingkan kepala dan setengah badannya, menoleh kearahku dengan masih berjongkok. Aku melihat tatapan matanya, bersinar dan ada perasaan sayang yang membuatku merasa aman. Iya, aku menangkap perasaan itu, dan tiba-tiba aku merasa sangat percaya padanya. Kuberikan senyum kecilku hanya untuknya sambil menontonkan gigi depanku yang keropos kebanyakan makan coklat, dan dia membalasnya sekilas. Aku naik ke punggunganya, kurasakan tulang-tulang kecilnya yang kuat dan aku tambah percaya padanya. “ Hiss-jak!1 jalan! Hiss-jak!” aku berteriak riang. Lalu kami tertawa, semakin keras, tambah keras. Ketakutanku lenyap sudah, dan kami terus tertawa, keras dan semakin keras. “Hiss-jak! Hiss-jak!” dia tertawa sambil menambah kencang larinya. Tiba-tiba bumi berputar , langit gelap, matahari seakan ditelan langit hitam. Tepat saat kami akan jatuh terjerembab, tiba-tiba aku tersadar dan sudah berada di tempat lain. Sepintas masih kurasakan sisa senyum di bibirku. Tapi detik kemudian langsung menghilang ditelan kegetiran yang menusuk dalam relung hatiku. Kupandangi ruangan itu, warna biru mendominasi, di salah satu sisi dindingnya tertempel poster band yang semua personilnya cowok memakai pakaian serba hitam. Aku semakin getir, “aku ada dikamar” hataku hanya dalam hati pelan sekali.

***** v(^_^)v *****

Kuperiksa lagi semua perlengkapan, baju ganti, alat mandi, dan buku untuk mengusir bosan dan sepi. Aku memandang meja riasku, memikirkan apa yang mungkin bisa kubawa. Ahh...untuk yang satu ini aku tidak perlu berpikir keras, kusambar tiga tiga benda di atas meja riasku, sisir, bedak dan cologne roll on. Syarat “dandan” untukku, dan memang hanya itu yang ada di meja itu. Kumasukkan semua ke dalam ransel, kutambahkan pula jaket kedalamnya.aku tersenyum puas melihat tasku sedikit menggelembung karena jaket itu. “Ini baru Travelling” kataku dalam hati sambil mengulum senyum sendiri. Kupandangi diriku di kaca, memastikan tidak ada yang salah dan kurang.

Aku berpamitan pada pada Ayah dan Bundaku. Kucium tangan keduanya sambil mendengarkan nasehat mereka sambil lalu. Kuamati lagi seisi kamarku, memastikan tak ada yang ketinggalan. Ahh...”hand phone!” pekikku sambil menepuk jidat. Kuraih benda itu beserta charger-nya dari meja yang menghadap jendela kaca. Dan saat itu kulihat laki-laki kurus itu, duduk di kursi yang berada di teras depan rumahku. Diam seakan tak peduli sekelilingnya. Tubuhnya kini bertambah tinggi dan tulangnya terlihat semakin kuat meski masih saja kurus. Rambut yang dulu selalu rapi kini dibiarkannya gondrong tak terurus. Matanya hening menatap langit dan terasa kosong. Tenggelam dalam dunianya sendiri, hanya sendiri. “Hhh... “ kuhela nafas dalam, aku merasa ditinggalkan di pinggiran jalan yang becek dan penuh lumpur hanya bersenjata sandal jepit. Dan dia tak lagi mengajakku dalam rencana-rencana jeniusnya untuk menghindari jadwal tidur siang yang ditetapkan Bundaku. Atau rencana-rencana konyol untuk belajar menjadi pengembara suatu hari nanti.

Kupakai benda kesayanganku di sebelah pintu, “sandal jepit” kali ini berslop biru. Tak mungkin kutinggalkan benda ini apalagi untuk moment sepenting ini. Acara study tour adalah acara yang amat penting untuk anak SMA seperti aku. Apalagi kali ini aku akan ke Bali, kota yang akan menjadi tempat terjauh dari rumahku yang pernah kuinjak pake sandal jepitku. Aku merasa sudah menjadi pengembara. Ayah dan bundaku mengantarku sampai ke teras depan, keduanya memandang penuh makna pada laki-laki kurus itu, begitu juga aku. “Aku pergi” kataku pada laki-laki itu. Terusik dengan suaraku, dia tergagap dan memandangku seakan mengingat-ingat siapa yang ada di depannya kini. Beberapa detik kemudian tersadar dan kepalanya mengangguk sambil bergumam “hmm..”. Aku sudah bersiap pergi saat kudengar dia memekik dengan tangannya menunjuk kakiku “Sandal jepit!!” katanya tertawa dan mengalihkan pandangan pada orang tuaku. Kulihat Ayahku tersenyum, Bundaku ikut tertawa dan aku tersenyum sangat bahagia. Aku seperti melihat binar pelangi di malam hari dari mata lelaki kurus itu dan sandal jepitku laksana bintang yang menghiasinya. “Jika kita nanti tersesat, kita lihat bintang-bintang saja. Pasti kita bisa pulang” katanya kala itu saat kami berkemah di belakang rumah merencanakan menjadi pengembara. Dan sekarang aku tau maksudnya.

Kamis, 26 Februari 2009

Tanyaku unTukmu

Hey kau yang disana??
Yach,,, kamu...
Maaf ya?!
Bagaimana harus kukatakan padamu?
HAbisnya...dia sangat lucu!
Kenapa?!?
iya...
Dia memang lugu.
Sama kan seperti kamu??
JAdi bagaimana?
Boleh??
Boleh ya....
Ahh..ato kupikir-pikir dulu ya?!
Aku juga takut menyakitinya..
yach..sama seperti kamu..
Ato liat kelanjutannya...?!
mm....
aku Mengerti..
Oke!
Kukabari saatnya tiba.

Kamis, 19 Februari 2009

Saat Keadilan Dipertanyakan 2

Dua hari berselang setelah itu... Sidang kedua dilanjutkan, beserta saksi-saksi dan juga pembela dari kedua belah pihak. Keterangan pertama diminta dari saksi 1, yang pada kejadian berada di sekitar kejadian. Saksi ke-2 juga ditanyai dengan pertanyaan yang sama. Pada sesi ini Korban terasa terpojok...karena kedua saksi berkata lain tidak seperti saat mereka ditanya di hari pertama. Lalu terjadilah perseruan yang cukup alot antara korban, saksi, terdakwa dan seluruh orang yang ada disitu... Fiuhh...aku jadi pusing, geregetan dan emosi. Tapi semakin banyak versi yang mereka kemukakan aku semakin tersenyum senang. Karena semakin banyak orang berbohong maka semakin tampak kebodohannya.
Sidang hanya berlangsung sekitar satu jam karena masing2 harus menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Suasana masih serba rikuh. Seakan ruangan jadi menyempit. HRD menyatakan bahwa akan mempertimbangkan ini lebih lanjut... LAlu satu hari kami menanti...2 hari belum ada kabar...3 harii.... Hingga kini sudah lebih dari seminggu...
Shitt!!! setelah aku selidiki sendiri...kasus ini memang hanya terbiarkan tergantung. Korban sudah mulai lelah, pembela juga ogah2an..terdakwa berjalan dengan pongah..danorang2 yang berkuasa tak mau tau. Dan itulah yang dimaksud oleh mereka keadilan.
Mereka tak tau...ini hanya akan jadi bom waktu, suatu hari dikesempatan yang lain...Keadilan yang hakiki akan terungkap. Dan aku akan menjadi penonton yang setia...

( Inilah akhirnya...silahkan semua kecewa, karena aku sudah)
wekss...

Belanja Online...!!!?

Aku ini... dibilang suka belanja juga nggak kok. Yang bener sejatinya aku suka jualan malah. hehehehe...seneng banget klo bisa menjual sesuatu yang bikin custumer qt juga tersenyum happy... Akhir2 ini aku sering mengklik-klik situs belanja online. Waduh..., entah kenapa aku kok kepincut..
Sama dengan belanja di mall ato pasar..mesti rajin survey ke situs2 apa ajah untuk bandingin harga, model, kualitas, dan yang terpenting..kepercayaan. Tapi, ajang ini aku salurin jadi bisnis kecil2an. Akhirnya barang2 yang tak beli lewat internet hasil coba2 itu aku jual lagi ke temen2ku. Dan kayaknya mereka cukup puas. YAch...kebanyakan barang yang ada kan barang distro. Jadi ga banyak kembarannya... Wataww....coba...aku punya modal banyak, pasti ide di kepalaku ini jadi addicted.
ada yang mau kerjasama sama fa ga????
^_^

Selasa, 03 Februari 2009

Saat Keadilan dipertanyakan

"Hmm...belum ada kabarkah?" Tanyaku tanpa melihatnya. Bunyi mesin2 mendengung menambah ketegangan yang kami rasakan. Semenjak pagi emosi sudah meledak-ledak. Tak ada penyelesaian dari kasus yang terjadi kemaren pagi. Aku yang sebenarnya bukan korban jadi ikut sakit hati banget. Bagaimanapun ini masalah harga diri kaumku. Dan aku tak bisa tinggal diam.Dari jaman masih menjadi mahasiswa, aku berteriak-teriak dijalanan untuk membela kaumku. Tapi saat ketidakadilan terjadi di depan mataku, aku malah tak bisa berbuat apa-apa. Dan rasa marah pada diri sendirilah yang membuatku emosi.
"Apa perlu kita selesaikan sendiri??", kali ini kutatap dia dengan tak sabar. Dan dia hanya menggelengkan kepala. Bukan karena tak mau, tapi merasa lemah. "Shitt!!!" umpatku. "Kita tunggu sampe istirahat nanti" aku meneruskan pekerjaan yang semakin menggunung di mejaku.
Dua hari ini terasa menyebalkan, dan aku orang bodoh yang menyalahkan waktu. Belum lagi hari hujan tak henti-henti. membuat hati jadi semakin membeku, terutama dia.
Aku semakin tak sabar, hingga kuputuskan untuk memulai menyampaikan ketidaknyamanan yang kurasa atas kediaman ini. Dan sepertinya, kata-kataku yang sedikit memojokkan cukup ampuh. Tak rugi dulu aku ikut organisasi. Kasus pun mulai diproses hari itu juga, sampai sore sidang di ruang HRD berlangsung alot dan sepihak.
"Masak dia ngomongnya laen lagi??!! Kurang ajar orang itu!!!", itu yang pertama dia katakan begitu masuk ruangan. Hhh..." Trus bagaimana keputusannya?" tanyaku tak lebih tak sabar. "Dia mau mengajukan saksi!". katanya kesal. Sdikit gusar,karena saksi yang pertama kami temui secara terus terang membela terdakwa. Tapi aku tersenyum senang.."Kita lihat nanti!" kataku semangat.

bersambung-
(ditulis berdasarkan kisah nyata)