Jumat, 08 Januari 2010

– A Lonely Roads (1) – Liburan Part II


Keesokan harinya setelah Kopdar bareng BSE…

Hari ini seharusnya aku bergegas pergi. Tapi aku malas sekali…pagi ini sedingin air es yang didiamkan lama. Serasa masih mencengkeram tajam saat disentuh. Fiuhh.. Sedangkan aku harus mandi??! Oh..my God..aku benar-benar butuh air hangat. Kadang aku bertanya pada diriku sendiri. Bagaimana bisa aku mandi rata-rata antara jam setengah 5 ato jam setengah 6 pagi setiap hari?? Itu..sulit dijelaskan lagi,tapi tuntutan perut penyebab utamanya. Ha..ha..


Sudah siang ini, aku belum beranjak..kudengar para tukang bangunan yang dari sekitar 1 bulan lalu bekerja membangun kamar baru di kos sudah mulai berdatangan. Akulah yang pemalas hari ini. Kuseret juga tubuhku untuk segera berbenah dan menuju ke tempat yang sangat aku kenal: “Rumah”. Mesti pulang dulu sebelum berangkat ke suatu tempat. Apalagi kakak pulang dari Mekkah..(jangan sampe kehabisan oleh-oleh lah aku..hohoho…). Tapi alasannya yang memang harus pulang..ini kan liburan mana boleh tidak pulang dengan jarakku yang bisa ditempuh hanya 3 jam saja dari kota aku bekerja. Kalau ingat kata guru kimia SMA ku dulu..ini dinamakan “kebolehjadian”. Kau masih ingat pelajaran itu kawan? Sehari semalam aku berada di rumah..lalu balik lagi ke Malang, menyelesaikan misi!! ato obsesi ya?! Whatever-lah.. aku lebih suka menyebutnya bagian dari sebuah mimpi..

30 September 2009 jam 14:10 waktu Stasiun Kota Baru Malang (mungkin..). Padahal jam tangan sudah di setting lebih cepat daripada jam kantor yang juga lebih cepat dari jam-jam yang ada. Agak nggondok karena harus lari-lari karena kereta sudah mau berangkat. Memang setelah membeli tiket aku tak menunggu di Stasiun, tapi aku ke Warna-Warni untuk buka internet. Selain ketemu lagi dengan BSE yang kali ini di dunia maya, juga sempat ngobrol dengan teman dekat di YM. Basa-basi…begitulah adanya. Maklum,waktu pernikahan teman aku satu ini aku tak bisa datang. Ternyata kereta hanya ganti lokomotif di Stasiun Kota Lama (hallah..udah capek lari juga).
Aku cukup beruntung mendapat tempat duduk di dekat jendela, berhadapan dengan sepasang muda-mudi. Sudah 30 menit berlalu, pemandangan rumah-rumah yang lebih terkesan kumuh daripada sederhana sudah mulai berganti dengan hamparan sawah yang hijau muda warnanya karena bibit-bibit yang baru ditanam musim ini. Hujan pun kian kerap menetes, suara bayi menangis dari gerbong yang sama, pedagang asongan juga tak henti berlalu lalang. Dan aku mulai tenggelam..mencari dan bertanya pada diriku sendiri.


Langit seakan mengerti
Coba hentikanku kali ini
Mendatangkan hujan
Berdalih alirkan mimpi
Tapi ini aku disini
Sudah sejauh ini
Aku tak akan kembali
Terus mencari
Untuk yang lalu… dan yang Kini



5 Jam perjalanan aku habiskan untuk beberapa hal..: menulis, melamun, mengobrol, tidur (thx God) dan mengemil. Lima kegiatan untuk waktu 5 jam dan akhirnya aku sampai di tempat tujuan. Dikota itu, tempat bertahun-tahun yang lalu aku lintasi ruangku..hanya untuk melihatmu. Sudah hampir jam setengah 8 malam.., aku bergegas mencari angkot menuju tempat seorang kawan untuk menginap. Tentu saja kami sudah janjian dulu sebelumnya. Setelah melewati barisan tukang ojek yang super duper ngeyel bin ngotot. Aku mencoba mengorek memoriku untuk mengingat jalan mana yang aku lewati agar bisa memperoleh angkot. Sepertinya aku harus percaya kali ini pada seorang temanku yang mengatakan bahwa “Kau tahu? Ada dua sifat yang biasanya dimiliki lelaki yang kau punyai dan membuatmu selalu beruntung tidak hilang saat kau ngeluyur gak jelas. Pertama, kau tidak gampang panik saat tersesat, dan kau punya peta dikepalamu”, (aku tersenyum sendiri mengingat kata-kata itu).


Setelah sampai ditempat yang telah dijanjikan, disebuah perempatan yang ditengahnya ada sebuah tugu. Aku menunggu di sebuah pangkalan becak dan ikutan seru melihat bapak-bapak becak main catur. Hujan masih rintik..ini berarti hujan menemaniku dari Malang sampai ketempat ini. Kudongakkan kepalaku keatas, aku tersenyum pada langit yang tak berbintang. Kuucapkan satu kata “Tuhan..aku disini” lirih..sekali, hanya pada diriku sendiri. Beberapa lama kemudian kawanku datang menjemput. Sungguh pertemuan yang menyenangkan setelah hampir sekitar satu tahun lebih aku tak bertemu dengan kawan baikku ini, my ex roommate saat masih berjuang di Surabaya..: “Eka Siwi Alantari”. Setelah melepas rasa rindu yang luar biasa, acara selanjutnya adalah makan malam, minum kopi, dan mengobrol di kamar. Senang sekali kembali mempunyai roommate lagi meski sementara. Yang empunya kamar sudah mengantuk..sedangkan aku?! Tuhan..mata ini tak rela terpejam mesti tubuh rasa lelah. Terpikir saran –seseorang- untuk matiin lampu kalau gak bisa tidur, dan klo keadaannya ini bukan kamarku sendiri..maka dia harus bertanggung jawab atas sarannya. Dan ku-smslah dia. Ha..ha..ha.. (:p)

Hari pertama…


Untuk hari pertama, aku meng-cancel rencanaku ke Taman Botani. Cuaca dan rute penyebab utamanya. Aku memutuskan menyusuri kota ini. Sendirian-lah tentunya, karena kawanku Siwi masih harus kerja (mbak – biar enak di cerita aku panggil Siwi aja, maap ya..-). Dengan sedikit petunjuk dan arahan yang sebenarnya tidak benar-benar aku perhatikan berangkatlah aku menyusuri kota.. “Kotaku” begitu dulu “kau” bilang. Ada satu tempat yang aku ingin kunjungi..lebih tepatnya aku buktikan. Hmm.., alih-alih aku mengerti, yang ada aku kesasar..muter..muter…muter…(muter lagi…) aku ngikut aja angkot pergi. Sampai melewati sebuah tempat yang pasti ada di setiap kota: “Alun-alun”. Turun salah satu pojok deket RuTan (rumah tahanan-red-), aku berdiri sejenak untuk memutuskan jalan kemana dari tiga arah jalan yang ada didepanku. Btw, sebenarnya aku gak tau kalo itu Rutan kalau tidak ada seorang petugas yang menanyaiku..”Mau kemana dik?” (thx pak..jadi selalu ngerasa muda), aku senyum aja membalas pertanyaannya. Lalu dia meneruskan pertanyaannya “ Hari ini gak ada jam besuk dik..,jadi besok senin aja datang kembali kesini” (kali ini aku melongo..). Aku baca tulisan yang ada di depan kantor.. “Rumah Tahanan bla..bla..bla..” (ha..ha..ha…mungkin aku dikira saudara jauh yang mau jenguk pesakitan didalam). Atau mungkin aku seperti seorang preman ya??? (Ahh…!!)


Aku jalan saja menuruti kakiku, sambil sms mbak Siwi (gak enag panggil nama aja –kebiasaan-) bertanya tentang sebuah tempat. Belum sampai aku menerima balasannya, sampailah aku di Kantor Pos.., kulihat ada orang mengerumuni sebuah papan. Tertarik aku ikut mendekat, ternyata mereka mengerumuni info Lowongan Kerja. Wajah serius..,catatan kecil, bolpoint..,cerminan para pejuang intelek muda (begitu kiranya aku menggambarkan diriku disaat dulu aku berada diposisi mereka) Ha..ha..ha.. (lari biar gak ada yang nimpuk!!). Aku masuk kedalam dan duduk di bangku kosong. Aku diam..lalu diam..terus diam..(hallah..), sampai akhirnya aku mati gaya, aku nanya iseng tentang kartu pos. dan ajaibnya benda ini masih dijual. “5 biji 1000 rupiah” jawab langsung petugas yang kutanya. Sepertinya dia gak rela kalau aku hanya bertanya ato iseng saja dia terus melihatku dan bertanya lagi “Beli berapa?” . Ahh...dari pada aku menerima pandangan maut si petugas, kukeluarkan 1000 rupiah lalu dapatlah aku 5 Kartu pos..(sebagian kukirimkan..,tapi ada yang kusimpan). Ok!! Aku memang iseng..aku kira kalian sudah tahu itu.. kalau belum tau..ya biar taulah.. (keks! Keks! Keks!).


Didepan Kantor Pos itu, terhampar sebuah tempat : Alun-alun. Aku duduk-duduk di taman alun-alun itu, lamaaaaaaaa….sekali! (beneran lama). Ok, aku foto-foto..aku mengabadikan yang ingin kuabadikan. Lalu aku berkenalan dengan seorang Bapak yang juga sepertinya senasib denganku (menikmati kesendirian –red-). Mulailah kami bercerita (sebenarnya si Bapak yang banyak cerita), dan dari hal-hal yang tidak terduga seperti inilah aku mendapatkan ide ceritaku. Iya!!sebuah cerita! Bisa jadi ini akan jadi cerpen ato mmm… apalah nanti. Kami hanyut dalam sebuah sandiwara dunia dengan lakon si Bapak, sampai sebuah sms aku terima. Dari Adekku (aku sudah menganggapnya adikku sendiri), bahwa dia akan menemuiku segera di tempat ini.


Begitu Adikku datang bersama his “beibz..” hahaha… secara otomatis aku punya tukang foto dan juga tour guide. Kami meninggalkan Alun-alun untuk Sholat dan makan siang. Lalu aku menuju ke tempat yang tak asing sama sekali buatku, ..sebuah.. “Kampus”. Banyak sekali kenangan disini (untukku mungkin karena “dia”, tapi untuk-“nya” yang aku sadari.. hanya sebagian kecil saja mungkin karena “aku” –aku bahkan sangsi-). Kuabadikan semua sisi yang dulu tak pernah aku bisa abadikan dengan sebuah gambar. Kudatangi tempat yang dulu aku datangi. Tak ada rasa getar apa-apa lagi..,tinggal perih. Lalu kuputuskan untuk pulang ke kost Mbak Siwi..


Hari ini aku menjelajah
Mencari sesuatu yang hilang
Berharap aku masih punya arah
Namun semua tak sama
Tidak tempat ini
Tidak hati ini..
Tidak aku..
Bukan lagi kamu


Sisa hari itu kami habiskan untuk menyambut pergantian tahun baru.. Do’a.., harapan, mimpi.., cita.., cinta.. semua yang terbaik yang kita harapkan semoga tercapai.



Happy NeW YeAr..!!!!


To be continued...

Sabtu, 02 Januari 2010

Liburan Part I *** KopDar bareng BSE***



Assalamu'alaikum... Apa kabar kawan??! (ha..ha..ha..kata pembuka awal yang khas dari BSE aku comot disini). Soalnya ini cerita tentang KopDar antara Flypuccino penguasa aathena dengan pendiri BSE yakni Erikson bin Asli Aziz alias EWbAA (AD tak mau ah..panggil kau EWBAAZ..,kan tak khas bin spesial versi AD k'lo niru-niru..:p). mesti dari mana yach ceritanya???? hmmm....ehm...ehm...

Akhirnya...Alhamdulillah terjadi juga kopdar bareng BSE. Meski rencana ketemu mundur (banget!) dari rencana awalnya jam sepuluh pagi jadi jam 1 siang. hohoho...bisa dimengerti juga.. namanya juga naek gunung. Tapi rasa-rasa sudah cukup berkesan untuk sebuah syarat kopdar. HHhhh...padahal sudah dicariin tempat kopdar yang ok! udah dicariin menu yang mak nyus! eealahh....akhirnyapendiri BSE harus puas dengan makan ayam goreng versi depot warna-warni (ha..ha..ha...). Agak lucu karena ayam goreng yang dibayangkan EW tak sama dengan kenyataan. Disini memang gak ada bedanya antara ayam goreng lalapan yang bisa dialiaskan lagi ayam goreng penyet. Yang Fa suka, tuh orang makannya Lahaaaap bener!!! (dua jempol buat nafsu makan lo EW!). FP sendiri..ditraktir Hot Cappucino..hu..hu..hu...(and u now understand why i use name flypuccino). Sangking lahapnya...ayam goreng ludes duluan..dan EW pesen lagi dua tempe goreng. Niat hati satu tempe buat AD nich kalee ya...tapi AD liat tuh orang pelan-pelan abisin tempenya..ha..ha...ha...(ikhlas deh..)hallah...

Lumayan banyak yang kita obrolkan. Tak jauh-jauh dari blogging, buku yang dibaca, rencana nulis, terus kegiatan, cerita pendakian EW ke Semeru,mmm...ga lupa pastilah yang empunya berkejaran tersangkut-sangkut dalam obrolan kita (sumpah! dia ngomong baik-baiknya lo burr..klo gw gak jamin ngomong baiknya lo doank..kiaks!).

Kesan Fp waktu ketemu EW ...serasa sudah kenal lama (emang lumayan cukup lama kali yach...meski lewat Blog dan Fb). EW..tak jauh dari gambaran di otakku kok. (Mesti digambarkan gak ya???hmm....), nich orang yang paling Fp sukai adalah Positive Thinking-nya..(Nich..yang paling AD suka dari lo EW...), baik (kita semua sepakat kali ya kawan semua tentang ini), pinter..(hohoho...keliatan banget), friendly... (udah...jangan banyak-banyak..)

Dalam kopdar ini, tak ada foto yang mengabadikan...(fotonya kabur semua tuh..). Setengah hati emang sengaja sih...meski sudah kepikiran mau foto-foto waktu nemenin EW makan. Abisnya...,FP lagi dalam keadaan mengenaskan karena insomnia dihari-hari sebelumnya. Finally..EW penguasa BSE mesti balik ke kota Jakarta dibawa kereta Mataremaja dengan semangat barunya (kayaknya...). Dua hari berikutnya...aku ke warna-warni lagi. Kali ini bukan untuk minum hot Cappucino, tapi untuk ketemu EW lagi. HAnya saja..bukan didunia nyata..tapi di BSE. karena aku harus mengejar kereta yang membawa perjalananku sendiri...

to be continued... 

Selasa, 22 Desember 2009

Kulintasi Semesta


Bau solar ini sangat menyengat. Goncangan bus semakin mengocok perutku. Sekarang aku hanya bisa mengutuki diriku sendiri, menyesal mengisi perutku hanya dengan secangkir kopi pagi ini. Matahari pagi ini juga terik. Menyeruak seakan marah menembus kaca bus. Kutarik tirai yang berwarna merah maroon, warna yang tak biasa untuk ukuran bus ekonomi (begitu pikirku). Bus berhenti di lampu merah, dan kulihat seorang pedagang asongan naik. Bukannya segera menjajakan dagangannya, tapi malah duduk di bangku yang kosong.
Sepagi ini wajahmu telah lelah
Jiwa tak boleh goyah
Ayo terus langkah
Tendang keluh kesah
Bukan saatnya menyerah
Ingin kukatakan narasi ini padanya, ahh..tapi apa ya dia mengerti? Aku tertawa sendiri. Lalu kembali gelisah..ini bus lama sekali. Kulihat jam yang ada di HP-ku, dan pada saat itu pula HP itu bergetar. 1 message received, kubuka dan kubaca.
kau sampai mana? Kira-kira nyampai jam berapa?
Sedikit panik aku mengetuk-ngetuk kakiku. Mengetik sort message setelah menekan tombol reply. Belum sampai satu kalimat kuhapus lagi semua yang sudah aku tulis. Mengetuk-ngetukkan tanganku ke pangkuanku sendiri sekarang. Berpikir apa yang harus kukatakan atas keterlambatanku kali ini. Ahh…sekarang tak hanya perutku yang ku kutuki, tapi ini juga. Kuputuskan untuk menelpon saja.. agak ragu aku memencet nomor yang tadi mengnirimiku sms. Nada sambung…dan akhirnya diangkat. “hallo,kau dimana?” kata suara disana kepadaku. “Dengar..sepertinya aku harus jujur padamu. Aku terjebak macet. Dan sekarang masih di dalam bus menuju kesana. Kau marah?” tanyaku tak lebih dari harapan. “Kau tenang saja, pastikan saja kau datang tepat waktu. Semua tergantung dirimu sendiri. Oke?” “aku mengerti maksudmu, aku berusaha.. dan sekarang aku hanya bisa berharap Tuhan memberiku sedikit waktu” kututup teleponku tanpa berpamitan. Aku tahu tak akan ada yang tersinggung dengan itu. Kami sudah terbiasa seperti itu. Apalagi dalam keadaan gusar seperti ini.
Waktu..
Hentilah sejenak untukku
Beri aku ruangmu
Demi itu…
Bus sudah lepas dai kemacetan. Tapi hatiku tak mau berhenti berdetak galau. Tuhan..tolong aku… (aku berdo’a lirih hampir terdengar samar). Penumpang disampingku keliatan ikut tak nyaman melihat keresahan yang tampak olehku. Kulihat keinginannya untuk mengajakku berbicara. Tapi aku mengelak dengan membuang pandanganku keluar jendela. Maaf..aku sedang tak ingin mengobrol. Aku hanya akan terdengar konyol dalam keadaan marah karena frustasi semacam ini. Kenek bus meneriakkan nama sebuah terminal. Aku terhenyak bangkit dan langsung bersiap di pintu keluar.
Jangan!
Jangan pergi dulu.
Ini aku
Berlari mengejarmu
Berhenti disitu.
Hentikan sejenak langkahmu
Samakan dengan langkahku
Begitu bus berhenti, aku segera berhambur turun dan berlari menuju depan peron terminal. Kupencet tombol redial di HP-ku. Langsung diangkat.. “Aku sampai” aku menyela sebelum orang diseberang sana bicara. “hampir telat” katanya. “tapi aku tidak telat kali ini” jawabku bangga terlebih lega. “Tak semudah itu, kau harus lebih baik dari itu” katanya, “Maksudmu?” tanyaku mulai tak sabar dan mulai marah. “Sabar..bukankah kita sudah sepakat?” tanyanya tak memerlukan jawaban. “Kita tak pernah menyepakati apapun” jawabku protes dan emosi. “ Kesepakatan tak harus di ucapkan kan? Dan kau bilang kau harus mendapatkan ini” aku tak tau ini pertanyaan atau pernyataan untukku. “Sudahlah! Katakan saja maumu. Lalu kita selesaikan” kataku hampir berteriak. “Kenapa kau lakukan ini?”tanyanya sedikit rapuh. “Aku tak punya alasan” jawabku. “Kau harus punya” jawabnya tak mau kalah. “ Akan kukatakan kalau kau menemuiku disini. Sekarang!!” aku sangat kesal dan marah, hampir kubanting HP di genggamanaku. Terdengar hening di seberang sana..beberapa saat kami tak saling bicara. Aku mulai menguasai keadaan. Lalu bertanya padanya..”Kenapa?” “Aku tak tahu” jawabnya. “Begini saja…” tut..tut..tut… nada terputus. Tak terdengar apapun dari benda sialan ditanganku itu. Kupencet radial lagi. Tak ada nada sambung, yang terdengar hanya rekaman suara menyebalkan operator yang memberi tahu untuk menghubungi nomor itu beberapa saat lagi. Aku mencari sandaran.. lama tatapanku kosong. Lalu kuketik sort message :
Kita sama tahu semua sudah berubah. Kita tak perlu alasan apapun. Aku disini tak kemana. Kembali kesini dan hadapi semua. Kau tahu harus mencariku kemana
Message sent….
-The End-
NB:
-Terinspirasi atas lembar ucapan terima kasih dari novel karangan Tamara Geraldine yang juga pernah kudengar dari seorang sahabatku. “kadang mengejar tujuan adalah dengan jalan berlari pulang” .
-Mungkin aku tak akan menemukan apapun disana, tapi disanalah aku mulai bermimpi..dan berharap disanalah kutemukan sisa mimpi-mimpiku.
-Judul foto –melintasi semesta-

Rabu, 09 Desember 2009

AKU BUKAN KORUPTOR

Pian mau iku lomba mewarnainya ma..”, Fian merengek manja pada mamanya yang pura-pura sibuk membaca surat kabar pagi. “Iya..nanti didaftarin ya sayang” jawab Mamanya mengintip dari balik kertas surat kabar yang hampir menutupi setengah tubuhnya yang mungil. “Asyik!!” Fian berhambur ke mamanya dan mengecup sayang pipi sang Mama. Surat kabar tak lagi berbentuk, kini mereka saling berpeluk.

Dalam sebuah ruangan kantor di suatu gedung tinggi bertingkat…

“Bagaimana Pak? Bukankah ini akan sangat menguntungkan?”
“ Ini Terlalu beresiko Bung..!”
“Ahh..tidak seberat itulah Pak. Ini aman..semua bakal lancar. Bahkan semua pihak tak ada yang bakal merasa dirugikan dalam hal ini pak.”
“Entahlah Bung, saya sangat paham apa yang Bung maksudkan. Tapi…”
“Bapak tak usah khawatir, tak akan nama Bapak terseret jika ini terbongkar kan?”
“Memang..,saya tau..tak ada hitam di atas putih. Tapi saya bakal ikut andil juga meski kecil kan Bung?”
“Bagaimana kalau Bapak bawa dan pelajari berkas ini dulu?”
“Saya…”
Kau auraku..memancarkan…bunyi hand phone dari si Bapak berbunyi, semua terhenyak kaget meski ditutupi. Layaknya ketahuan sedang mencuri cucian tetanggga yang busuk baunya.
~Istriku~ , terpampang pada layar hand phone tersebut.
“Ya..Hallo mama..”
“Iya..ya…maaf ya Ma, Papa gak bisa nganterin…nanti kita cerita di Rumah ya Ma. Papa masih ada rapat.”
“Okey Mama..hati-hati ya..”
Perbincangan basa-basi berlanjut di ruangan itu. Beberapa lama kemudian terlihat si Bapak menerima berkas-berkas dari tangan si Bung. Pertemuan berakhir sore itu.

Di lantai dasar sebuah Mall yang terkenal di kota kecil itu..

“Hayo..sapa yang tau artinya korupsi?” tanya pemandu acara kepada sekitar 43 peserta lomba mewarnai usia 4-6 Th rangka pameran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang namanya melambung tinggi di jagat kekisruhan tanah air saat ini. Sebagian besar peserta lomba mewarnai itu berebut angkat tangan dan berteriak-teriak..”Aku tau..!! Aku tau..!!”. Pemandu acara kesulitan memilih siapa yang ditunjuk, tapi dengan mempergunakan permainan. Maka terpilihlah satu yang menang, dan anak itulah yang menjawab. Dengan polosnya, si anak menjawab “Koryupsiy….alrtinya…mencuryi…kak!!” jawab si kecil yang polos itu. “Ada yang pernah mencuri gak disini?” tanya si pemandu acara kepada forum itu. “Tidak…!!!!” jawab anak-anak itu serempak. “Bagus..,gak boleh mencuri ya.. mencuri apa saja lho ya.. Kalau memang pengen sesuatu bisa minta sama Mama dan Papa..Okey?!” sebagian forum mengangguk..sebagian kecil berteriak “Ok!!” dan sebagian kecil lainnya tampak diam tersipu-sipu..(ahh…tak tau apa yang mereka pikirkan). “Baik adek kecil..sapa namanya dek?” tanya pemandu kepada si anak yang tadi maju ke depan untuk ditanyai. “Pian Kak!” jawan si anak malu-malu. Si pemandu melihat nama peserta yang di pasang di baju si anak..”Ooo…Fian…, karena Fian sudah bisa menjawab pertanyaan kakak. Fian dapat hadiah.. Selamat ya Fian…” “Terima kasih kak…” Fian menerima hadiah girang dan bangga. “Fian kok pinter banget sih sampai tahu artinya korupsi? Kalo boleh kakak tahu sapa yang ngajarin?” sambil melirik memandang mamanya, fian menjawab “Mama…” katanya malu-malu sambil menunjuk mamanya. “Wah..Mama nya Fian pinter donk berarti…” “Iyah..,waktu liat tipi..Fian nanya sama Mama..” “Ooo…begitu..” para penonton tersenyum gemas. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan permainan dan pengumuman hasil pemenang lomba mewarnai. Meski tak menang, hari itu..Fian masih mendapat bingkisan dari panitia dan telah membuat bangga Mamanya. Dan memberikan pelajaran berharga bagi sebagian yang lain.

Di rumah..

“Tadi bagaimana acaranya Ma?” Tanya Papa. “Acaranya seru Pa, Ada permainannya untuk orang dewasa juga. Setiap permainan dapat gift yang lucu” “Mama ikut juga gitu?” “Mama ikut-ikutan aja Pa.. yang nglempar panah itu..” “ Fian gimana Ma?”, mama Cuma tersenyum dan melirik sang anak yang sedang sibuk bermain dengan mobil-mobilan di pojok ruangan. “Gak menang Pa.., hahaha..” “oo…gitu, gapapa kan tapi dia?” “Tuh liat sendiri..Mama liat baek-baek aja” “Baguslah kalo gitu”. Masing-masing kemudian sibuk dengan fikiran masing-masing. Beberapa menit kemudian Papa pergi ke ruang makan tapi tak lama kemudian kembali lagi. “Mama..,mama lihat camilan yang kemaren Papa taruh di Toples ndak Ma?” “Yang mana Pa?” jawab mama mengingat-ingat. “Fian..,dek..liat cemilan Papa di meja makan ndak?” tanya Papa pada Fian. “ Enggak Papa..Pian kan bukan koryuptor” jawab Fian menggemaskan acuh tak acuh sambil membenarkan roda mobil-mobilannya yang lepas. Pama dan Mama saling berpandangan dan kemudian tertawa keras bersamaan. “Pintar sekali anakmu itu Ma” kata Mama pada istrinya. “Anak siapa dulu…” jawab Mama membanggakan diri. “Kok korupsi sih Fian? Papa kan nanya kue..barangkali saja Fian makan..” Kata Papa kemudian pada Fian. “ Kalo ngambil gak ijin Mama kan namanya menculi Pah..Menculi kan sama kayak koryupsi.., iya kan Ma?” tanya Fian bingung. Mama menghampiri Fian dan mengecup kening sang anak..sambil berkata “Benerr..sayang..Fian pinter deh” Papa tampak tertegun, memegangi perutnya yang kini terasa melilit. “Papa lapar ya? Kayaknya kue itu udah Mama kasihkan si Narti Pa.., kemaren ada temennya main kesini. Maaf ya Pa?” “oo..gitu, Nggak papa Ma..tadi teringat saja kue itu.Papa pikir daripada gak kemakan mau Papa makan. Papa istirahat dulu kalo gitu Ma.. Besok harus berangkat pagi” “Iya Pa..Mama mau menidurkan Fian dulu. Ayo sayang.. Udah waktunya tidur” Papa bergegas ke kamar tidur..Tak segera dia bisa terlelap. Lama dia berfikir, lalu tersenyum dan mulai memejamkan mata.

Kesokan hari di kantor yang sama…

Terlihat perbincangan serius atara Bapak dan si Bung yang kemaren sore juga berbincang di tempat yang sama. Lama sekali mereka berdiskusi, tampak agak berdebat. “Saya sudah mengambil keputusan Bung..Saya katakan untuk terakhir kalinya pada anda..” “Tapi Pak..” si Bung menyela.. “Tidak Bung anda yang harus dengarkan saya. SAYA BUKAN KORUPTOR! Sebaiknya bung segera pergi dari kantor saya” tampak si Bung tersinggung dan pergi dengan muka merah karena amarah.

NB:
-Terinspirasi saat melihat pameran KPK kira-kira 3 minggu yang lalu.Cerpennya setengah jadi minggu lalu. Diselesaikan malam ini.. Fa dapat hadiah banyak lho..waktu ikut permainannya. Hohohoho…(pake kaca item bergaya :p)
- Foto..itu salah satu gift yang Fa dapet waktu liat pameran.
-Gak bermaksuf dipas-pasin dengan Hari Anti Korupsi..taunya juga tadi baca status temen di FB.. tapi.. Mulai katakan pada diri.. “Saya Bukan Koruptor”.

----------SELAMAT HARI ANTI KORUPSI!!!----------------

Selasa, 01 Desember 2009

“IKUTI JALAN TUHAN”



Sungguh jalan Tuhan sangat tak terduga. Pembuat skenario Maha Sempurna. Tak sampai akal ini akan menjangkaunya. Jika kau tanya keajaiban mana keajaiban Tuhan, mungkin ini salah satunya..


Dan saat aku berenggan-enggan melakukan sekaga macam persiapan pendaftaran, sahabat-sahabatku dengan tanpa pamrih dan tak hitung untung rugi,menguruskan semuanya. Lina dan Ratna, merekalah pahlawan tanpa tanda jasaku dalam hal ini. Saat Lina berteriak-teriak di kupingku untuk segera ngurus berkas pendaftaran..aku malah “mancal slimut” kalo orang jawa bilang alias menarik selimut dan tidur membiarkan dia ngomel. Semua diurus dia, afdruk foto, materai, sampai pada kertas lamaran, bolpoint dsb. Formulir, map dibelikan Ratna.. Lengkap..dikirim deh..by Kantor Pos Malang oleh Ratna juga. Hanya Gusti Pangeran yang bisa membalas kebaikan kalian Sahabat..


Sampai waktu ujian, Lina juga masih memompa semangatku..mengantarku sampai tempat ujian. Dan di tempat ujian..saat semua sangat bersemangat dan penuh harap. Ini lah yang aku lakukan..menulis di buku kecil..sebuah “notebook” dalam artian sebenarnya. Buku kecil yang sering aku menyebutnya “Pra Diary”. Dan inilah yang kutulis…

21 November ‘09

@ Gedung Sasana Budaya UM Malang

Lihatlah semua wajah-wajah ini. Ada yang penuh semangat membuka latihan soal-soal. Ada yang reuni dengan teman-teman semasa kuliah. Ada yang bertelepon dengan entahlah..karena reaksinya berbeda-beda. Dan aku sendiri?? Aku Cuma ingin mengamati mereka dan kutulis disini. He..he..kek gak niat aja ya ikut ujian CPNS ini?
Bagaimana ya..bukan seperti itu. Klo gak niat mah gak mungkin nyampe sini toh? Aku lebih suka menyebutnya,,”pasrah” (lempar batu sungai aja orang macam aku nich..!!). hati gw…(ahh..susah kali aku menjelaskannya). Aku malah membayangkan saat ini duduk di meja menghadap layer computer dan menulis cerita dari salah satu dari sekian peserta ujian disini. Kiaks!! Lebih asyik!! Lebih..mmm..”AKU”.
Percayalah..jika ada keajaiban terjadi nanti, itu hanya karena harapan, restu dan do’a Ibuku juga Do’a kakak-kakak aku. Hahaha…sebaiknya yang lain saja,mereka lebih berhak..karena mereka lebih berharap.
So..it’s me.

(-Tanpa skenario-)

Bukan aku tak bersyukur atas karunia Allah, tapi bingung benar-benar melandaku laksana disuruh memilih jalan. Seakan Tuhan memberi penegasan : “Pilih!!”. Tapi lihatlah senyum Ibuku..Tangis haru kakak-ku yang menelepon dari Mina. Tentang betapa kakakku ini telah sungguh berdo’a di Arofah agar aku ketrima PNS dan agar aku bisa jadi penulis seperti yang kuminta agar dia do’akan untukku. Masihkan aku ragu??? Bantuan untuk mengurus kelengkapan yang luar biasa tak kuasa aku membalasnya (Thape-Udin- tuh namamu kesebut Bro, no 1 lagi..wkwkwkwk..) dan mas Agus, kalian Pahlawan cui.. Nasehat beberapa sahabat (Lina, Ratna, Galih, Indah,Dhinik, Febri), dukungan berupa tenaga, juga semangat dari yang lain (Ella, Andra, Mas Dofi’, Bagus, Vidi, Bang Er, Naila –Betty-, Mbak Layla,.. semua (duh banyak banget sih..Alhamdulillah)…maaf tak disebutin satu-satu). Dan juga dukungan teman-teman kerja yang luar biasa.. Partnerku Henny..yang mengatakan padaku “Ikuti Jalan Tuhan ceng..” thx for all, I love u ceng... don’t cry for me..(haduh..fafa lebay duech) and smile ceng.. And you know ceng? You are special, that’s true.. and don’t hear what people says.. untuk ketiga Asistan ku Wahyu, Vinda dan Sulis.. sayang banget sama kalian. Mbak Yovi, Pak Yan, Mbak Desi, Ellya, Mbak Metty, Mbak Nina, Mbak Indah..Atas semua-mua.. untuk assistant chemical.. (hahaha…hamper gak kesebut) dan Untuk semua teman-teman departemen lain yang ngasih selamat (Kak Ika, Pak Muslimin, Mbak Ani, Pak Pahda, Pak Yonathan..waduh buanyak banget pokok-e..semua deh,…). Dan untuk Manager-ku Giovanni Sanjaya, ..untuk ilmu, dan pelajaran hidup yang sangat berharga.

Fa belum ingin mengucapkan selamat tinggal..Hanya ingin toreh kenangan indah sisa-sisa waktu bersama kalian Guys.. Ini Masih ucapan terima Kasih.. dan teringat kata-kataku sendiri pada Lina sewaktu itu.. “Jika nanti terjadi keajaiban aku diterima Cece.. berarti Allah yang memilihkan jalan untukku”. Aku percaya..takkan ada yang sia-sia.
Perjalanan belum usai. Usaha belum sampai..

Ayah..dengarkan.. “Kumampu penuhi maumu”, Mas Alek..”Ini aku, Adikmu” Nyoe,..andai kau disini..mungkin ini yang akan kau katakan (selalu seperti dulu) : “Hanya ada satu kata nduk, LAWAN!!!




NB:
- Makasih Ibu..
- Makasih Kakak-kakak ku..
- Makasih semua
- Untuk para penikmat cerpen..maaf, ditangguhkan dulu karena kejadian ini, atas dukungan lewat sms, telpon dan komen yang memacu untuk terus menulis.. thx..
- Untuk yang bertanya..”Blog mu itu Diary, Curhat, ato Tulisan sih?” maka..aku hanya bisa menjawab.. “aathena adalah negeriku
- Judul Foto “My Pra Diary”, Tulisan tanganku emang jelek..jadi jangan komentar.

Selasa, 24 November 2009

“Kuambil 7 Kesedihanmu dengan 7 Nada”


Waktu sudah menjelang petang saat aku meninggalkan kantorku sore itu. Hanya tinggal beberapa orang yang masih menyelesaikan sisa kerjanya. Aku sendiri sengaja pulang telat, menunggu waktu maghrib agar sekalian aku tunaikan kewajibanku sebelum aku kehilangan waktuku di jalan. Kulangkahkan kakiku gontai di pinggiran kota yang terlihat usang. Beberapa orang yang mengenalku bertegur sapa kepadaku dan kubalas seramah mungkin. Aku harap senyumku masih terasa tulus pada hati mereka. Sesaat langkahku berhenti saat sampai di persimpangan jalan. Kuamati wajah-wajah muda yang mengatasnamakan “ekspresi jiwa” sedang berlalu lalang dan bergerombol di salah satu sudut jalan. Pakaian serba hitam, anting yang berderet, dandanan yang khas dan penuh pernak-pernikdan sedikit terlihat gothic. Aku tersenyum kecil, karena terlintas sebentar dalam pikiran konyol agar bisa mengambil beberapa foto bersama mereka. Ahh..,tapi nanti malah disangka aku menyinggung mereka. Lalu pandanganku beralih ke rambu jalan, maksud hati ingin memperhatikan lampu traffic untuk menyeberang. Akan tetapi pandanganku teralih oleh penunjuk arah kemana kota yang akan dituju di masing-masing arah jalan dipersimpangan itu. Ada tiga nama kota.., kali ini aku terpana. Ketiga nama kota yang entah kenapa masuk meresap pada pikiranku. Kuhela nafas dalam, lalu menhampiri halte bus.

Jam pulang kantor memang sudah lewat, jadi aku dapat bus yang aku dapat agak lengang. Akupun leluasa memilih tempat duduk. Dan kujatuhkan pilihan pada dua bangku kosong sebelah kiri di bagian belakang. Kuhempaskan tubuhku, dan kupandangi lampu-lampu disepanjang jalan lewat kaca. 15 menit kemudian bus mulai memasuki jalan yang mendaki karena hendak melewati sebuah jembatan yang cukup tinggi. Pemandangan berganti layak sebuah lukisan. Laksana bintang yang ditaburkan pada hamparan dedaunan di hutan. “Subhanallah..”, takjub selalu aku setiap kali melihat pemandangan ini.

Hari sudah gelap saat bus berhenti di sebuah pasar yang cukup ramai untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. Sekelompok pengamen jalanan yang aku dan mungkin mereka sendiri lebih suka menyebut diri mereka “seniman jalanan” ikut naik bersama beberapa penumpang baru. Sering aku berpapasan dengan mereka saat berangkat atau pulang kerja. Dan dari pengamatan pula aku bilang mereka seniman jalanan. Bukan pengemis yang bernyanyi sumbang tanpa memperhatikan seni. Mungkin mereka sebenarnya tak peduli mereka dibayar atau tidak asalkan suara mereka didengar. Sebuah ketipung, dua buah gitar, sebuah biola, serta suara merdu tinggi agak serak semacam suara Ipang. Perpaduan yang klasik menurutku.., sangat akustik. Ada yang memandang sinis, ada yang buru-buru menyiapkan uang receh, ada yang tak sabar menantikan mereka beraksi..lalu aku sendiri..masih terbawa dengan ketiga nama kota yang kulihat dipersimpangan jalan tadi, melemparkan pandangan keluar lewat kaca. Sedangkan yang terlihat kini hanya hitam dan pantulan bayanganku sendiri.

Sebuah lagu dinyanyikan, tentang kota tua..tentang kota kenangan..tentang masa lalu. Aku tertunduk.., mulutku lamat-lamat ikut bernyanyi dan mendendangkan musik yang mereka nyanyikan. Aku trenyuh..hatiku goyah, aku laksana kapal karam. Lalu mereka menyanyikan lagu kedua, kali ini tentang cinta, tentang harapan yang tak pasti. Aku tak kuasa..kali ini menetes air mataku, semakin kutundukkan mukaku. Tak boleh ada yang tau.. tapi sebelum lagu itu selesai musik berhenti, tiba-tiba sunyi..semua bingung, begitu juga aku. Kualihkan pandangan mataku ke para seniman jalanan ini. Tak kusangka, wajah mereka menatapku semua. Seakan menanti reaksiku, ku ajukan pandangan mata bertanya “knapa?” tapi tanpa keluar suara. Sang vokalis yang sekaligus pegang gitar tersenyum.. “Ssssttt…dengar”, ketipung mulai berdendang..diikuti suara gitar..irama menghentak riang. Biola laksana penari balet yang sedang meloncat girang. Sebuah lagu yang tak kukenal.. tak juga kuingat apa syairnya. Tapi mungkin sedikit kuingat isinya. “Tentang gadis berkerudung merah, tentang senyum yang dia lihat sore kemaren. Tentang sapaan ramah saat berjumpa. Tentang semangat mereka ingin mengenalnya. Tentang keindahan dunia. Tentang sebuah do’a. Tentang keyakinan akan datangnya kebahagiaan.” Lagu yang menyenangkan, aku tersenyum sambil manggut-manggut mengikuti nada. Kupandang sekelilingku..kulihat beberapa pasang mata memandangku. Aku bingung, seorang ibu-ibu tersenyum kearahku. Seorang gadis cantik cemberut kearahku. Seorang lelaki muda malu-malu memandangku. Tiba-tiba aku tersadar..kutatap mata sang vokalis.., dia cuek saja. Tapi teman-temannya mulai tersenyum dan tertawa. Akhirnya kami semua tertawa, karena hanya aku yang berkerudung merah di bus itu. Diakhir lagu kulamatkan sebuah kata pada mereka, “thx..” mereka mengangguk lalu menghampiriku. Tempat lengang dalam bus membuat mereka luluasa untuk duduk bergerombol mendekatiku. Takut..tentu itu reaksi pertamaku. Sampai kudengar tutur santun mereka. Aku lebih merasa aman dari pada sendiri. “Untukmu”, kata sang vokalis sekaligus gitaris itu. Aku hanya tersenyum dan tertawa. “Kalian bisa saja! Turun mana?” Tanya ku.. “Halte berikutnya, kau masih sedih?” Tanya sang vokalis lagi.., teman-temannya nimbrung ber haaa…huuu..sambil cekikikan. “Thx..” hanya itu yang kuucapkan. “Kalo kau masih sedih, biar kuambil sekarang 7 kesedihan mu dengan 7 nada. Kusimpan dalam tabung gitarku ini”, katanya sambil menunjukkan lubang di gitarnya. Aku tertawa bersama yang lain. Lalu dia berlagak konyol..seperti menangkap kupu-kupu, lalu berlagak menangkap lalat..dan juga berlagak menembak burung. 7 kali dia beraksi konyol..sambil setiap seakan setelah menangkap sesuatu disekitarku dia seperti memasukkan sesuatu pula ke lubang gitarnya, kami tertawa cekikikan sampai terjungkal-jungkal. Lalu kenek bus meneriakkan nama pemberhentian berikutnya. Bergegas mereka menuju pintu belakang bus yang tak jauh dari tempat dudukku. “Hati-hati” kata dua orang diantara mereka, hamper bersamaan. “Yups..,sma-sama” jawabku. “Hei!! Knapa hanya 7 kesedihan ku? Dan kenapa hanya 7 nada?” tanyaku pada sang vokalis yang berambut nyentrik itu. “Karena setelah nada ke-7..akan kembali lagi ke nada pertama. Begitu seterusnya, kau tak akan sadar, kesedihanmu akan hilang saat kau berhenti bernyanyi.” Katanya menoleh padaku. Lalu melenggang turun dari bus bersama teman-temannya.

Sampai aku hempaskan tubuhku di tempat tidur..kurenungi kata-katanya. Lalu aku mengerti.. “do-re-mi-fa-so-la-si.. lalu kembali ke do” aku tersenyum..lalu merapatkan selimutku berdo’a. Untukku sendiri, untuk Bunda dan Ayahku, dan untuk orang-orang yang kusayangi. Semoga bisa kulebur duka mereka dengan 7 nada dariku.

_Based on True Story_

NB:
- Terima kasih kepada pengamen antara Purwosari-Malang PP yang memberi inspirasi. Karena yang memberi kata-kata “Kuambil 7 kesedihanmu dengan 7 Nada” dengan yang menyanyikan lagu khusus buatku sebenarnya bukan satu pengamen yang sama. Hanya demi cerita,semoga kalian mengerti teman.
- Aku gak pernah bertemu lagi dengan pengamen yang mengatakan kata-kata ajaib itu padaku, but You’re Rock Man!!!
- Buat seniman jalanan yang menyanyikan sebuah lagu khusus buatku kapan hari..”So sweet…” kalian benar2 seniman!!
- Aku bingung nich dikasih label cerpen ato apa ya??? Tapi Karena emang niatnya fa pengen cerita. Dan gak lebih dari 2 halaman A4, jadi kasih label cerita aja ya?? Masih termasuk “Cerita Puendek” kan??? Huhuhu…
- Foto hanya ilustrasi.., tapi ini pengamen suaranya mirip2 Ipang loh…

Sabtu, 21 November 2009


Malang, 21 November 2009

Surat untuk kakak tersayang..

Dear kakak,
Aku tau.. hari ini seharusnya aku menemuimu. Tapi aku tak kuasa menolak takdir. Harus kuredam rasa rindu ini, demi kewajiban dan sebuah amanah. Bukankah kakak sendiri yang bilang, kita harus percaya pada mimpi?? Bahwa kita harus jadi orang yang dapat dipercaya? Hari ini..dimana sebenarnya bisa saja aku berlari menuju kearahmu. Dimana bisa kudengar nyata suaramu, aku menolaknya. Walau hatiku perih dan kalut. Aku percaya, kaupun juga tak inginkan aku seperti itu.
Pun demi Bundaku tercinta, dimana telah kukatan niatku datang kekota ini dulu. Dan kini aku berusaha untuk tak khianati do’anya untukku.
Kakak.., seandainya kau baca surat ini. Dengarkan aku sekali saja..Meski hanya melihatmu dari jauh. Meski bahkan kau tak tau aku ada. Kau harus tahu..aku ingin bertemu. Aku yakin Allah akan memberikan waktu dan pertemuan yang lebih indah untukku. Dan aku juga yakin, kakak akan tersenyum bahagia membaca surat ini. Karena dukunganku padamu tak pernah dikalahkan jarak dan waktu.

Wassalamu’alaikum..Warrohmah…Wabarokah…

Fa-



NB buat para blogger yang baca:

1. Ini hanya gurauan semata…refresh sebentar agar nulis ceritanya berdistribusi normal (**kaburr…, takut ditimpuki para statistikawan sejati )
2. Jangan ketawa buat yang tau siapa tokoh kakak dalam surat ini, sssttttaaaahhh…..ngeri kan?? (hahaha…ketawa-ketiwi sampe guling-guling)
3. Bos gw marah2 mulu dari kemaren?? Ckckckc…bozzz…sabar…saya hadir kok. Mau jajan? Nich..”cekeremes..” lumayan, ganjal peyut yang gak keisi dari pagi. Tapi satu jumput aja buat bos.. :p